
Sebulan berlalu...
Tiga hari sudah Radit ke ibukota untuk bertemu dengan beberapa perusahaan dari Eropa yang kemungkinan akan menjadi buyer furniture dalam skala besar. Perusahaan- perusahaan tersebut tertarik dengan produksi Girindrawardhana Timberland yang menjadi salah satu peserta pameran furniture Jexpo di Jakarta yang membuat Radit harus turun tangan.
Sebenarnya Radit telah memohon Rinjani untuk ikut bersamanya, namun Rinjani memilih untuk tetap di bali, dia tidak mau mengganggu urusan Radit. Walau akhirnya menyesal dia tidak ikut, karena tanpa pria itu Rinjani sangat kesepian.
Dua minggu ini Rinjani telah menjadikan pendopo rumah menjadi tempat kerjanya, alat-alat jahitnya telah lengkap. Beberapa hasil jahitannya telah jadi digantung di lemari pajangan kayu jati yang dikirim langsung dari Jogja. Rinjani juga iseng membuat akun instagra untuk designnya dengan nama "RRWardhana Couture", dan memposting proses dan hasil kerjanya, followernya makin bertambah dan sudah beberapa bertanya via direct message*, namun Rinjani masih belum percaya diri untuk menerima klien.
"Aul"
"Ya" jawab Rinjani menghentikan tangannya yang sedang menjahit gaun dengan teknik couture. Dia lalu berbalik mencari arah suara dan tidak melihat siapapun di belakang kecuali hembusan angin menerpa tubuhnya
"Mungkin aku sudah gila" gumam Rinjani lalu menyelipkan jarum di badan manekin, dan meraih handphonenya.
Beberapa pesan dari Radit
Ra : Sayang, jangan lupa makan
Ra : makan apa?
Ra : hei Aul, berhentilah bekerja
Rinjani tersenyum tipis membaca pesan-pesan Radit.
"Ya aku makan" gumam Rinjani melirik jam di handphonenya, kurang lima belas menit jam 1 siang. Memikirkan harus makan sendiri di rumah, membuatnya kehilangan nafsu makan. Dia kemudian menarik kebaya berwarna kuning pasangan dengan songket bali berwarna orange beserta ikat pinggang sewarna kebayanya buatannya. Mencolok, namun Rinjani tetap membawanya ke dalam rumah, dan mengganti bajunya dengan kebaya.
...
Ri : iya, ini sudah makan
Ra : makan apa coba, mana fotonya?
Mati aku gumam Rinjani, namun kemudian tetap mengambil foto makanannya dan mengirimkannya ke Radit
Ra : London merubahmu menjadi pemakan junkfood Rinjani, kamu tahu berapa kalori satu burger itu?
Ri : maaf, tapi aku tidak bisa makan sendirian di rumah
Ra : kan bisa ke resto lebih sehat sayang. Habis makan kamu harus berjalan minimal 1 kilo
__ADS_1
Ri : apa? No!
Ra : hmmmmm
...
And here i am, berjalan kaki di depan Discovery Shopping Mall dan menjadi pusat perhatian para turis manca dan indo. Gadis berkebaya Bali dengan warna paling mencolok mata, demi membakar kalori.
"Halo miss, apa kita bisa berfoto bareng" kata seorang suami istri bule sekitar 60an
"Oh tentu saja, dengan senang hati" jawab Rinjani dengan senyum paling ramahnya, layaknya seorang duta pariwisata
"Dear, kamu di mana di UK? Kami dari UK juga" kata sang istri setelah mendengar logat Rinjani
Dan bukan pasangan itu saja mengajaknya berfoto bersama. Beberapa rombongan turis Belanda, Jerman bahkan mengajaknya mengobrol lama.
"Pyuhhh" keluh Rinjani sesaat di dalam mobil, "sudah hampir jam 5, let's go home" seru Rinjani menginjak gas rubicon orangenya Radit
Rinjani menekan tombol pemutar lagu di mobil untuk mengusir kebosanan menghadapi macetnya Bali di sore hari, apalagi untuk mencapai rumah mereka masih butuh perjuangan sekitar 30 menit.
Terdengar suara Ari Lasso melantunkan lagu
....
Semakin aku mencoba
Bayangmu semakin nyata
Merasuk hingga ke jiwa
Tuhan, tolonglah
Diriku
Entah di mana dirimu berada
Hampa terasa hidupku tanpa dirimu
Apakah di sana kau rindukan aku?
__ADS_1
Seperti diriku yang selalu merindukanmu
Selalu merindukanmu
Pandangan mata Rinjani perlahan berkabut, dan menjadi airmatanya berjatuhan, dia kemudian menepikan mobil di bahu jalan. Dan melanjutkan tangisannya hingga tubuhnya terguncang sembari memegang dadanya yang sesak, dia lebih dikatakan meraung ketimbang menangis.
"Aku rindu.... aku merindukanmu Dit" isak Rinjani pilu
...
Kembali ke dua tahun lampau, Radit terdiam mendengar lagu yang sama.
"Rinjani kamu di mana? Sudah dua minggu kamu di London tapi belum memberi kabar. Jangan membuatku khawatir seperti ini sayang. Aku sungguh merindukanmu" gumam Radit lirih
...
Back to present
Dengan mata bengkak Rinjani memasuki daerah rumah mereka dan mendapati pintu pagar rumah terbuka lebar.
"Perasaan aku sudah menutupnya" gumam Rinjani sambil membelokkan setir. Dia kemudian melihat sosok pria berkemeja warna biru digulung menampakkan rajahan tattoonya berdiri di samping pendopo dengan senyum lebar menatap kearahnya.
"Radit!" Pekik Rinjani buru buru mematikan mobil dan melompat turun kemudian berlari menuju pria itu berdiri
"Tidak usah lari, hati -hati" seru Radit berjalan mendekat yang kemudian tubuhnya dipeluk oleh Rinjani, erat
"Dit, huaaaa......" Tangis Rinjani pecah sesaat dalam pelukan Radit
"Heii, kamu kenapa Aul? Siapa yang menyakitimu?"
"Katanya besok baru pulang?" tanya Rinjani dengan sesunggukan
"Aku pulang lebih cepat karena ada gadis Bali yang tidak bisa makan sendirian" Jawab Radit melihat tampilan Rinjani "kamu keluar berpakaian seperti ini?"
Rinjani mengangguk dalam pelukan
"Syukur tidak ada yang menculikmu, karena kamu sangat...sangat cantik" ucap Radit sambil menangkup wajah Rinjani "terus katakan siapa yang menyakitimu hingga menangis seperti ini?" Lanjutnya menatap dalam mata Rinjani yang terus-terusan menjatuhkan air mata
Aku mencintaimu Raditya Bayuaji, sangat mencintaimu!
__ADS_1