Cinta Luar Biasa

Cinta Luar Biasa
Ekstra part Cerita Nadin 1


__ADS_3

Sinar mentari pagi tampak bersinar begitu terang. Namun hal itu berbanding terbalik dengan kenyataan yang sedang dihadapi oleh Nadin.


Nadin mengerjapkan matanya beberapa kali. Kini kedua matanya terbuka lebar. Dia tertegun kala dirinya kembali mengingat kejadian dua bulan yang lalu.


Nadin masih tidak bergeming pada posisinya. Dia kembali menggali ingatannya kala itu.


Menikmati memori yang dirasa sangat menyejukkan hati.


Kala itu dia mendapati dirinya yang sedang memeluk tubuh suaminya ketika dia terbangun dari tidurnya. Suami yang dirindukannya. Suami yang dicintainya.


Saat ini, pagi ini dia merasa tidak bersemangat sama seperti hari-hari kemarin.


Bayangan sosok Zayn kini sedang hadir kembali.


Dia mengingat kembali ketika senyuman itu, senyuman yang membuatnya masuk kedalam lembah cinta seorang zayn.


Bahkan pagi itu Nadin tidak menolak pelukan hangat lelaki itu. Bahkan Nadin juga menikmati beribu ciuman yang diberikan oleh Zayn kala itu.


Nadin kembali merasakan sesak. Berhari-hari menahan gejolak amarah membuat dirinya semakin tidak dapat berfikir jernih.


Jika menangis adalah alternatif yang sangat ampuh untuk mengurangi rasa sakit hatinya, maka hal itu akan dilakukannya setiap hari. Namun kenyataannya, hal itu tidak bisa menghilangkan bebannya. Walau dia akan merasa sedikit tenang setelah melakukannya.


Malam itu adalah malam yang pertama dan terakhir bagi mereka untuk tidur bersama. Setelah nadin sadar dari koma hingga kini, bahkan mereka belum Saling bersentuhan dengan benar .


Ada sedikit rasa senang saat mengingatnya namun rasa kecewanya lebih mendominasi. Sekali lagi sosok pria itu kembali merenggut kebahagiaannya. Membuat dirinya kembali terluka. Kini hatinya kembali tergores oleh luka yang sama yang juga disebabkan oleh orang yang sama.



" Mami.. "


celotehan putra kecilnya itu seketika mengembalikan kesadaran Nadin.


Dia segera menoleh kearah box dimana sosok Rafa sedang bersandar pada pinggiran box tidurnya dengan menatap kearah sang ibunda.


Nadin segera memaksakan dirinya untuk bangun. Dengan senyuman lebar, Perlahan dia turun dari tempat tidurnya. Dengan cepat dia meraih Rafa dari sana.

__ADS_1


Nadin membawanya kembali menuju tempat tidurnya. Melirik sekilas kearah jam yang menempel di dinding.


" Pukul 6. Lebih baik kita tidur lagi saja bagaimana ?? "


" Afa ingin belmain mobil sepelti kemalin ditaman. "


" Yah.. baiklah. Tapi nanti sore saja bagaimana?? Sekarang mami sedang malas sekali keluar. "


" Tidak mau.. Sekalang saja "


Nadin mencium pipi Rafa dengan gemas setelah mendengar celotehnya yang dirasa lucu. Tidak menunggu lama dia segera beranjak dari tempat tidurnya. Menggendong Rafa menuju kamar mandi.


Kini Nadin semakin dibuat kualahan oleh tingkah Rafa yang semakin aktiv. Usianya sudah hampir dua tahun, namun dia sudah sangat pandai dalam segala hal.


Bahkan Nadin sering kali dibuat kebingungan ketika dirinya sedang dihadapkan dengan pertanyaan yang sulit. Tidak bisa dipungkiri lagi, memang kedua orang tuanya memiliki kecerdasan yang diatas kata wajar.


Sehingga kecerdasan yang dimilikinya menuruni ayah dan juga ibunya.


***


Disisi lain. Seorang lelaki sedang sibuk mengurusi bayi mungil yang masih tampak merah. Pasalnya memang dia baru saja dilahirkan 3 hari yang lalu.


Saat ini dirinya akan memusatkan perhatiannya untuk menjadi ayah dan ibu sekaligus. Laurin sempat memberikan saran untuk menyewa baby sister, namun Zayn menolak. Dia lebih memilih bi nela untuk mengurus Alva selama dia akan bekerja nantinya.


