
Amsterdam, tiga bulan kemudian...
Cetik - cetik... bunyi suara keyboard laptop macintosh berwarna perak ditekan Rinjani ketika membalas email Erwin, satu-satunya penghubung dengan RRWardhana Couture yang tidak di ketahui oleh suaminya. Menurut Erwin setelah Rinjani menghilang, Radit memberikan semua kewenangan kepada Bu Wayan agar rumah mode tetap berjalan. Dan Radit tidak mencurigai jika ada kontak antara Erwin dan Rinjani selama ini.
"Darling.. Aku akan berangkat ke butik, apakah kamu akan mampir nanti?" Sapa Mark sang tuan rumah tempat Rinjani menumpang
"Iya, setelah aku mengerjakan ini dan mencuci pakaianku" jawab Rinjani
"Baby, pakaianmu biar aku cucikan. Toh sisa dimasukkan ke mesin cuci" kata Irvin pasangan Mark
"Tubuhku menjadi malas dengan kebaikan kalian. Aku juga butuh bergerak" tolak Rinjani menatap kedua pria itu bergantian
Kedua pria itu tertawa mendengar perkataan Rinjani dan secara bergiliran mencium pipi wanita paling cantik penghuni apartemen mereka
"See you later darling" kata Mark mengirimkan kiss bye sebelum menutup pintu
Bagaimana Rinjani bisa berakhir tinggal dengan kedua pria itu? Tiga bulan lalu setelah meninggalkan Indonesia dengan perasaan kacau, Rinjani kembali ke London dan mencoba mengabari orang-orang yang dikenalnya. Naomi ternyata telah kembali ke Jepang, dan menikah dengan Kim Tae Ho. Mark satu-satunya yang dekat dengan Rinjani di rumah mode tempat mereka dulu bekerja dulu telah pindah ke Amsterdam dan membuka butik kecil bersama pasangannya, Irvin.
Namun Mark bersikukuh Rinjani harus ke Amsterdam begitu tahu Rinjani di London, dan menahannya untuk tinggal bersama ketimbang Rinjani mencari apartemen lagi. Mereka bahkan tidak meminta biaya sewa kepadanya, membuat Rinjani sangat berutang budi.
"Darling, kamu bisa singgah di Bloemenmark membeli bunga? Yang di rumah sudah 5 hari, kita perlu menggantinya" kata Mark sore itu ketika Rinjani sudah ingin pulang dari butik
"Bunga yang sama?" Tanya Rinjani
"Iya, aku tidak bisa move on dari gladiola dan tulip, tapi tambahkan bunga yang lain yah darling" pinta Mark sambil mengedipkan sebelah matanya
"Baiklah"
Bloemenmark berjarak hanya dua blok dari apartemen mereka, Rinjani sering menghabiskan sore berjalan di kawasan itu. Sejak tinggal dengan mereka, Rinjani juga sedikit mulai bisa merangkai bunga yang diajarkan oleh Irvin.
Bloemenmark 👇🏻
"Wangi" gumam Rinjani sambil menciumi bunga pilihannya yang dipeluknya dengan hati-hati
"Rinjani!" Panggil seseorang yang memegang bahu Rinjani membuatnya kaget dan berbalik
"Hah?!" Suara Rinjani dengan tubuh tersentak ke belakang
"Rinjani! Apa yang kamu lakukan di sini? Aku tadi di flower market sekilas melihatmu, aku pikir mataku salah" kata pria jangkung bersweater warna hitam itu
"Mas Ezra" kata Rinjani sembari mendongak menatap pria yang memandanginya dengan sorot mata berkilat-kilat
"Aku tanya, apa yang kamu lakukan di Amsterdam? Mana Radit?!" Cecar Ezra
Rinjani kemudian tertunduk menatap sneaker warna hitamnya
"Rinjani! Hei.. ada apa?" Tanya Ezra memegang kedua lengan mantan istrinya itu
"Mas Ezra sendiri ngapain di sini?"
"Aku sedang berwisata dengan teman-teman kuliahku kali ini kami sepakat ke Belanda, kamu tinggal di mana?"
