Cinta Luar Biasa

Cinta Luar Biasa
Ekstra part Cerita Livia 15


__ADS_3


" Apa yang sedang kamu lakukan disini, Zayn ? "


Zayn menautkan kedua alisnya. Dia merasa sangat kesal menghadapi Nadin yang masih marah dengannya. Seharusnya dia yang marah, mengingat akan kelakuan Nadin siang tadi yang berpelukan dengan orang lain didepan umum.


" Apa maksudmu, sayang. ? Tentu saja aku ingin menemui istri dan anakku. ''


" Kau sengaja datang disaat ibu dan ayahku sedang pergi. Benar-benar licik sekali. "


Zayn tersenyum tipis.


" Aku sudah meminta ijin pada mereka. "


Nadin membalas senyuman Zayn dengan senyuman mengejek.


" Hah.. Ibu tidak akan mungkin membiarkanmu untuk datang kemari. Pasti ayah yang melakukan ini. "


Zayn tersenyum simpul. Tepat sekali. Zayn hanya bergumam dalam hatinya. Memang benar begitu adanya. Dia yang meminta ijin pada ayah shen untuk memberikan waktu berdua, agar dia bisa meyakinkan Nadin.


Awalnya ayah shen menolak. Namun setelah Zayn menggunakan Rafa sebagai alasannya. Ayah shen dengan mudahnya berkata baiklah.


Hal itu membuat Zayn bersorak Sorai akan keberhasilannya membujuk sang mertua.


Tanpa menunggu lagi, Nadin segera meninggalkan zayn di ruang tamu setelah tadi para pelayan membawa belanjaannya menuju dapur dan sebagiannya dibawa masuk kedalam kamar nadin. Dia segera melangkahkan kakinya menuju kamar.


Nadin mengangguk kala dirinya berhadapan dengan seorang pelayan yang membungkuk hormat padanya untuk berpamitan keluar dari kamar. Dia baru saja menaruh barang belanjaan Nadin di dalam tadi.


" Hah.. Semakin kesini, dia semakin berani saja."


Nadin sudah berada di dalam kamarnya. Dia berjalan mendekati box bayi yang berada di dekat tempat tidurnya.


Kini dia memusatkan perhatiannya kearah anak semata wayangnya itu. Pikirannya melayang jauh. Membiarkan dirinya untuk hanyut terbawa oleh bayangan masa lalu.


Sejenak dia mengelus pipi tembem putranya tersebut. Ada rasa sakit saat melihatnya. Rasa sakit yang disebabkan oleh ayahnya.


Seketika itu Nadin meneteskan cairan bening yang selama ini dia simpan. Kali ini perasaannya tidak bisa dibohongi lagi. Sosok Zayn yang kini telah hadir dan mengusik hidupnya kembali membuat dirinya semakin merasa tak berdaya.


Dia tidak pernah tahu apa yang terjadi sebenarnya. Namun dia terlanjur sakit hati. Hingga rasa kecewanya itu menggerogoti hatinya. Bahkan kerinduannya pada sosok suaminya itu tidak dapat menggoyahkan pendiriannya.

__ADS_1


Nadin memejamkan matanya ketika mengingat kalimat itu lagi. Kalimat yang hingga kini dapat membuat hatinya merasa nyeri.


Apa kamu bilang Zayn... tidak ada, lalu anak ini kamu anggap apa..??


Bayangan sosok Livia yang sedang mengandung kala itu masih dapat di ingat dengan jelas oleh Nadin.


Hal itu seakan menjadi momok tersendiri untuk Nadin ketika dia sedang berhadapan dengan Zayn. Ada rasa rindu yang sangat menyiksa batin namun disisi lain ada kekecewaan yang sangat mendalam.


Air matanya menetes tanpa henti. Dia tidak ingin melanjutkan perjalanan hidupnya dengan Zayn. Dia sudah memantapkan hati untuk tidak kembali. Walaupun ayah dan ibunya kini ikut melancarkan aksi Zayn, dia tetap akan menolaknya nanti.


