
Radit mengecup bibir Rinjani dengan penuh cinta, kebahagiaan terlalu besar diberikan Tuhan untuknya. Gadis yang dikenalnya sejak berumur 19 tahun, satu-satunya wanita yang menyentuh hatinya, cinta pertama dan terakhirnya. Gadis yang tomboy dikenalnya itu kini menjadi sosok istri penuh kasih sayang, cintanya kepada Radit dan si kembar anak-anak mereka sungguh besar.
"Aku mencintaimu Rinjani, sejak dulu dan selamanya" gumam Radit dengan mata memburam, hatinya sendu bercampur bahagia
"Aku mencintaimu Raditya Bayuaji" balas Rinjani merapatkan tubuhnya dalam pelukan suaminya
"Kamu tahu sayang, aku selalu berpikir bahwa aku sungguh beruntung mendapatkanmu, jika mengingat masa lalu. Dulu betapa aku memimpikan untuk merasakan cinta darimu Rinjani, merasakan mencium bibirmu, menghabiskan malam dengan memelukmu. Dan tahu apa di kasih Tuhan? Melebihi semua itu. Terima kasih Aulku"
"Kamu berjuang untuk di posisi ini suami, meyakinkan bahwa kamu adalah pria yang mencintaiku sejak dulu, menyadarkan perasaanku ternyata juga ada untukmu. Sahabat plus-plus" kekeh Rinjani
"Kamu merusak suasana romantis" sungut Radit mencubit pipi istrinya
"Jam berapa teman-temanmu datang suami?" Tanya Rinjani menengadah menatap wajah Radit yang masih seperti dulu, ayah dua anak ini tidak menua sedikit pun. Kulit putih bersih menurun ke anak-anaknya.
"Sorean, jam 4 kayaknya. Kita masih bisa sekali lagi" jawab Radit dengan tersenyum genit, hubungan bercinta mereka rutin walau mereka sudah memutuskan untuk tidak menambah momongan lagi. Radit yang tidak mau, dia tidak ingin melihat Rinjani melalui proses persalinan seperti itu lagi. Radit sudah sangat bersyukur di karuniai anak kembar yang cantik, menggemaskan, yang semua orang mengatakan kakak dan adek mirip dengan dirinya.
"Ayahhhhhhh...." Teriak kakak dari kamar sebelah yang tersambung dengan kamar tidur utama, Radit sengaja meminta design kamar seperti itu
"Hahaha.. sekali lagi apanya.. noh anakmu sudah memanggil" tawa Rinjani memundurkan tubuhnya memberikan ruang untuk Radit bangun dari tempat tidur
"Aku masih mau dengan istriku" kata Radit meraih kembali tubuh Rinjani dan memeluknya erat-erat, menciumi puncak kepala dengan dalam
"Ayahhhhhhhhh....... Ayahhhhhh" kali ini terdengar dua suara memanggil Radit
"Anakmu" sungut Rinjani langsung melepaskan Radit, dan mendorong tubuh suaminya.
Radit menarik bibirnya kebawah, berakting sedih dengan mata sendu seolah ingin berpisah ke seberang negara, Rinjani tertawa melihat ekspresi suaminya
"Sana, sebelum mereka kompak bersandiwara menangis" perintah Rinjani kemudian suaminya menghilang dari pembatas ruangan
Kakak Lika dan Adek Kila sekarang sudah berusia 23 bulan, dan sejak mereka kembali ke Bali semua pengurusan si kembar di tangan Radit. Suaminya bahkan sering tertidur di dekat tempat tidur si kembar. Hubungan ayah dan anak sangat dekat, tak heran kata pertama yang diucapkan si kembar adalah "yayah", dan menyusul "bubu" berapa hari kemudian.
...
Radit membukakan pintu setelah bel di pencet secara tidak sabaran, dia melihat sosok anak perempuan berumur 7 tahun berdiri dengan hotpant jeans dan tanktop berwarna pink
"Mana papa?" Tanya Radit melihat belum ada mobil terparkir di depan pendopo
"Katanya mau beli sesuatu, aku cuma di turunin" jawab gadis kecil bermata sipit seperti papanya
Radit tersenyum geli, dia tahu apa yang dibeli Harry. Apalagi kalau bukan bir dan sejenisnya, karena tahu Radit tidak menyediakan minuman beralkohol di rumahnya.
"Kakak mana om?" Tanya Maisya yang masih enggan masuk ke dalam rumah
"Kakak ma adek barusan bobo" jawab Radit sambil tersenyum usil
"Bukannnn.... Kakak cantik maksudku" sungut Maisya sambil mengerucutkan bibir kecilnya
"Istri om yah?" Tanya Radit makin mengerjai gadis kecil itu
Maisya membelalakkan matanya, dengan ekspresi cemburu
"Mandi, kakak cantik lagi mandi. Mau tunggu di luar atau di dalam?"
Maisya kemudian memilih duduk di undakan tangga
"Di sini saja" jawab Maisya dengan pelan sambil memeluk kedua lututnya
__ADS_1
Radit tersenyum geli dan bergabung untuk duduk di samping gadis kecil itu,
"Omm... Boleh gak aku minta kakak cantik?" Tanya Maisya setelah mereka terdiam menatap lurus ke depan hanya melihat air kolam yang beriak karena angin
"Terus om sama siapa?"
"Kan ada kembar. Kakak cantik buatku saja" pinta Maisya terdengar tulus
Saingan Radit bukan hanya pria-pria yang jadi temannya tapi juga anak berumur 7 tahun, setelah berapa kali pertemuan mereka, gadis kecil ini sudah mulai berani mengungkapkan keinginannya
"Begini saja, Maisya bisa kapan saja kesini ketemu dan main dengan kakak cantik dan kembar sekarang jadi adiknya Maisya. Gimana?"
