
Keesokan harinya, Rinjani mendapati Radit sudah di lobby dengan penampilan rapi kemeja putih, celana berwarna khaki dan suede boot senada. Untungnya dia membawa satu stel pakaian formal, blus putih, celana kain berwarna biru, kitten heel sewarna.
"Cantik" gumam Radit menatap Rinjani yang mendekatinya
"Pagi pak boss" sapa Rinjani sambil memeluk Radit. Semalam dia telah banyak berpikir tentang perasaannya, tentang Radit, tentang kedepannya seperti apa. Walau hubungan masih abu-abu, tapi Rinjani tidak bisa menampik bahwa dia ingin selalu bersama dengan Raditya Bayuaji Girindrawardhana. Yang tak lain adalah sahabatnya.
"Pagi sayang" kata Radit membalas pelukan Rinjani, sekian lama akhirnya dia bisa merasakan hari senin pagi itu indah.
"Gak ada yang ketinggalan kan?" Tanya Radit sambil menarik koper Rinjani
"Nay" jawab Rinjani menyamakan langkah menuju mobil orange yang terparkir di depan entrance hotel.
.....
Setelah berkendara sekitar 30 menit sampailah lokasi yang agak masuk dari jalanan poros Jogja - Solo, tempat yang di tembok tinggi sekeliling dengan gerbang panjang berpagar kayu berwarna hitam. Di bagian depanRinjani bisa melihat plang nama "Girindrawardhana Timberland".
Melihat mobil Radit, security langsung membukakan pintu gerbang dan kemudian memberi hormat, Radit sendiri menurunkan jendela kaca mobilnya. Rinjani takjub saat mereka melewati sebuah warehouse besar tanpa kelihatan ujung belakangnya yang penuh dengan furniture, dengan tiga mobil truk panjang untuk pengangkut container dan beberapa kendaraan operasional lainnya yang sedang sibuk menaikkan barang.
__ADS_1
"Semua itu punyamu dit?" Kata Rinjani membelalakkan mata sambil menarik lengan kemeja Radit
"Kita" balas Radit sambil tersenyum tipis melirik Rinjani "ada beberapa bisnis aku jalankan Aul, tapi ini yang terbesar. Nanti juga kamu bakal tahu" ucap Radit sambil memarkirkan mobil di depan bangunan kantor bertingkat dua.
"Apa yang aku telah lewatkan tentangmu dit" gumam Rinjani
"Kamu tidak melewatkan apapun Rinjani, kamu menemaniku untuk sampai di posisi ini"
....
"Aku akan meeting sayang, kamu mau ikut?" Kata Radit sesaat di dalam ruangan kantor pribadinya yang bernuansa kayu hitam dan sofa berwarna sama.
"Baiklah, kamu bebas apapun di sini" ucap Radit kemudian mengacak halus rambut Rinjani "padahal aku ingin kamu selalu di dekatku" lanjutnya dengan ekspresi sedih
"Pergilah dit, aku akan menunggu" kekeh Rinjani sambil mendorong punggung Radit untuk keluar
Imut gumam Rinjani kemudian tersenyum, di depan dirinya Radit bersikap seperti itu namun tadi dia bisa melihat Radit sangat berwibawa dan tenang saat berbicara dengan para pegawainya di depan ruangan. Waktu mendewasakan mereka semua, di ingatan Rinjani masih tertanam Radit yang ribut, kepo, hura-hura, dan tukang shopping_kayaknya yang terakhir masih.
__ADS_1
Matanya kemudian terpaku dengan bingkai foto di atas meja kerja Radit, Rinjani meraihnya dengan tersenyum sambil berkaca-kaca menatap gambar foto mereka berdua, Radit memeluknya dari belakang dengan tertawa, dia ingat saat itu Radit berseru "ini kado ultahku yang ke 20".
.....
Radit tersenyum lebar mendapati Rinjani tertidur di kursi kerjanya, dengan pelan dia kemudian duduk di atas meja sambil memandangi gadis yang mendekap bingkai foto.
"Betapa aku merindukanmu seperti ini Aul" gumam Radit kemudian meraih rambut yang jatuh di pipi Rinjani
"Rapatnya sudah selesai?" Ucap Rinjani kemudian terbangun dan mengerjapkan matanya
"Sudah..., saking lamanya kamu sampai ketiduran" kekeh Radit kemudian menarik Rinjani untuk berdiri, berganti posisi Radit yang duduk di kursi dan mendudukkan Rinjani di pangkuannya.
"Bahas apaan sih?" Tanya Rinjani penasaran
"Meeting bulanan, terus info kalau direkturnya bakal pindah ke Bali"
"Itu gak papa?" Tanya Rinjani kemudian melingkarkan tangannya di leher Radit
__ADS_1
"Selama ini juga jarang masuk kantor, aku serahin ke manager operasional. Bekerja pintar sayang, seperti ini ritmenya sudah jelas tinggal di awasi saja. Dan itu bisa di mana saja kan?" Kata Radit menjelaskan, Rinjani kemudian menjatuhkan kepalanya di pundak Radit mengalihkan pandangannya. Sekarang kamu makin dewasa dan aku makin terjerat pesonamu dit, gumam Rinjani dalam hati.