
Bu Arum saling bertukar pandangan dengan suaminya mengukir sebuah senyum simpul melihat Rinjani yang lahap menyantap sayur lodeh dan ayam suwir favoritnya. Tidak ada yang berubah dari gadis ini dari sejak 9 tahun lalu pertama kali Radit membawanya, dia masih suka masakan rumahan, sangat sederhana.
"Ibu penasaran Rinjani makan apa saja di London selama ini? Ada sayur lodeh gak?" Tanya Bu Arum
"Ini sayur lodeh pertamaku bu, mungkin hampir tiga tahun. Kebetulan se flat dengan orang Jepang, jadi yah makannya ramen, ramen dikasih sayuran, ramen dikasih nasi" keluh Rinjani yang diikuti gelak tawa orang tua Radit
"Sungguh tidak sehat" gerutu Radit melirik ke Rinjani
"Hei, besok kalian ke Bali jadi tugasmu kasih makan yang bener nak Rinjani" kata ibu Arum menatap anak semata wayangnya
"Itu sih beres bu" balas Radit dengan senyum menyeringai diikuti bapak yang mengacungkan jempol dan tersenyum.
...
Rinjani menelungkup di tempat tidur Radit sambil melihat pria itu sedang packing pakaian untuk besok. Radit terkenal paling rapi jika soal mengorganisir sesuatu, terlihat dari kamarnya pun semua tertata dengan baik.
"Mana kopermu aku mau lihat isinya" kata Radit menyadarkan lamunan Rinjani
"Sekarang?" Tanya Rinjani dengan malas
"Huum"
Dengan gontai Rinjani berjalan menuju kamar paling depan rumah bermodel jawa, tiap kesini dia selalu merasa nyaman dengan suasananya.
"Rinjani, ada buah sudah di kupas bibik di sofa dekat kolam, atau mau diantarkan ke kamar?" Kata Ibu Arum saat melihatnya melintasi ruang tengah
"Gak usah bu, nanti saya ke belakang"
__ADS_1
Rinjani menaruh kopernya di depan Radit dan kemudian duduk di tepian tempat tidur.
"Seperti biasa, asal packing" gerutu Radit melihat isi koper Rinjani "kebaya yang ini gak usah di bawa, tar suruh bibik dry cleaning aja"
"Yang itu pakaian kotor" seru Rinjani saat Radit memegang bungkusan hitam
"Masukin di tempat cucian kotor, biar di cuci bibik juga" ucap Radit menyodorkan bungkusan tadi
"Nanti di Bali kita belanja, bawa seadanya saja" lanjutnya berceloteh Radit sambil memilah pakaian Rinjani "hei, mau kemana kamu?" Tegur Radit melihat Rinjani berjalan keluar
"Hahaha, mau makan buah di belakang, happy packing sayanggggg..." tawa Rinjani meninggalkan Radit, sebenarnya dia paling suka di manja dan di cereweti seperti ini, cuma dia ingat buah kupasnya lebih menggoda
...
"Jambu kristal memang terbaik, buah tropis" gumam Rinjani sambil menguyah pelan menikmati tiap rasa manis yang memenuhi mulutnya
"Packingnya sudah?" Tanya Rinjani sesaat Radit duduk disampingnya
"Makasih dit" ucap Rinjani sambil merangkul lengan Radit, tempat satu-satunya sekarang dia bisa bermanja seperti ini. Dulu juga sih batinnya walau tanpa perasaan seperti sekarang.
"Menurutmu mana yang bagus?" Kata Radit menunjukkan handphonenya, nampak foto berbagai villa di layar
"Semua ada kolam renangnya yah? Ini bagus dit, ada pendoponya di depan. Rumah intinya di belakang dekat kolam renang"
"Kamu suka yang ini?"
"Suka karena ada pendoponya, halamannya juga luas dit"
__ADS_1
"Berarti ini saja" kata Radit melirik Rinjani
"Kalau mahalan sewa yang pake pendopo mending yang ini saja, toh kita cuma berdua" ucap Rinjani menunjuk foto villa bertingkat dua dengan kolam menyatu dengan rumah
"Demi kamu apa saja sayang tapi tetap kembali yang pendopo yah?" kata Radit sambil mengacak halus Rinjani yang bersandar di bahunya
Kedua orang tua Radit tersenyum lebar melihat kemesraan Radit dan Rinjani, mereka menunggu lama untuk melihat ini, setelah bertahun-tahun mengetahui anaknya mencintai sebelah pihak.
"Sepertinya kita tak lama lagi bikin pesta pernikahan ya bu" kata Pak Aji memandang istrinya dengan bahagia
"Iyah pak, semoga.." balas Bu Arum "aku mau telepon jeng Mira, EO pernikahan mas Farid kemarin. Pestanya bagus banget kan pak?"
...
"Hatcchiii"
"Kamu masuk angin?" Tanya Radit
"Kagak, mungkin ada yang ngomongin aku"
"Padahal aku berharap kamu sakit, biar aku kasih service pijitan dan kerokan plus plus" kata Radit dengan senyum menyeringai
"Dalam mimpimu!" Balas Rinjani menusuk pinggang Radit dengan telunjuk
"Hahaha, sakit sayang" ucap Radit kemudian menggenggam tangan Rinjani "Aul...aku tidak sabar untuk tinggal berdua denganmu" lanjutnya menatap sendu Rinjani
"Besok kita sudah tinggal berdua dit"
__ADS_1
"Janji, kamu tidak akan pergi lagi?... Janji untuk tetap disampingku?" Gumam lirih Radit
"Iya, aku janji" kata Rinjani sambil mengatupkan kedua matanya dan mencoba bernapas dengan tenang. Kini dia sadar selama lebih 27 tahun usianya di muka bumi, untuk pertama kali dia merasakan debaran sekencang ini di dadanya.