Cinta Luar Biasa

Cinta Luar Biasa
Layu Sebelum Berkembang


__ADS_3

Rinjani memutuskan turun di depan swalayan sebelum kompleks rumahnya dari taxi yang mengantarkannya pulang dari spa. Ia sepertinya butuh berjalan kaki dan meluruskan badan setelah 4 jam lamanya mendapatkan perawatan ini itu di salon langganannya.


Rinjani kemudian membeli beberapa macam cemilan, mie instan, dan meatball beku bungkusan yang akan jadi santapan makan malamnya. Sebenarnya Rinjani bukan tipe orang yang suka memakan makanan instan, ia baru saja membeli hal tersebut jika benar-benar ingin.


"Maisya." sapa Rinjani saat melihat anak Harry Rajendra yang sedang berada digendongan pengasuhnya di halaman rumah.


"Itu Kakak Posyandu." kata pengasuhnya sambil mendekat memberikan Maisya ke gendongan Rinjani, dan bertukar bawaan. Mbak pengasuh lalu mengambil belanjaan dan tas Rinjani.


"Kakak." Maisya dengan suara cadelnya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Rinjani.


"Dia gampang dekat ma orang yah, Mbak?" ucap Rinjani sambil mengusap punggung Maisya.


"Tidak juga sih Mbak, Maisya jarang ketemu orang. Sepertinya dia suka ma Mbak Cantik." balas pengasuh Maisya kira-kira berumur awal 40 tahun.


"Mbak Cantik, masuk dulu." kata seorang bibi pembantu berusia 50an tahun datang menghampiri mereka.


"Ayo mbak, saya namanya Mbak Tini. Kalau bibi namanya Bibi Romlah, kami berdua telah menjadi asisten Pak Harry sejak lama." kata mbak Tini mengumbar senyuman ramah.


"Saya Rinjani mbak, bi" ucap Rinjani sambil mengikuti keduanya memasuki rumah Harry Rajendra yang membuat Rinjani takjub dengan penataan interiornya. Segala sesuatunya seperti berasal dari majalah interior terkini. Bagus dipandang tapi sepertinya ada yang kurang.


"Bapak belum pulang, katanya ada meeting." celoteh bibi Romlah memberikan informasi.


Rinjani juga sudah tahu jika Harry belum pulang, mobil pria tersebut tidak terparkir di tempat biasanya.

__ADS_1


Tak lama kemudian mereka sudah di dapur, Maisya duduk di kursi makannya sambil menyantap nasi lunak dan salmon kukus dengan belepotan. Sementara Rinjani menyantap mie instan bersama Mbak Tini, walau tadinya Bi Romlah mengajaknya makan masakan yang sudah disiapkan. Ketiganya berbincang akrab, sedikit banyak Rinjani memberikan informasi tentang dirinya.


Setelah itu Rinjani menghabiskan waktu dengan menemani Maisya bermain di kamar. Tepat jam 7 malam bayi berusia 13 bulan itu tertidur di karpet karena kelelahan. Rinjani kemudian memindahkan Maisya ke tempat tidurnya. Rinjani kemudian memutuskan untuk berbaring di karpet meluruskan badan, sambil mengecek ponselnya yang sedari tadi diabaikan.


Aku capek, ternyata mengurus bayi itu sungguh melelahkan, batinnya sambil menguap.


Tak butuh lama, Rinjani pun ikut tertidur, hal terakhir yang ia rasakan ketika Bi Romlah memberinya sebuah bantal di kepala dan memasangkan selimut. Rinjani hanya pasrah, matanya terlalu berat untuk di buka. Perawatan di spa membuat tubuhnya rileks hingga tak kuasa menahan rasa kantuk yang mendera.


 ...


Harry tiba di rumah pada jam 9 malam, Bi Romlah menyampaikan berita tak disangkanya, yakni kehadiran Rinjani rumah mereka dan sekarang sedang tertidur di kamar Maisya. Setelah mandi iapun turun ke kamar anaknya dan mendapati gadis yang menarik perhatiannya beberapa hari terakhir. Gadis cantik itu terlihag sedang meringkuk dengan nyaman dengan napas yang teratur.


"Kamu capek yah jadi mama." ucap Harry sambil mengusap lembut rambut Rinjani.


Rinjani merasakan ada yang membelai rambutnya, pun sontak membuka mata. Ia melihat sosok pria dewasa berjongkok di samping, kesadarannya pun kembali dalam hitungan detik.


"Jam 10." Ucap Harry masih tetap tersenyum simpul.


"Astaga." Rinjani langsung berdiri tergesa-gesa dan meraih tasnya di atas meja.


"Maaf kak, sudah lancang tidur di rumah kakak. Saya pulang dulu." ucap Rinjani sambil melangkah ke arah pintu depan, kemudian tangannya erat di genggam Harry.


"Eh." ucap Rinjani membalikkan badan.

__ADS_1


Harry kemudian menarik Rinjani menuju tangga dan berjalan menuju kamar pertama di lantai dua, dan ia baru melepaskan genggaman tangannya sesaat berada di dalam kamar bernuansa minimalis maskulin itu.


"Kak." ucap Rinjani lirih saat Harry menangkup wajahnya, kemudian menciumi leher dan belakang telinganya. Saat Harry mencium bibirnya, seketikan Rinjani seperti kehilangan kekuatan kedua kakinya. Pria mendominasi itu kemudian mengangkat tubuh Rinjani dan membaringkannya di atas tempat tidur.


~~


Rinjani menarik selimut berwarna dark grey menutupi kepalanya, jantungnya masih berdebar kencang, sementara pria yang berapa menit lalu membuatnya orgasm* sampai tiga kali sudah tertidur dengan pulas.


Tiga kali! dengan Gio saja ia tidak pernah sebanyak ini mencapai puncak dan sebergairah dengan Harry.


"Hmmm mah, mah." igau Harry membangunkan Rinjani sepenuhnya.


Ia menatap pria yang sepertinya sedang bermimpi buruk, tangan kokoh Harry memeluk erat tubuh Rinjani.


"Cuma mimpi." tepuk pelan Rinjani di tangan Harry, matanya berkaca-kaca, tak lama kemudian airmatanya sudah tak tertahankan lagi. Rinjani terluka. Ketika sesaat lalu, hatinya sudah mengarah kepada Harry, namun rupanya pria tersebut belum bisa melupakan mendiang istrinya. Bahkan di saat mereka tidur bersama, Harry masih bermimpi tentang ibu dari Maisya.


Sejam kemudian Harry baru melepaskan pelukannya, pun Rinjani kemudian bergerak dengan sangat pelan turun dari tempat tidur lalu memakai semua pakaiannya. Dengan mengendap-endap ia menuruni tangga dan melihat Bi Romlah di ruang tamu sedang membuka tirai jendela, hatinya langsung disergap rasa malu segunung.


"Mbak, gak apa-apa. Saya justru senang jika Bapak sudah membuka hati, setelah apa yang beliau alami selama ini." ucap tulus Bi Romlah saat di gerbang pagar setelah mereka saling terdiam di dalam rumah.


"Mbak, kami titip bapak." lanjut bi Romlah meraih tangan Rinjani.


Rinjani berusaha tersenyum dan melangkahkan kakinya menjauh dari rumah itu dengan perasaan terluka.

__ADS_1


***********


note: ini hanya novel, jangan dipikirkan kalau Rinjani itu murahan.. walau sebenarnya memang seperti itu 😂


__ADS_2