Dia menjadi parno sendiri pada sosok baby sister, setelah mengalami banyak kejadian yang kini merubah hidupnya.


Setelah mendapati kenyataan pahit, jika Alva adalah anak kandungnya. Kini Zayn semakin dibuat kacau setelah dirinya mengetahui kebenarannya. Rahasia yang selama ini dimainkan oleh Livia.


Kini dengan besar hati, mau tidak mau Zayn harus mengurus bayi itu sendiri setelah kepergian livia. Kepergian yang sangat tiba-tiba dan begitu saja.


Zayn Sebenarnya merasa sangat kesal saat melihat baby alva ketika dirinya kembali teringat oleh sosok ibunya. Namun dia bukan orang jahat yang akan tega menyakiti anaknya sendiri.


Sudah tiga hari ini Zayn dibuat kacau oleh keadaan. Dia menjadi semakin bingung menepatkan dirinya diantara Nadin dan Rafa Setelah mendapati bayi mungil ini.


Sebenarnya dia sangat merindukan Nadin dan juga Rafa yang kini semakin pintar. Namun Zayn memilih untuk menahannya.

__ADS_1


Zayn sering kali mendapatkan kiriman video tentang Rafa dan juga Nadin oleh seorang mata-matanya yang berada di Jepang.


Suara pintu terbuka seketika membuyarkan lamunannya. Zayn menoleh kemudian tersenyum kala melihat sosok adik kesayangannya menghampiri dirinya.


" Kakak.. Diluar ada kak Leon "


Kini Zayn sedang menimang baby Alva yang baru saja ditidurkan olehnya.


" Yah.. Aku akan menemuinya sebentar lagi. "


Laurin masih menatap wajah Zayn. Ada sesuatu yang kini sedang dalam angan-angnnya. Setelah beberapa menit berlalu, laurin memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya.


" Kakak.. "


" hemm.. " Sekilas Zayn menatap wajah cantik adiknya kemudian dia kembali menatap wajah anaknya.


" Apa kakak tidak merindukan Rafa ?? "


Seketika itu zayn berhenti melakukan aktivitasnya. Dia dengan perlahan menatap lekat wajah laurin. Ada sekelebat bayangan yang hadir dipelupuk matanya. Sosok perempuan yang kini sedang dirindukannya.


Zayn kembali menunduk. Menatap lekat wajah tampan anak keduanya itu. Dengan sadar dia merutuki dirinya sendiri. Bahkan kini dirinya tidak memikirkan Rafa.


Mengingat kembali selama tiga hari ini Zayn tidak bisa lepas dari Alva. Entah kenapa, disisi lain ada rasa benci. Namun rasa ketertarikan pada bayi itu sangat jelas.


" Lebih baik kita keluar. Biarkan Alva tidur. "


Laurin merasa sedikit kesal melihat kakaknya yang kini terlihat lebih menyayangi Alva ketimbang Rafa.


Dengan langkah cepat dia segera berbalik dan berjalan keluar. Tidak perduli lagi akan jawaban kakaknya atas pertanyaannya tadi.


Zayn sekilas menatap sendu kepergian laurin dari kamarnya. Dia tahu, jika laurin sedang kesal padanya karena terlihat lebih memperhatikan Alva. Namun, disisi lain dia juga bingung harus bagaimana. Orangtua mana yang tidak merindukan anaknya. Zayn memilih untuk menyimpan rasa sakitnya akan kerinduannya.


Dia segera meletakkan Alva pada box tidurnya. Sejenak dia menatap lekat wajah bayi mungil itu yang kini menjadi bagian dari hidupnya.


Dia sangat sadar jika kehadiran sosok bayi itu akan menjadi penghalang untuk dirinya sendiri. Untuk kehidupannya bersama sang istri beserta anaknya.

__ADS_1


Zayn memejamkan matanya. Sejenak dia berharap ketika menutup mata, maka bebannya akan berkurang. Namun hal itu sia-sia saja dilakukannya.


Zayn merapalkan doa dalam hatinya sebelum akhirnya dia memilih untuk segera pergi dari kamarnya, menemui Leon yang kini sedang menunggunya.


__ADS_2