
Dua anak lelaki sedang berlarian seperti diarena perlombaan , saat ini mereka sedang menuju kamar yang menjadi penyebab utama kepanikan mereka berdua. Dengan nafas yang tersengal-sengal, mereka berdua saling berebut untuk menggendong bayi yang ada didalam box bayi.
" Apa yang kalian lakukan disini "
Mereka berdua tersentak kaget, kemudian saling memandang dan akhirnya berbalik.
" Hai dad " sapa mereka sambil tersenyum pelik. Zayn segera mengambil queen yang ada didalam box.
" iiisssss iiisssss iisssss " gumam Zayn sambil mengayunkan tubuh queen.
" mmm bau apa ini " ucap Rafa seraya menutup hidungnya dengan ibu jari dan telunjuknya.
" Dad.. sepertinya queen sedang pup " seru Alva.
" Uuhhhhgg... Iyah... bau sekali, ayo lebih baik kita keluar saja Al " sahut Rafa sambil mengajak Alva keluar kamar.
Zayn menoleh..
" Hei.. kalian mau kemana, bantu dad ganti popoknya dulu "
Saat ini Nadin sedang pergi ke salon, karena nanti malam mereka akan menghadiri pesta pernikahan rekan bisnis zayn. Sejak satu bulan lalu setelah melahirkan, ini adalah pertama kalinya Nadin keluar rumah. Nadin pergi bersama dengan bi nela, karena bi nela juga sekalian akan belanja.
" Tidak mau dad, Kan Daddy orangtuanya. Jadi Daddy yang seharusnya melakukan itu " seru rafa
" Iyah benar.. bye dad " sahut Alva setelah
Mereka berdua segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar. Zayn menghela nafas berat. Dia bahkan belum pernah mengganti popok bayi sebelumnya. Bahkan ketika kedua anaknya kecil, dia tidak pernah ikut campur dalam mengurusnya.
" Haduh... bagaimana ini " Zayn masih bingung. Tiba-tiba queen menangis kencang, mungkin dia sudah merasa risih karena popoknya.
" Jangan menangis sayang.. Iyah.. Iyah.. sebentar, Daddy akan menggantikan popoknya. " perlahan Zayn merebahkan tubuh bayi mungil itu diatas kasur. Dia kemudian melepaskan celana pendek yang dipakai oleh queen.
" Uuuuhggg.... bau sekali... " sambil mengibaskan tangannya di depan hidung.
" Bagaimana ini, uuweeekkkk..... "
Zayn sedang berperang melawan bau tak sedap dari popok queen. Kedua anak lelakinya itu ternyata tidaklah pergi dari sana. Mereka sedang asyik mengintip Zayn yang akan menggantikan popok queen. Mereka berdua terus menutupi mulutnya menggunakan tangan agar suara tawanya tidak terdengar.
" Kau lihat itu, dad sungguh payah. hi hi hi "
ucap Rafa dan di angguki kepala Nadin Alva.
Mereka kembali mengintip sambil menahan tawa.
Tangisan queen semakin kencang karena Zayn tidak segera mengganti popoknya. Sudah berulang kali menggunakan cara tetap saja Zayn tidak sanggup menahan bau dari popoknya.
" hhhhhhuuft... jangan menangis yah sayang "
Zayn berlari untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menutupi hidungnya.
" uuweeekkkk... uuweeekkkk... " Zayn ingin muntah tetepi tidak mengeluarkan apapun.
" Bagaimana ini.. Aku tidak sanggup "
" Uuweeekkkk... "
~~
__ADS_1
Nadin turun dari mobil dengan anggunnya. Dia Barusaja kembali dari salon. Mereka berdua masuk kedalam rumah. Terdengar suara nyaring dari atas.
" nyonya sepertinya baby queen sedang menangis "
" Iyah Bi.. "
Nadin segera menaiki tangga menuju kamar baby queen. Nadin mengernyitkan dahi, dia merasa aneh melihat Rafa dan Alva yang sedang diluar..
" Sedang apa mereka " gumam Nadin.
Nadin dengan cepat menghampiri mereka sebelum masuk ke dalam.
" kenapa kalian ada disini. "
" Hah.. "
" huuh "
" mam.. " mereka berdua tersenyum kikuk.
Nadin ikut mengintip seperti yang Rafa dan Alva lakukan. Matanya terbelalak seketika melihat Zayn yang mencoba mengganti popok queen. Nadin dengan cepat masuk kedalam dan menghampirinya. Tangisan baby queen membuat Nadin geram pada Zayn. Bagaimana bisa menggantikan popok saja tidak bisa. hhhuuuuhhhffff...
" Sayang apa yang sedang kamu lakukan "
teriak Nadin ketika melihat Zayn yang sedang membolak-balikkan popoknya dan juga baby queen.