"Tidak jauh dari sini" gumam Rinjani pelan
"Aku antar kamu pulang, sini bunganya aku bawakan"
Kedua orang itu kemudian berjalan dengan terdiam menyisiri jalanan yang mulai lengang, hanya beberapa orang yang berpapasan dengan mereka
"Mas mau naik?" Tanya Rinjani sesaat di depan bangunan putih berpintu warna coklat
"Apa boleh?" Tanya balik Ezra yang sebenarnya berharap penuh melihat kehidupan yang dijalani Rinjani, dia perlu tahu juga apa yang terjadi dengan wanita ini
Ezra kemudian mengikuti Rinjani yang nampak kesusahan menaiki tangga
"Bolehkah aku?" Tanya Ezra mengulurkan tangannya setelah mendahului Rinjani
"Thank you" kata Rinjani melengkungkan bibirnya ke atas, matanya pun menyipit ikut tersenyum
Tangan kokoh itu menggenggam jemari rapuh Rinjani membantunya menaiki tangga menuju lantai dua
"Nice apartemen, cool design" gumam Ezra menyapukan pandangannya "temanmu punya selera yang bagus"
"Kamu akan bertemu dengan mereka sebentar lagi" balas Rinjani dengan senyum menyeringai
__ADS_1
Perlahan Ezra menyeruput kopi yang disajikan Rinjani, hatinya ikut menghangat ketika cairan kafein itu membasahi kerongkongannya, dulu wanita ini setiap pagi membuatkannya kopi. Andai bisa memutar waktu, dia pasti takkan menyia-yiakan kesempatan itu.
"Jadi, apa yang terjadi?" Tanya Ezra setelah meletakkan mugnya menatap Rinjani dengan sorot mata dalam
"Well..." Kata Rinjani membalas tatapan Ezra, dan mulai menceritakan detail kejadian tiga bulan yang lalu
Mata Ezra membelalak tak percaya setelah Rinjani mengakhiri curahan hatinya
"Cuma itu? Ckck" kata Ezra sambil berdecak menggelengkan kepalanya "harusnya kamu menunggu suamimu pulang Rinjani, tanya dia baik-baik. Jangan karena hanya perkataan sepihak dari wanita tidak jelas itu kamu langsung terbakar cemburu dan melarikan diri hingga Belanda"
"Tapi..."
"Radit sangat mencintaimu, dia tidak mungkin melakukan hal seperti yang kamu pikirkan" kata Ezra yang merasakan cemburu yang sangat mengakui kenyataan "ini tidak adil buat dia, tolong jangan mengulangi kesalahan yang sama" lanjutnya menatap Rinjani dengan sendu
"Mas Ezra... Tapi aku sudah di sini"
"Aku percaya dia pasti kewalahan mencarimu, atau kembalilah ke Indonesia denganku" usul Ezra mencoba menyakinkan Rinjani yang mulai bimbang
Rinjani baru saja akan membalas perkataan Ezra namun pintu apartemen terbuka
"Darlingggg... Kami pulang, aku membeli chinese food untuk makan malam kita" seru Irvin mengangkat kantongan putih
"Oh my God, siapa pria ini?" Pekik kesenangan Mark mendekati Ezra yang bengong dan shock melihat dua pria melambai langsung mengerubunginya
"Aku mandi dulu yang mas" kekeh Rinjani beranjak dari sofa yang langsung dikuasai oleh Mark dan Irvin
"Jangan tinggalkan aku Rinjani" kata Ezra dengan mata memelas menatap Rinjani yang dibalas tawa lepas wanita itu
"Darling... Apa dia suamimu?" tanya Mark sambil memijit lengan kekar Ezra
Rinjani dan Ezra kemudian saling berpandangan
"Kakak..., Aku kakak sepupu Rinjani" jawab Ezra sedikit terbata
"Iya, dia kakak sepupuku" Kata Rinjani mengiyakan perkataan Ezra
Ketika Rinjani masuk ke dalam kamarnya, Ezra mengetik pesan ke pria yang telah lama tidak dihubunginya
...
Keesokan harinya Ezra meminta Rinjani untuk menemaninya berjalan di seputaran Amsterdam, sembari mencari buah tangan untuk keluarga. Sebenarnya itu hanya modus agar bisa menghabiskan waktu bersama yang mungkin Ezra tak akan dapatkan lagi.
"Capek?" Tanya Ezra dengan lembut melihat Rinjani agak berat bernapas, mukanya memerah
"Sedikit" balas Rinjani mengusap keringat di pelipisnya
"Ayo kita duduk di sana, sambil memesan makanan" kata Ezra menunjuk kafe di pinggir kanal
Rinjani termangu menatap matahari tenggelam dari tempat duduk mereka, kota ini membuatnya jatuh cinta dengan pemandangan dan suasananya, nyaman seperti Yogyakarta.
"Bagaimana dengan kehidupanmu mas?" Tanya Rinjani melirik cincin emas di tangan kanan Ezra
Ezra sedikit kaget dengan pertanyaan Rinjani, sejak pertemuan mereka kemarin dia bahkan lupa dengan statusnya
"Begitulah" balas Ezra bergumam dengan menatap lurus ke arah Rinjani
"Anak?"
