
Hari ini tepat usia kandungan Livia 8 bulan. Semenjak kejadian Zayn mengusirnya malam itu, sekarang Livia tidak pernah lagi mendatangi kediaman keluarga Orlando. Bukan tidak ingin berkunjung, namun ada sebuah alasan yang membuatnya menahan keinginannya untuk datang.
Yah.. Semua karena monica yang semakin sering menghubunginya. Hal itu membuat Livia harus berdiam diri dirumah mewah itu. Takut jika tiba-tiba Monic pulang dari luar negeri dan bisa saja bertemu dengannya.
Livia hanya memberikan kabar jika dia sedang pulang ke kampung halamannya untuk mengenang masa lalunya. Dia tidak ingin Monic tahu dimana keberadaannya saat ini.
Sore itu Livia tampak sedang bersiap. Berpenampilan begitu cantik. Memoles tipis wajahnya dengan riasan yang dimilikinya. Entahlah kenapa dia ingin sekali berdandan saat ini, padahal dia hanya akan pergi untuk memeriksakan kandungannya. Sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan oleh dokter kandungan yang menanginya.
Livia sudah selesai bersiap, dia akan berangkat sendiri kerumah sakit sama seperti biasanya. Namun dia tadi pagi sempat berpesan pada seseorang untuk mengantarkannya.
Livia berjalan perlahan dan hati-hati menuruni tangga. Membawa langkah kakinya menuju pintu utama.
Baru saja Livia keluar dari rumah mewah itu. Sebuah mobil sport berwarna merah sudah terparkir rapi didepan halaman rumah.
Livia mengernyitkan keningnya. Kedua bola matanya menajam melihat mobil sport itu yang terasa asing untuknya. Menelusuri mobil itu hingga kini matanya tertuju pada sosok pria yang mengemudikan mobil tersebut.
Seketika Livia membelalakkan matanya. Dia terperangah melihat sosok pria tersebut dari jendela kaca mobil yang terbuka.
" Apa aku sedang bermimpi ?? "
Livia memukul pipinya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri jika apa yang dilihatnya itu adalah nyata. Walau pukulannya tidak terlalu keras namun hal itu membuatnya mengadu pelan.
" Aww.. Ini benar-benar nyata. "
" Astaga... " teriaknya senang sambil memegang kedua pipinya.
Livia berjalan cepat menghampiri mobil sport tersebut sambil terus memasang senyuman termanisnya. Berharap jika senyuman itu bisa meluluhkan seseorang yang akan ditemuinya sebentar lagi.
" Tuan.. ah.. anda datang kemari. Apa anda datang karena ingin mengantarkan saya untuk periksa kandungan ?? " tanya Livia dengan terus memasang wajah senang.
__ADS_1
Siapa yang tidak senang jika bertemu dengan sosok orang yang kita cintai, Begitupun dengan Livia. Namun hal itu sangat berbeda dengan apa yang saat ini dirasakan oleh pria itu.
Zayn melirik tajam kearah Livia. Dia sama sekali tidak berniat membalas ucapan Livia. Yah.. sosok pria yang tadi datang dengan membawa mobil sport tadi tidak lain adalah Zayn.
Livia kembali mengernyitkan keningnya. Dia merasa bingung dengan pria itu. Apa yang sebenarnya terjadi hingga kini membawanya datang kemari.
Sebuah pertanyaan besar berkeliaran dalam otaknya. Namun Livia enggan untuk sekedar menebaknya, karena sangat mustahil jika nanti tebakannya akan benar.
" Tuan.. "
" Ini " Zayn menyodorkan paper bag pada livia
Zayn menahan rasa kesalnya saat ini. Sebenarnya dia sama sekali tidak ingin melakukan ini. Namun karena laurin yang memaksanya, dia tidak bisa menolaknya.
Tadi ketika dia baru saja sampai di mansion, laurin terlihat begitu sangat cantik. Dia juga membawa laura dalam gendongannya. Mereka berdua akan pergi jalan-jalan. Karena paman Louis sudah ada janji dengan livia, akhirnya laurin meminta Zayn untuk menggantikan paman Louis.
