
"Rumah yang besar." seru Rinjani sesaat mereka tiba di rumah yang proses pembangunannya telah berjalan 70%.
Setelah terdiam berapa lama di sisa perjalanan karena perkataan Ezra, Rinjani akhirnya bisa mengalihkan fokus dari hal yang membuatnya berdebar kencang. Pada dasarnya, Rinjani tidak tahu harus menanggapinya perkataan Ezra. Itu sebabnya ia lebih memilih untuk berdiam diri.
"Jadi rumah yang sekarang nanti di jual ya, mas?" Tanya Rinjani sambil mengamati langit-langit yang tinggi di ruang tengah.
"Mungkin hanya akan disewakan, karena nantinya kami akan tinggal di sini sih." Jawab Ezra menuju ruang berikutnya.
Setelah mengekor dan banyak bertanya ke Ezra, Rinjani akhirnya tahu jika rancangan rumah mewah tersebut adalah project pribadi milik Ezra.
Ezra adalah seorang arsitek, setelah menyelesaikan kuliah magisternya di Singapore, dia sempat bekerja di perusahaan arsitektur terkemuka di sana.
"Rinjani, soal pembicaraan sebelumnya saya serius, bukan bercanda." ucap Ezra setelah mereka dalam perjalanan pulang.
Rinjani menatap Ezra, dan kemudian memalingkan wajahnya. Ia malu, dan berusaha tidak menatap lagi Ezra lagi yang terlihat serius.
"Saya belum kenal mas Ezra." kilah Rinjani menyembunyikan rasa gugupnya. Perkataan Ezra membuatnya berdebar, berbeda ketika Radit yang mengatakan hal sama, Rinjani hanya bisa tergelak tawa geli.
"Makanya kenal, tanyakan saja apa yang mau Rinjani tahu. Kalau saya sih sudah banyak tahu tentang kamu." kata Ezra dengan bijak.
"Iya." singkat Rinjani lidahnya kelu untuk panjang lebar.
"Jadi saya ada peluang, kan?" Tanya Ezra yang terus melontarkan isi hatinya.
"Kita lihat kedepannya yah, mas" jawab Rinjani menatap lampu kendaraan di depannya.
__ADS_1
~~
Sabtu sore Rinjani duduk selonjoran di kursi teras rumahnya, beberapa saat lalu Harry Rajendra mengabari bahwa akan tiba sebentar lagi.
Tak lama kemudian sebuah Pajero Sport hitam berhenti di depan pagar, dengan buru-buru Rinjani mengunci pagar dan naik ke mobil itu.
"Gak usah buru-buru." tegur Harry menatap gadis itu sambil tersenyum.
"Ahhh, ayo berangkat." seru Rinjani setelah memakai seatbelt.
Harry tertawa ringan melihat kelakuan Rinjani, sungguh sesuai umur yang penuh keriangan.
"Kak kita kayak janjian deh, pakai hitam." cetus Rinjani mengamati penampilan Harry yang mengenakan kaos polo berwarna hitam, jeans hitam dan kets hitam. Rinjani sendiri mengenakan mini dress berwarna hitam, vans hitam dan kaos kaki panjang putih, chic style. Dengan penampilan seperti itu, keduanya terlihat sepantaran usia.
"Kalau nonton konser bagusnya pakai hitam." balas Harry "Kita makan dulu yah." lanjutnya sambil memarkirkan mobil di parkiran hotel Jendra. Konser yang dikatakan Harry memang diadakan di Hotel Jendra.
Mereka berdiri berdampingan tidak terlalu jauh dari panggung, Rinjani pun bisa dengan jelas melihat band favoritnya. Sebenarnya, ia sudah beberapa kali menonton SO7 secara langsung tapi Rinjani tidak pernah bosan menonton band tersebut. Selalu ada yang baru di setiap konser Sheila termasuk pria di sampingnya.
Rinjani cukup menahan diri untuk tidak menunjukkan kualitas suaranya yang pas-pasan, ia hanya bernyanyi pelan mengikuti suara Duta dan para penonton yang memenuhi ruangan itu. Harry pun menurut Rinjani hapal semua lagu Sheila, pria itu ikut bersenandung dengan suara lebih bagus daripada miliknya.
Petikan gitar Erros memulai lagu berikutnya, lampu ponsel para penonton ikut menyala.
coba kau tunjuk satu bintang
sebagai pedoman langkah kita
__ADS_1
jabat erat hasil karyaku
hingga terbias warna syahdu.
Koor penonton memenuhi ballroom itu, Harry yang tadinya berdiri di samping Rinjani telah berganti posisi di belakang, dan melingkarkan kedua tangannya di pundak Rinjani. Pun ia bisa merasakan kedua tangan kokoh memeluknya dan dada bidang menempel di punggungnya.
....akan ku ukir satu kisah tentang kita
dimana baik dan buruk terangkum oleh indah...
Suara Harry terdengar indah mengikuti lagu, hal itu memenuhi dada Rinjani yang berdegup kencang. Ia kemudian menaikkan jemari dan memegang tangan kokoh itu. Saat mendongakkan kepala untuk menatap Harry, saat itu pula si pemilik Hotel Jendra mengecup ringan pipi Rinjani.
*******
Tuesday, May 11, 2021
aku sedang mengerjakan revisi CLB, ambyar banget yah nih novel..
aku melihat progress menulisku dari yang asal banget, sekarang semakin ada kemajuan di novel-novel lain. maafkan, jika ada yang mengatakan ini novel kacau..
aku pun belajar, ladies.
menulis bukan hal aku pelajari sejak lama, menemukan aplikasi ini juga dulunya hanya ingin membaca komik, sekarang membaca sudah gak sempat.
__ADS_1
love,
D😘