
Rinjani mengelus perutnya yang semakin membuncit setelah menyelesaikan makan siang dengan menu gudeg spesial buatan ibu, gudeg pedes. Sudah hari ke empat mereka di Jogja, namun Rinjani belum bisa move on dari masakan ibu. Padahal sebelumnya dia sangat ingin mencoba makanan dekat kampus sembari mengingat masa-masa Rinjani dan Radit menjalani bangku kuliah.
"Tidak terbantahkan kalau kalian anaknya ayah" gumam Rinjani tersenyum merasakan gerakan kandungannya "senang habis makan gudeg"
"Iya emang anakku" sahut Radit meletakkan irisan buah di depan istrinya "ini ayah nak" lanjutnya mengelus perut Rinjani
Rinjani tersenyum melihat kelakuan suaminya, pria yang penuh kelembutan sejak pertama kenal hingga sekarang mengandung buah cintanya, Radit tidak pernah sekali pun menaikkan intonasi suaranya di depan Rinjani. Kamu akan jadi ayah yang hebat, batinnya
"Suami, aku lagi berpikir jika baiknya melahirkan si kembar di Jogja saja" kata Rinjani melingkarkan tangannya ke lengan Radit
"Kamu yakin sayang? Katakan padaku apa alasannya" kata Radit dengan suara bergetar bahagia dengan perkataan istrinya
"Demi orang tua kita, lihat ibu dan bapak betapa antusiasnya melihatku hamil. Ibu merencanakan akan bikin acara 7 bulanan. Mama dan papa juga mau datang lusa, dan aku ingin si kembar kayak ayah yah nak, lahir di bumi Jogja"
"Terima kasih sayang, kamu sungguh bisa mengerti dengan keinginan semua orang" kata Radit mencium kening Rinjani "kalau begitu rumah di Bali kita renovasi yah? Karena istriku yang perhitungan ini tidak mau pindah, jika kita sudah kembali orang tua pastinya akan lebih sering berkunjung. Bukan untuk melihat kita, tapi cucu-cucu mereka" kekeh Radit sambil mencium pipi Rinjani
"Tiga kamar amannya" gumam Rinjani, sembari memikirkan RRWardhana "rumah mode gimana yah?"
"Lancar kan sayang, kliennya.."
"Iyah sih"
"Jangan pernah berpikir menutup RRWardhana, ada pegawai yang bergantung kehidupannya sama kamu sayang" kata Radit menatap dalam Rinjani penuh cinta
"Iyah betul, toh belum ada klien minta gaun couture kok" kata Rinjani "berarti kita membeli lagi perlengkapan baby" lanjutnya terkekeh, padahal perlengkapan bayi yang mereka beli di Jakarta telah sampai di Bali
"Kecil itu sayang, ayah kuat nak kalau shopping" bisik Radit ke perut Rinjani, kesukaan tiap saat suaminya adalah mengobrol dengan si kembar
"Dari dulu, sejak jaman kuliah. Aku sampai heran, kenapa seorang cowok bisa sesuka itu berbelanja"
"Demi mengulur waktu, untuk bisa lama bersamamu" balas Radit tertawa "kalau aku sendiri belanja seperti umumnya cowok, lihat suka coba bayar"
"Segitunya kamu dengan aku dulu"
"Menurut sayangku apa?" Ujar Radit menggelitik pinggang istrinya "karena aku jatuh cinta, mencintaimu, mencari waktu untuk bersama dan melihatmu tertawa saja sudah membuat satu hariku berwarna"
...