" Hah.. " Livia semakin bingung dibuatnya.
Dengan kikuk Livia mengambil paper bag itu yang entah apa isinya. Dia masih sangat terkejut, bahkan dia tidak bisa berpikir jernih saat ini apalagi untuk sekedar menerka-nerka apa isinya.
Zayn dengan segala rasa kebenciannya terhadap wanita itu lebih memilih diam saja tanpa bersuara. Membiarkan wanita itu menebak sendiri apa yang sedang dilakukannya disini.
Zayn tidak ingin berlama-lama disana, tanpa permisi dia segera menyalakan mobilnya. Menjalankan mobilnya perlahan untuk keluar dari halaman rumah itu.
Seharusnya, Zayn akan mengantarkan Livia kerumah sakit untuk periksa kandungan menggantikan paman Louis. Namun dia tidak akan sanggup jika harus menahan rasa kesalnya lebih lama lagi.
" Tuan.. "
Livia masih diselimuti oleh kebingungannya akan kehadiran seorang Zayn. Tapi bukan mendapatkan Jawaban atas pertanyaan yang tadi dilontarkannya, melainkan dirinya dibuat semakin penasaran.
Mobil sport yang di kendarai oleh Zayn baru saja keluar dari halaman rumah mewah itu.
" Sebenarnya ada apa, aneh sekali. " Gumamnya sendiri saat melihat mobil itu baru saja keluar dan sudah tidak terlihat lagi.
__ADS_1
Tidak lama Livia mengalihkan perhatiannya untuk melihat paper bag yang tadi diberikan oleh Zayn.
Tidak ingin menyimpan rasa penasarannya, Livia segera mengajak kedua tangannya untuk membuka paper bag tersebut. Memikirkan sesuatu yang ada di dalam sana.
" Hah.. ini kan ?? ah.. apa paman Louis yang meminta tuan Zayn untuk membelikannya. ? "
Bibir tipis miliknya melebar sehingga dapat menunjukkan gigi putihnya. Livia tersenyum lebar sembari mengeluarkan suara tawa kecil.
" Ah senangnya.. "
Livia merasa sangat senang dikala melihat isi yang ada di dalam paper bag tersebut. Membenarkan sendiri apa yang dipikirkannya tentang kejadian ini. Seiring dengan rasa senang yang saat ini sedang dirasakannya, dia membawa paper bag itu kedalam pelukannya. Membayangkan sosok seseorang yang baru saja membawakan kue yang diinginkannya.
Yah.. tadi pagi Livia menghubungi paman louis selaku sopir pribadi keluarga Orlando. Dia berpesan padanya untuk membelikan kue kesukaannya. Livia juga meminta tolong agar paman Louis sekaligus mengantarkan dirinya untuk pergi ke rumah sakit sore ini setelah membelikan kue pesanannya.
" Eh.. "
Seketika Livia teringat akan sesuatu.
" Jika tuan Zayn yang membelikan kue ini, berarti paman Louis tidak bisa mengantarkan aku, dong. Ah.. sayang sekali, kenapa tadi aku tidak sekalian meminta tumpangan pada tuan Zayn. "
Livia mendesah kasar. Dia merasa kesal karena tidak berfikiran seperti itu tadi saat ada zayn.
" Ah.. bodoh sekali.. "
Sekali lagi Livia mendesah kasar. Berniat untuk meluapkan kekesalannya pada dirinya sendiri.
Sejenak Livia menepuk keningnya pelan. Dia teringat sesuatu.
" Lebih baik aku naik taksi saja. "
Tanpa menunggu lagi, dia segera mengajak kedua kakinya untuk melangkah keluar dari halaman rumah tersebut.
Beberapa menit berdiri sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari taksi yang akan lewat. Setelah 10 menit berlalu akhirnya taksi yang ditunggunya berhenti tepat didepannya.
__ADS_1
Tidak ingin membuang waktu lagi, Livia segera masuk kedalam dan mengatakan alamat tujuannya. Kemudian taksi tersebut melaju pelan menembus jalanan kota London menuju alamat yang tadi sudah disebutkan oleh Livia..