
"Bro! Thank you for coming" seru sosok pria berjas abu menyambut Harry di lobby hotel
"My Friend Bapak Gilang! Sudah lama kita tidak bertemu, sejak reuni kampus 5 tahun lalu yah" tawa Harry memeluk temannya
"Benar Bapak Harry Rajendra, hahaha.. bro, harusnya kita bertemu di luar, bukan di tempat kerja"
"Hei, teman gue jadi manajer baru hotel Mulia, gue harus datang donk menyelamatinya" tawa Harry lagi sambil mengikuti langkah gilang "lagian kapan lagi bisa lihat rival" lanjutnya terkekeh
"Kapan pun bro, ke sini saja. Atau next time aku ke Jentra yah. Ayo kita ke resto"
"It's OK besok aku tunggu. By the way hotelmu ramai untuk tengah minggu"
"Biasa ada kawinan, yang menikah punya banyak kolega" ucap Gilang menatap orang-orang lalu lalang di depannya
Harry tiba-tiba berhenti menatap banner pernikahan, matanya nanar melihat foto mempelai wanita.
__ADS_1
"Kamu kenal?" Tanya Gilang mendekat
"Ballroom pesta ini, arah mana?" Kata Harry dengan muka tegang
...
Rinjani tertawa melihat kedua sahabatnya berduet menyanyikan lagu dangdut, sementara Keanu ikut bergoyang dan menyawer Widya. Tiga orang itu membuat heboh para tamu dan keluarga yang mencoba memotret atau merekam mereka.
Matanya kemudian terpaku pada sosok berdiri yang berjas navy, Harry Rajendra menatapnya dengan mata seakan membakar dirinya. Pria itu pun berjalan menuju pelaminan, Rinjani gemetar, tenggorokannya mendadak kering.
Mereka hanya saling tatap, tanpa Rinjani bisa membalas kata apa untuk Harry lidahnya kelu, mungkin suaranya juga hilang. Saat pria itu berlalu Rinjani terduduk lemas.
"Kenapa sayang?" Tanya Ezra sambil menyodorkan botol mineral "capek yah? Sabar dikit lagi kok" lanjutnya sambil mengusap punggung
Tuhan.. apa yang telah aku lakukan dengan hidupku! Jerit dalam hati Rinjani, seketika gaun pengantinnya terasa sesak mencengkeram setiap bagian tubuhnya, dia ingin berlari keluar dari ruangan ini.
__ADS_1
....
Rinjani menatap wajahnya di pantulan cermin kamar mandi, sudah bersih batinnya. Sisa makeup pesta telah hilang, badannya pun sudah lebih segar setelah berendam air hangat. Dengan gontai Rinjani melangkah menuju kamar tidur, dia melihat Ezra sedang terbaring di tempat tidur.
Dengan pelan Rinjani menaiki tempat tidur, maksud hati tidak ingin membangunkan suaminya. Dia baru saja merebahkan kepalanya, namun tangan kokoh Ezra menarik tubuh Rinjani dalam pelukan. Ezra kemudian menciumnya dengan panas.
"Aku menunggu berbulan untuk ini" kata Ezra, dengan jelas Rinjani melihat sorot mata suaminya yang dikuasai gairah.
Mereka melakukannya berulang kali hingga menjelang pagi, tinggallah Rinjani menatap atap kamar dengan mata sembab. Percintaan pertama dia menikmatinya, namun setelah itu dia seperti budak seks suaminya yang tak kunjung terpuaskan. Dia tidak bisa menolak bukan? Sekarang tubuh Rinjani adalah hak milik pria yang telah tertidur pulas di samping. Walau dia sebenarnya sudah lelah namun dia tak punya kesempatan untuk mengatakan tidak.
Mungkin dia terlalu berlebihan, ini hanya normal sebagai pasangan baru. Hatinya saja yang terpengaruh kedatangan Harry, Rinjani pikir telah melupakan pria itu berapa bulan terakhir ini, namun berhadapan seperti tadi membuatnya goyah. Sorot mata Harry mungkin akan menjadi mimpi buruk Rinjani beberapa hari kedepan, dia harusnya tidak melarikan diri seperti saat itu.
Andai..
Andai saat itu Rinjani tidak menjauh, menutup diri. Mungkin sekarang dia masih bisa hidup bebas? Tidak! Ezra tetap mengejarnya. Dia akan tetap bersama pria ini, batinnya sambil meraih jemari suaminya. Rinjani menggenggam tangan itu dan menciumnya.
__ADS_1
"Aku akan mencintaimu sepenuhnya mas, dengan kelebihan dan kekuranganmu. Kamu hanya perlu memelukku saat aku goyah, dan jadilah pelindungku, tempatku bersandar satu-satunya" ucap Rinjani lirih