"Deal" seru Maisya menaikkan kelingkingnya dengan tertawa Radit menautkan jemarinya
"Deal!"
...
Radit hanya menggelengkan kepala ketika melihat Harry Rajendra membuka botol bir ketiga, bahkan mereka belum sejam mengobrol di kursi dekat kolam renang.
"Gimana Enzi?" Tanya Radit menatap pria di samping Harry yang juga sama memerhatikan tingkah pemilik hotel Rajendra itu
"Sehat, dia lucu dan panjang" jawab Ezra tersenyum bahagia, Enzi adalah putranya yang baru berusia 3 bulan. Dia menuruti perkataan Rinjani untuk membuka hati untuk Natasha, walau butuh berapa bulan untuk mereka menerima kabar jika akan mempunyai keturunan
"Wajar, papanya seperti kamu panjangnya. Enzi harus jadi atlet jika besar nanti" kata Harry melirik Ezra
"Hhahaha.. iya. Tapi terserah Enzi kalau besar nanti. Terlalu dini memikirkan itu" sahut Ezra terdengar bijak, dia sedang menikmati masa-masa menjadi papa
Sontak ketiga pria dewasa itu berdiri dengan tatapan terpusat kepada wanita yang sedang tersenyum lebar yang membuat hati mereka berdesir hebat
"Hahahahaha"
Ketiga pria itu tertawa terbahak-bahak,
"Sehat-sehat yah bro, sainganmu kuat" sindir Harry sambil memukul pelan dada Radit, sementara Ezra memilih berlari menuju Rinjani
"Sial!!! Umpat Radit lalu kembali tertawa "Aku lebih muda di antara kita bertiga"
"Jaga-jaga bro" kekeh Harry "kita harus ngegym bareng juga"
"Terus aku gimana" seru Ezra menangkap pembicaraan Radit dan Harry
"Pindah ke Bali juga bro" ucap Harry sambil membantu membagi piring berisi steak ke meja depan mereka
"Aku harus diskusikan dengan Natasha dulu"
"Kami selalu menunggumu" kata Radit sambil mengirimkan kode ke Harry
"Yoi"
Mereka kemudian tertawa lepas lagi, sambil memulai memotong steak buatan wanita yang mereka cintai.
"Kalian tertawa karena apa sih?" Tanya Rinjani yang ikut bergabung membawa piring untuk dirinya, dan kemudian memilih duduk di samping suaminya
"Kamu" jawab Ezra tersenyum lebar menatap Rinjani
__ADS_1
"Hish.. sampai kapan kalian menjadikan aku obyek candaan" sungut Rinjani
"Sampai tua" sahut Harry
"Kamu yang tua" sindir Rinjani menyunggingkan senyum jahilnya
"Iya, tua dan tak menikah lagi" kata Ezra menambahi
"Aku nunggu si kembar dewasa" kata Harry langsung menatap Radit menunggu respon temannya itu
"Hei !!! Hati-hati" seru Radit menatap Harry dengan tajam
"Becanda bro, aku sekarang 37 tahun. 20 tahun lagi yah ampun sudah 57 ,, ckckckk"
Baik Radit, Rinjani dan Ezra tertawa melihat ekspresi muram Harry
"Memang kenapa tidak menikah lagi om?" Tanya Rinjani menatap lurus ke arah Harry
"Hmmmm... Kenapa yah? Menikah cukup sekali seumur hidup" jawab Harry lugas, dia tidak menghitung pernikahannya dengan wanita itu
Ucapan Harry membuat Ezra dan Rinjani mendelik tajam ke arah pria itu
"Aku setuju" kata Radit sambil menjulurkan tinju untuk tos dengan Harry
"Cih" umpat Ezra yang diikuti tawaan meledak keempatnya.
"Kita harus menjadikan pertemuan ini rutin, dan mengikutsertakan anak-anak kita. Hingga kita tua dan mereka dewasa" kata Radit menatap bergantian Harry dan Ezra
"Setuju" sahut Harry dan Ezra lalu saling berjabat tangan menandakan kesepakatan mereka bertiga
Rinjani menyunggingkan senyum merekah, dia tidak pernah menyangka bahwa tiga pria dalam hidupnya bisa berteman dan duduk seakur ini. Semua karena pria di sampingnya, Raditya Bayuaji Girindrawardhana. Pria yang mempunyai hati seluas samudra, jiwa yang tangguh, pemikirannya berpuluh langkah di depan.
Ada yang mengatakan pilihlah pria yang mencintaimu, yah di antara ketiga pria ini dia sangat tahu siapa yang mempunyai cinta yang lebih besar untuknya. Cinta yang luar biasa, Rinjani sungguh beruntung dipertemukan dengan seorang Raditya Bayuaji dalam hidup singkat ini.
Radit melirik Rinjani yang beranjak dari kursinya dan berjalan menuju ke dalam rumah, Dia pun mengejar istrinya, menautkan jemari tangan mereka
"Aku mencintaimu suamiku" kata Rinjani menatap Radit dengan airmata menggenang di sudut bola mata kekasih hatinya
Dengan tersenyum Radit menangkup wajah Rinjani dan membisikkan kata,
"Kamu itu orang paling keras kepala dan paling sulit yang pernah aku kenal... Tapi kalau aku harus mengulang hidupku lagi. Aku akan tetap memilih kamu"
Ainun BJ Habibie -
###
alo kesayangan 😎
sisa 1 bab lagi lanjutan novel ini, itu pun pendek..
tapi "CINTA LUAR BIASA CHAPTER TWO" sebentar lagi liris
semoga secepatnya di approve 🥰
with love,
D 😘
__ADS_1