"Rinjani" pekik Widya ketika melihat Rinjani dan Radit di depan pintu rumahnya
"Kamu lupa aku pow?" Sungut Radit
"Aku lebih cinta Rinjani, lagian cintamu diborong ke bumil cantik ini" protes Widya memeluk Rinjani "sehat-sehat kan nak? Mamamu wanita tangguh dan kuat" lanjut sahabatnya itu mengelus lembut perut Rinjani
"Diraya Saylendra ngapain?" Tanya Rinjani, Widya juga sudah melahirkan bayi laki-laki sebulan lalu
"Bobo mami Rinjani, ayo masuk" kata Widya menggenggam jemari Rinjani
"Aku lupa kadonya di mobil"
"Om Radit tidak usah repot, macam kita apa saja loh" kilah Widya tersenyum lebar
"Wajib, sekarang kita memasuki fase mamak-mamak, sebuah kado kecil sangat berarti dan menyenangkan" tawa Rinjani melihat tampilan sahabatnya yang mengenakan daster, benar mereka di fase ibu-ibu muda
"Lihatlah modelku sayang, membengkak dua kali lipat dari jaman aku gadis. Dan lihat kamu Rinjani, yang besar cuma perutmu saja" gerutu Widya membandingkan tubuhnya
"Si kembar gak makan gorengan" kekeh Rinjani "alo Dira, ini mami Rinjani" sapanya melihat bayi cakep montok tertidur dengan damainya
__ADS_1
"Ini kado dari adek kembar yah mas Dira" sahut Radit meletakkan stroller bayi berwarna hitam dengan pita berwarna biru
"Makasih banyak om dan mami" balas Widya
"Dia mirip kamu sayang, papanya gak kebagian" gumam Rinjani mengelus pipi Dira dengan puncak jari telunjuknya
"Semua orang bilang begitu, hahahaa. Bagaimana jika anak kita kelak dijodohkan?" Usul Widya dengan mata berbinar minta persetujuan kedua sahabatnya
"Wushhh... Mas Dira jadi pelindung adek yah nak, bantu om jagain" balas Radit cepat tidak menyetujui
"Kalian itu, belum apa-apa. Gimana mau jadi besanan"
"Daripada diambil orang lain, mending sesama kita. Sampai tua kita saling berhubungan, besanan"
"Hahaha.. pikiranmu tuh Wid, benar-benar berubah" tawa terbahak-bahak Radit menatap Widya yang penuh semangat dengan ide perjodohan anak mereka
"Sayanggg... Nanti klo anak kita dah berapa bulan yuk kita ke Korea Selatan operasi gitu, memperbaiki body" sungut Widya menyandarkan kepalanya di bahu Rinjani
"Olahraga Wid... Jangan makan mulu" kata Radit menasehati sahabatnya yang semakin aneh
"Cihh... Aku tahu kamu bisa menerima Rinjani dalam model apapun, tapi entah suamiku gimana" gerutu Widya lagi membuat Rinjani dan Radit tertawa
"Tua dan menjadi penggerutu, suamimu akan kabur kalau kamu tidak merubah sikapmu itu" kata Radit masih terkekeh
"Emangnya Rinjani tidak?"
"Gak kan sayang?" Tanya Rinjani menatap suaminya
"Dia manja dan penuh cinta" jawab Radit mendekati istrinya dan mengecup lembut kening Rinjani
Rinjani tersenyum lebar menatap dalam suaminya, dia tak sabar juga menanti kehadiran si kembar di kehidupan mereka berdua.
...
Hari berlalu lebih cepat, perut Rinjani semakin membesar dan sisa dua minggu jadwal yang diberikan dokter untuk proses operasi caesar, Radit terlihat sangat khawatir namun tak menampakkan kepada Rinjani. Dia sangat mengharapkan kehadiran anak kembar mereka, tapi Rinjanilah yang paling penting.
Radit lebih memperbanyak ibadah tengah malam dan berpuasa, karena hanya satu yang bisa menjawab kerisauannya, Tuhan. Radit juga ikut kelas yoga untuk ibu hamil sekalian menemani Rinjani, dia tak melepaskan pandangannya sedikitpun dari istrinya.
"Gak usaha risau nak" kata Ibu Arum melihat anaknya sedang duduk termenung di beranda depan "mana istrimu?"
"Rinjani tidur bu. Tapi ini bayi kembar, Aku takut" kata Radit menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca
"Tenanglah nak, teknologi kedokteran sudah semakin canggih. Semuanya pasti akan baik-baik saja" kata Ibu meraih tangan Radit dan menggenggamnya erat
Radit home ππ»
...