" Hiks hiks hiks "


Nadin merasa sangat tersiksa kala dirinya kembali mengingat akan kenyataan. Rafa pasti akan merindukan sosok ayahnya ketika nanti dia akan benar-benar berpisah. Dia tidak sanggup membayangkan Rafa yang nantinya akan menanyakan banyak hal berhubungan dengan ayahnya.


Siapa ayahku??


Seperti apa dia ??


Sekarang dia ada dimana ??


Kapan dia akan datang ??


Aku merindukannya...


Nadin semakin terguncang. Kala dirinya memikirkan banyak hal yang mungkin akan terjadi.


Bahkan dia tidak menyadari akan kedatangan sosok Zayn yang kini sudah masuk kedalam kamarnya.


Zayn tercengang ketika kedua matanya menangkap sosok wanitanya yang sedang menangis pilu.


Dengan langkah besar Zayn segera menghampiri Nadin.


" Sayang, apa yang terjadi ?? "


Nadin menoleh. Sejenak dia menatap Zayn dengan masih menangis. Zayn segera memeluk Nadin yang semakin menangis histeris.


Sekilas Zay melirik kearah box bayi yang ada disampingnya. Khawatir akan terganggu oleh suara Isak tangis ibunya. Namun dia dapat Menghela nafas lega setelah melihat baby Rafa yang masih tertidur pulas disana.


" Kamu jahat.. "

__ADS_1


" Kamu jahat, Zayn.. " ucapnya sambil memukul dada Zayn.


" Kamu benar-benar jahat "


Zayn semakin mengeratkan pelukannya. Awalnya dia merasa bingung dengan kelakuan Nadin. Namun, kini dia bisa memahami keadaan istrinya itu. Walau dia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Mungkin saat ini dia sedang berada di dalam titik terendahnya. Dimana dia sudah merasa sangat lelah menahan amarahnya. Menahan beban atas kerinduannya yang semakin membuatnya kelimpungan.


Sejenak Zayn merasakan sesuatu hal yang tidak biasa. Dia ikut merasakan kesedihan istrinya itu. Menyadari jika istrinya itu sedang meluapkan emosinya. Kekesalannya. Kekecewaannya.


' Sayang maafkan aku. Maafkan aku yang telah menyakitimu. Aku sungguh tidak berdaya saat melihatmu seperti ini. "


Terdengar suara Isak tangis yang semakin melemah. Zayn masih mendekap tubuh istrinya itu dengan menghujani banyak ciuman dipuncak kepalanya.


" Maafkan aku, sayang "


" jangan menangis lagi !! "


Zayn membiarkan istrinya itu menangis dalam pelukannya. Tidak bisa dipungkiri bahwa dirinya pun juga ikut merasakan sakit yang menyayat hati ketika menyaksikan sendiri istrinya yang menangis pilu.


Zayn merutuki dirinya sendiri atas kebodohannya yang kini mengakibatkan istrinya menjauh hingga menyakiti hati wanitanya itu.


Kini setelah 30 menit lamanya, Nadin dapat kembali mengontrol emosinya. Dia mencoba untuk melepaskan pelukan Zayn. Namun Zayn tidak membiarkan Nadin melakukan itu.


" Aku ingin tidur "


ucapnya dengan masih dalam dekapan Zayn.


" Biarkan aku menemanimu tidur malam ini. "


Nadin hanya menatapnya saja tanpa menjawab. Mereka berdua kini berjalan menuju tempat tidurnya.


Segera mereka merebahkan tubuhnya diatas kasur. Zayn segera memeluk Nadin. Tidak menunggu lama mata indahilik Nadin sudah terpejam.


Zayn sejenak menatap wajah cantik istrinya. Membiarkan pikirannya mengudara, melukis setiap jengkal wajah cantiknya.


Setelah memberikan sebuah ciuman sayang dikening Nadin, Zayn ikut memejamkan matanya sambil menggenggam tangan istrinya.


__ADS_1


__ADS_2