"Belum, mungkin belum dikasih" kata Ezra berbohong, dia sebenarnya meminta Natasha menggunakan KB untuk menunda mempunyai keturunan. Dia tidak mencintai istrinya, wanita yang dijodohkan oleh mamanya sendiri. Kehadiran anak akan membuatnya lebih susah untuk menjalani kehidupan, itu juga tidak adil untuk anaknya kelak mendapati ayahnya tidak mencintai ibunya.
"Aku mulai mencintai kota ini" gumam Rinjani sambil menopang dahunya "tenang dan nyaman, seperti Jogja jaman dulu yang dipenuhi sepeda"
"Kamu tidak mendapati Jogja seperti itu Rinjani, aku yang lahir di sana tahu seperti apa jaman dulu, sekarang di mana-mana macet" kata Ezra dengan tersenyum tipis
"Indonesia tidak ada tempat yang seperti ini"
"Andai dulu setelah kita menikah terus pindah ke Eropa mungkin kita tidak akan bercerai" kata Ezra menatap Rinjani dengan sendu, hatinya perih mengucapkan kata itu di depan wanita yang tak pernah lepas dari pikirannya
"Mungkin" jawab Rinjani dengan tersenyum tipis
"Apakah selama kita menikah kamu pernah mencintai aku?" Tanya Ezra yang tidak bisa menahan keinginannya menanyakan salah satu dari beberapa pertanyaan yang menghantuinya
__ADS_1
"Hmmm... Aku selalu total dengan siapapun yang menjadi pasanganku mas, seperti apapun sikapnya kepadaku...., aku pasti berusaha memberikan yang terbaik" jelas Rinjani yang membuat Ezra semakin sendu
"Thank you Rinjani" kata Ezra lalu menyunggingkan senyuman simpul "kita habiskan steak ini, dan aku akan mengantarkanmu pulang. Pesawatku jam 10 malam" kata Ezra melirik jam tangannya yang menunjukkan waktu 6.30 pm
...
Mereka saling berpandangan di depan pintu apartemen, agak berat rasanya bagi Ezra untuk meninggalkan Rinjani namun waktunya telah usai, saatnya dia kembali ke kehidupan nyata yang harus dijalaninya hingga akhir usia.
"Sampai ketemu di Indonesia Rinjani" kata Ezra menaikkan tangannya hendak bersalaman
Rinjani kemudian melangkah mendekat lalu membenamkan wajahnya ke dada mantan suaminya, Ezra yang kaget sekaligus bahagia dengan sikap Rinjani, dia tidak pernah membayangkan bahwa akan mempunyai kesempatan untuk merengkuh tubuh Rinjani lagi.
"Kamu harus kuat Rinjani" gumam Ezra mengusap punggung Rinjani dan mengakhiri pelukan mereka "sampai bertemu lagi cintaku" lanjutnya membatin
"Masuklah" kata Ezra menatap Rinjani dengan dalam
"Safe flight mas" balas Rinjani sebelum menutup pintu
Dengan menarik napas yang sangat panjang, Ezra melangkah menuruni tangga. Di depan pagar seorang pria berjaket hitam sedang bersedekap dengan rambut sedikit awut-awutan melihat kedatangannya
"Dia sudah di atas?" Tanya pria itu sambil menarik ranselnya
"Iya"
"Thank you Bro" kata pria itu menyalami Ezra "by the way, kenapa kamu melakukan ini?"
"Aku menebus kesalahanku di masa lalu" jawab Ezra dengan tersenyum getir"selamat tinggal, aku harus mengejar pesawatku" lanjutnya terkekeh
Pria itu lalu berjalan menuju pintu depan dan melompati setiap dua anak tangga dengan semangat lalu menekan bel pintu yang dimaksudkan Ezra via pesan
"Ada yang kelupaan mas" seru Rinjani sesaat membuka pintu, mulutnya tidak bisa menutup mendapati pria sangat tampan dan tinggi sedang tersenyum jahil di depannya, pria yang mempunyai warna mata sama dengan miliknya
"Halooo anak badung" pria itu menaikkan tangannya lalu melangkah memeluk tubuh Rinjani "ayo kita pulang" lanjutnya menepuk pelan punggung adiknya
Rinjani mengangguk mengiyakan dalam pelukan Keanu.
abang Keanu 👇🏻 tokoh utama novel sebelah
...
Di sisi lain dalam taksi..
Ezra memandangi pemandangan kota Amsterdam untuk terakhir kali, kota yang memberikan makna indah dalam hatinya.
"Rinjani" gumam Ezra dengan mata berkaca-kaca
In another life
I would make you stay
So I don't have to say
You were the one that got away
The one that got away
-katy perry-
###
alo kesayangan...
hmm mau ngomong apa yah?
selamat senin saja deh 🥰
approvenya yang lama, sorry 🙏🏻
mas Radit mana yah? 🤭
love,
__ADS_1
D 😘