Cinta Luar Biasa

Cinta Luar Biasa
Takkan Terganti


__ADS_3

Radit menggeleng sesaat berpadu pandangan dengan Widya, raut muka sahabatnya tidak bisa berbohong kalau jika dia sangat bersedih. Dia sudah mencoba menghubungi Rinjani dari semalam namun telepon hanya terkirim ke voice mail dan chat pun tak terbaca.


"Di mana kamu Rinjani? Apa betul kamu tidak pulang? Gumam Radit kemudian beranjak dari kursinya, melewati banyak tamu yang memenuhi ruangan, dia terus melangkah keluar dari ballroom menyisiri hall samping arah ke kolam renang. Radit kemudian terhenti, menatap sosok gadis berkebaya warna violet, mengangkat rok batik yang senada dengan kemejanya. Ah Widya, kamu merestuiku dengan kode ini.


"Aul" teriak Radit mengagetkan gadis itu, langkahnya terhenti dan seketika senyum lebar menghiasi wajah Rinjani


...


Rinjani memilih jalan potong samping kolam renang menuju ballroom terbesar hotel Jendra yang terletak di belakang. Ini dilakukannya karena dia dari kantor Harry, jika kembali ke depan membuatnya memutari satu area hotel.


"Aul!" Suara memanggilnya hingga


membuatnya menengadah setelah dia fokus melewati pijakan batu.


Radit! Seperti ada dentuman keras di jantung Rinjani melihat sosok pria yang memanggilnya. Dia sangat tampan dengan kemeja batik, celana hitam dan loafer senada. Dia kemudian mempercepat langkahnya dan menghamburkan diri ke pelukan sahabatnya itu.


"Radit" seru Rinjani dengan mata berkaca-kaca "aku merindukanmu" lanjutnya dengan degub jantung makin tak karuan


"Aku lebih rindu sayang" ucap Radit mengeratkan pelukannya, bagi dia sekarang tidak akan menahan diri lagi untuk Rinjani. Dua tahun lebih dia tersiksa dengan perasaan ketakutan bahwa Rinjani tak akan kembali.


"Dit, kita seperti couple" kata Rinjani sesaat menyadari jika kemeja Radit dan rok batiknya semotif.


"Kita memang pasangan kok" kata Radit melepaskan pelukan kemudian menyeka airmata Rinjani "makeupmu jadi gak rata karena air mata, bawa bedak?"


"Bawa" dengan gelalapan Rinjani membuka handbagnya dan mengeluarkan cushion berwarna hitam dan emas. Dengan lincah Radit menepuk ringan spons di pipi Rinjani, dia hanya terdiam dan menutup mata.


"Terima kasih sudah kembali Aul" bisik Radit


sambil mengecup pipi kanan Rinjani.

__ADS_1


Rinjani membuka matanya sesaat setelah Radit menciumnya, dia bisa saja pingsan dengan perbuatan pria ini.


"Ayo kita masuk, Widya sudah mau menangis di pelaminan, dipikir kamu tidak pulang" kata Radit meraih tas jinjingan yang Rinjani jatuhkan saat memeluknya tadi


"Kado?" Tanya Radit menaikkan tas berlogo brand luar "koleksi terbaru pasti"


"Iya, belum masuk Indo mungkin" jawab Rinjani dengan senyum sumringah, membayangkan Widya akan melompat riang jika membuka kado darinya


"My good girl" kata Radit meraih tangan kanan Rinjani dan menggenggamnya


...


Setelah berpelukan lama dan saling menitikkan air mata dengan Widya, Rinjani kembali bergabung dengan Radit di meja vvip sebelah timur ballroom.


"Gak makan?" Tanya Radit


"Nanti saja, belom lapar kok dit" ucap Rinjani masih menatap Widya yang berseri-seri


"Hahahaa... Nanti dit" balas Rinjani menoleh ke Radit "biarkan aku menikmati pesta pernikahan ini" lanjutnya sambil tersenyum melihat para tamu dengan berbagai tampilan gaya


"Atas permintaan mempelai wanita, kepada mas Radit dan mbak Rinjani dimohon menyumbangkan satu dua lagu" kata MC membuyarkan senyuman Rinjani


"Apa?! Widya!" Seru Rinjani dengan melotot menatap Widya yang tertawa terpingkal-pingkal di pelaminan


"Hahaha.. ayo Aul" tawa Radit menarik tangan Rinjani


"Dit, please.... " Kata Rinjani menatap dengan memelas "kalian tahu sendiri suaraku seperti apa, tolong..." Lanjutnya menahan tangan Radit


"Hahaha,, kamu gak usah nyanyi. Temani aku saja"

__ADS_1


"Asyik" seru Rinjani kemudian mengikuti arah langkah Radit


Dia kemudian hanya mematung melihat sahabatnya sedang berkoordinasi dengan para pemain band.


"Buat sahabatku Widya dan mas Dewa, semoga selalu berbahagia" kata Radit berjalan kearah Rinjani dan kembali menggengam tangan gadis yang terlihat gelisah, suara emas Radit kemudian mengalun seiring musik...


Telah lama sendiri


Dalam langkah sepi


Tak pernah kukira bahwa akhirnya


Tiada dirimu di sisiku


Meski waktu datang


Dan berlalu sampai kau tiada bertahan


Semua takkan mampu mengubahku


Hanyalah kau yang ada di relungku


Hanyalah dirimu


Mampu membuatku jatuh dan mencinta


Kau bukan hanya sekedar indah


Kau tak akan terganti

__ADS_1


Rinjani menggigit bibirnya untuk membuatnya tetap sadar dengan gemuruh jantungnya seperti sedang berlari marathon. Dia merasa jika lagu yang dinyanyikan Radit untuk dirinya, apalagi dia merasakan genggaman pria itu menguat mengisi setiap relung jemarinya.


__ADS_2