Cinta Luar Biasa

Cinta Luar Biasa
Kehilangan


__ADS_3

"Kamu datang sendiri?" Tanya Radit beberapa saat kemudian


Rinjani hanya mengangguk, Radit menatap heran, dia sudah mencium sesuatu yang tidak beres dari raut wajah Rinjani


"Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa dit"


"Ya sudah, kamu pulanglah. Istirahat.. bawa mobil?"


"Iya" singkat Rinjani


Radit membulatkan kedua matanya tidak percaya, rumah Rinjani yang sekarang butuh sejam untuk sampai di pusat kota.


"besok aku kesini lagi"


"Kasihan kamu Rinjani... kan bisa lewat pesan atau telepon untuk tahu kabarku" ucap Radit dengan khawatir


"Aku mau melihatmu, bukan telepon atau pesan" sanggah Rinjani


"Baiklah" kata Radit sambil menepuk puncak tangan Rinjani. Dia tidak bisa mengalahkan sifat ngotot sahabatnya, selain mengiyakan.


Setelah malam itu Rinjani hanya dua kali membezuk Radit, dan hanya berselang empat hari kemudian Radit memutuskan untuk keluar rumah sakit. Sahabatnya itu seperti telah mencurigai keadaan Rinjani.


...

__ADS_1


Seminggu sudah Rinjani meninggalkan rumah selatan, dia tidak pernah menghubungi suaminya begitu pun sebaliknya. Mungkin mereka berdua gengsi untuk memulai atau mungkin amarah masih menguasai logika.


"Panas" gumam Rinjani sambil meraba keningnya, sejak semalam badannya lemas. Dia harus ke dokter, dengan tenaga tersisa melangkahkan kakinya menuju pintu depan. Baru saja akan memutar kenop pintu, penglihatannya menggelap.


...


"Di mana aku?" Gumam Rinjani saat membuka mata melihat langit-langit putih, kemudian melayangkan pandangan ke samping kiri ada tiang infus.


"Sayang, kamu sudah sadar" kata Widya membelai tangan Rinjani


Rinjani mengalihkan pandangannya ke kanan, ada Widya dengan mata beruari air mata.


"Bagaimana aku bisa sampai di sini?"


"Radit menemukanmu pingsan" kata Widya sambil menghapus air matanya "kalian sepertinya punya kontak batin" lanjutnya mendengus


"Di luar, dia marah.. Dan Rinjani..." Kata Widya menatap kembali berkaca-kaca "kamu keguguran sayang" lanjutnya sambil memeluk Rinjani, meledaklah tangis Widya


Rinjani sama sekali tidak menangis, entah kenapa air matanya tak keluar walau hatinya remuk, dia hanya menatap nanar tembok putih kamarnya.


"Rinjani, kamu tidak mau cerita?" Tanya Widya sambil menggengam tangan sahabatnya


"Tentang apa?" Balas Rinjani dingin


"Ya sudah... kamu mau makan apa? Aku keluar beliin makan. Kata dokter kamu bebas makan apa saja"

__ADS_1


"Nasi padang" singkat Rinjani, sebenarnya cuma makanan itu yang tiba-tiba muncul di pikirannya walau saat itu dia tak lapar sama sekali


Widya berpapasan dengan Radit di pintu, dan mereka saling mengangguk, isyarat pergantian menjaga pasien yang keras kepala. Dia kemudian merogoh tasnya dan mengecek pesan yang dikirimnya tadi, terkirim tanpa balasan.


W : mas Ezra, ini Widya. Rinjani masuk rumah sakit "PR" dia keguguran.


....


Radit menatap dalam Rinjani, kemudian mendudukkan dirinya di tempat tidur.


"Rinjani..." Kata Radit sambil mengengam jemari sahabatnya yang dingin, hatinya sakit melihat sorot mata Rinjani yang kosong, dengan wajah yang pucat.


"Hei Rinjani, jangan melamun" ucap Radit sambil menggoyangkan tangan Rinjani


"Eh, dit..." Rinjani kemudian menatap lekat- lekat wajah Radit "...bekas lukamu sudah terkelupas" ucap Rinjani sambil memegang rahang Radit


"Iya, nanti akan kembali semula kok, itu cuma goresan"


"Tapi merusak wajahmu, kenapa ada cowok punya wajah yang putih dan mulus begini" ucap Rinjani lirih "Kamu masih rutin perawatan dit?"


"Masih donk, nanti kalau kamu sudah kuat kita perawatan bareng yah Aul?" Kata Radit tersenyum berusaha menghibur


Rinjani hanya mengangguk lemah mengiyakan, kemudian kembali merebahkan badannya dan memejamkan mata


Adegan mereka terlihat normal, namun tidak bagi sosok jangkung di luar pintu yang terbuka sedikit. Dengan marah dia membalikkan badan, dan beranjak pergi.

__ADS_1


"Brngsk!!!" Teriak Ezra sambil menendang ban mobilnya sesaat dia sampai di parkiran.


__ADS_2