Zayn masih terbengong melihat penampilan Nadin yang sangat amat cantik, bahkan diusianya yang tidak muda lagi.
" Sayang.. awas,!! kenapa tidak meminta tolong pada bi Nuri saja tadi " Nadin segera menggeser badan Zayn. Dia dengan sangat telaten mengganti dan membersihkan tubuh baby queen.
" Daddy nakal yah...nanti biar mami pukul, sudah jangan menangis lagi, sayang "
Nadin dengan mudah mengurus Baby queen. Setelah selesai dia segera menggendongnya.
" Sayang... Hei... kalian ini kenapa " ucap Nadin sambil mengayun tubuh mungil baby queen.
Nadin memperhatikan suaminya yang mematung di sampingnya, kemudian mengalihkan pandangannya kearah pintu. Disana kedua anaknya itu juga sedang mematung menatap Nadin.
Seketika Nadin terkekeh geli melihat tingkah mereka semua..
" Dasar laki-laki "
Dengan cepat Nadin mengecup pipi kiri Zayn.
" Sayang.. cepatlah bersiap aku akan menitipkan baby queen dulu pada bi nela "
Nadin berhenti didepan kedua anaknya itu
" Sayang.. cepatlah bersiap.. "
Nadin kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti. Dia keluar dan menuruni tangga kemudian berbelok kearah kamar pelayan.
Sedangkan didalam kamar queen, Ketiga lelaki beda umur itu nampak masih sangat terkejut akan wanita yang tadi dilihatnya.
" Apa benar tadi itu mami, kenapa jadi sangat cantik dan terlihat muda "
" Iyah.. aku juga masih belum percaya. Bagaimana mami bisa berubah seperti itu "
__ADS_1
Kedua lelaki muda itu tersentak setelah mendengar deheman dari Zayn.
" Astagaa dad, mengagetkan saja. " ucap Rafa
" Huufft " helaan nafas Alva
" Dad.. kenapa mami sangat cantik, Apa benar dia mami kita " seru Alva
" Kau ini, ada-ada saja. sudah lebih baik kita bersiap- siap saja " Rafa merangkul pundak Alva dan mengajaknya keluar dari kamar baby queen.
Zayn tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
" Dad saja juga masih belum bisa percaya. Mami kalian bisa secantik itu walau usianya sudah tidak muda. " gumamnya pada dirinya sendiri..kemudian Zayn keluar dan menuju kamarnya sendiri untuk segera bersiap.
Setelah beberapa menit berlalu, Zayn tampak sudah tampan dengan jas yang dikenakannya. Sungguh terlihat begitu tampan dan gagah.
Ceklek
Nadin masuk kedalam kamarnya, dia melihat Zayn yang sedang merapikan penampilannya di depan kaca. Nadin berjalan mendekat.
" Sudah siap tuan "
Seketika Zayn menoleh kearah Nadin dan tersenyum manis. Sedari tadi Zayn sudah menunggu kedatangannya, ada sesuatu yang membuat Zayn berharap Nadin segera menemui dirinya.
" Kau lama sekali, aku menunggumu "
Zayn menghampiri Nadin sambil memeluknya erat.
" Ada apa memangnya "
" Aku ingin saja dekat denganmu, Kenapa kamu terlihat begitu cantik, Hem " Zayn melepaskan pelukannya, sehingga kini dia bisa melihat wajah nadin yang sangat cantik itu. Nadin terkekeh.
" Hei.. Kamu yang memaksaku untuk pergi ke salon, bukan. Jadi kenapa bertanya jika aku jadi seperti ini. " Nadin memukul pelan dada bidang milik Zayn.
" Rasanya aku tidak rela jika lelaki diluar sana melihat kecantikanmu, sayang ''
" Kau ini, berlebihan sekali " Nadin akan berjalan untuk mengambil tas pesta miliknya, tetapi tangan Zayn menahannya.
" Sayang.... " Zayn semakin mendekatkan diri.
" Zayn, jangan macam-macam, kita akan pergi ke pesta pernikahan Rico. "
" Yah.. baiklah...Nanti malam bagaimana "
" Masih belum boleh " sahut Nadin. Zayn menatap jengah kearah Nadin, kemudian sesaat dia membuang wajahnya.
" Hi hi hi... yah baiklah, jangan marah begitu.."
Nadin kemudian memeluk Zayn.
Zayn menoleh dan tersenyum. Dia menatap lekat wajah cantik Nadin. Perlahan dia memajukan wajahnya, berniat ingin mencium istri cantiknya itu.
tok tok tok
" Dad.. apa kalian sudah siap "
" Mam... "
' Dasar anak kecil, bisanya mengganggu saja '
__ADS_1