"Aku akan ada menemanimu saat operasi dan menunggumu...jadi tenang saja yah sayang" kata Radit memeluk tubuh Rinjani sesaat naik di kursi roda pasien
"Iya... Raditya Bayuaji Girindrawardhana aku mencintaimu" bisik Rinjani di telinga suaminya dengan pelan
"Aku mencintaimu lebih Aul, semua akan cepat selesai"
Rinjani mengangguk mengiyakan
__ADS_1
"Saatnya yah bu" kata suster mendorong kursi roda Rinjani menuju ruang operasi
...
Dua bayi perempuan cantik lahir dengan selamat, menangis bersahut-sahutan beberapa saat setelah merasakan udara di bumi. Radit yang di dalam ruang operasi menyaksikan semua proses menangis tersedu sedan, suster kemudian memberikan bayi pertama ke pelukan Radit
"Kakak, ini ayah. Selamat datang di bumi. Tunggulah sebentar ketemu ibu" kata Radit melirik tubuh Rinjani yang masih dalam penanganan dokter
Radit kemudian mendekat ke si adek yang masih dibersihkan oleh suster, dia menarik senyuman penuh bahagia. Dia menunggu untuk memamerkan kepada ke empat orang tua mereka yang menunggu di luar, Radit yakin semua orang bisa mendengar tangisan si kembar.
...
"Mirip kamu nak" gumam mama sambil merangkul lengan Radit "matanya saja mirip Rinjani" kekeh Diana Damopoli dengan mata berkaca-kaca
Mereka harus puas melihat kedua bayi mereka masih dibalik kaca ruangan bayi
"Itu kakak ma, yang namanya Aura Lika Girindrawardhana, yang kanan adek namanya Aurora Kila Girindrawardhana" kata Radit menjelaskan siapa yang duluan lahir
"Namanya cantik nak. Mama gak sabar mau menggendong mereka" kata Diana Damopoli menaikkan tangannya di dinding kaca "pa, cucu-cucumu cantik kan, mereka mengambil bola matamu?" Lanjutnya tertawa bahagia melirik suaminya yang sembunyi-sembunyi menghapus air mata
Ibu dan Bapak sendiri lebih banyak diam, mereka terpaku melihat tiap gerakan cucu mereka, Radit tersenyum merekah melihat para orang tua, tidak ada kebahagiaan melebihi ini melihat orang tua berbahagia.
...
Radit memandangi Rinjani yang masih terlelap dalam tidur pasca operasi, istrinya hanya sempat mencium bayi kembar mereka. Rinjani terlihat lelah, mungkin lebih ke mentalnya yang drop ketimbang fisiknya. Sama seperti Radit, beberapa hari terakhir dia kurang tidur, namun sekarang dia sedikit lebih lega.
"Sayang...." Gumam Radit meraih jemari Rinjani dalam genggamannya "terima kasih anak-anak kita lahir dengan sempurna" lanjutnya kemudian mengecup puncak tangan istrinya
Rinjani kekasihku, ibu dari anak-anakku batin Radit lalu membaringkan kepalanya di tepian tempat tidur istrinya, dia juga sedikit mengantuk. Satu fase telah mereka lewati, Radit sekarang punya tiga wanita kesayangan, Rinjani, Aura Lika dan Aurora Kila.
Lika : Membuktikan kasih orang tua
Kila : Kilau
kedua nama tersebut dari bahasa jawa, Radit sendiri yang memberikan nama untuk kedua putri kecilnya.
###
alo kesayangan π€π»,
aku mengalami kebuntuan alur cerita melanjutkan novel ini...
soalnya gak tega menciptakan drama baru
apakah di antara pembaca ada yang sudah berumah tangga?
konfliknya apa saja sih?
apakah kalian tetap membaca jika author hanya menulis kehidupan bahagia Radit dan Rinjani? βΊοΈ
**love,
D π
21 October 2019
02.36 pm**
__ADS_1