Cinta Luar Biasa

Cinta Luar Biasa
Berikan Apa Yang Dia Mau


__ADS_3

Seminggu kemudian...


Rinjani membuka amplop coklat yang baru saja diterimanya dari pak pos, dari kop surat berwarna putih itu dia bisa tahu apa kelanjutannya. Semudah mereka bersama, semudah juga Ezra melepaskan.


"Dit, kamu di mana? Bisa ketemu? Sekarang?" Ucap Rinjani terbata-bata


"Aku di cafe *egend, lagi meet up. Kamu kenapa Rinjani? Aku kerumahmu saja. Tunggu!"


30 menit kemudian Radit sudah berdiri di pintu rumah Rinjani dengan penampilan rapi.


"Kamu habis ketemu siapa dit? Rapi banget" tegur Rinjani dengan senyum yang terpaksa


"Ada apa?"


"Ini" kata Rinjani meraih surat di atas meja dan menyodorkannya


Sambil duduk di sofa Radit membaca kertas itu dengan diam dan kemudian meletakkannya. Radit menatap dalam sosok Rinjani tertunduk memainkan ujung celana pendeknya. Dia pun beranjak mendekati Rinjani dan memeluknya. Tubuh sahabatnya langsung tergoncang dan meledaklah tangisnya, air mata yang tertahan berapa minggu terakhir dan ini puncaknya.


"Aku harus bagaimana Aul?" Gumam Radit sambil mengusap punggung Rinjani


"Berikan apa yang dia mau... " Jawab Rinjani kemudian melepaskan pelukan dan menatap Radit dengan air mata masih berjatuhan di pipi "keluarga dan temanmu banyak yang mempunyai pengaruh di kota ini, pasti ada yang bisa membantuku mempercepat keinginan dia"


"Aul, setidaknya bicarakan dengan orang tua dulu, atau ketemulah dengan Ezra" ucap Radit dengan bijak


"Tidak!" pekik Rinjani dengan frustasi, wajahnya menegang dengan sorot mata berapi-api "tidak! Aku tidak mau bertemu dengan dia lagi, ini sudah jelas bukan?"


"Maafkan aku"


"Kamu tidak salah dit" ucap Rinjani


Mereka kembali terdiam


"Aku mau packing" kata Rinjani kemudian berdiri dan berjalan menuju kamar tidurnya

__ADS_1


"Mau kemana?" Tanya Radit sambil membuntuti


"Nginap di hotel, aku takut sendirian di sini. Dan menghindari gosip tetangga, tar dikira kamu penyebab aku bercerai"


"Ke rumahku saja Aul, gak usah ke hotel" bujuk Radit


"Biar gimana aku masih istri orang dit, tar klo sudah kelar aku bebas kemana saja. Kemana saja yang kuinginkan" Ucap Rinjani sambil mengeluarkan koper berwarna hitam dari lemari


"Baiklah" singkat Radit, dan terdiam sebentar kemudian keluar dari kamar, dan menekan layar handphonenya.


"Halo om, ini Raditya"


.....


Nampak pengacara Ezra sedang berdebat dengan hakim sidang setelah mengabulkan permintaan cerai Ezra pada sidang pertama, tanpa melewati tahap mediasi dan segala macamnya. Rinjani sendiri di temani oleh pengacara yang juga teman Radit, mas Dika.


"Biar saya yang mengurus selanjutnya mbak, dah bisa pulang kok" kata Dika


"Makasih mas" ucap Rinjani menyalami pengacaranya dan beranjak keluar dari ruangan itu. Mantan suaminya tak nampak selama sidang, yang membuat semua berjalan lebih mudah. "I'm free" gumamnya lagi dengan hati yang luar biasa plong


Rinjani bertahan tiga hari di kota minyak kemudian memutuskan ke kota S untuk mengurus cabang baru restoran mamanya, setidaknya dia bisa mengalihkan pikiran atau perasaannya yang kadang naik turun. Rinjani terus membenamkan diri dalam kesibukan hingga dua bulan berikutnya.


Mama memanggil


"Halo ma"


"Rinjani, besok lusa mama dan papa kesana"


"Iya, Rinjani tunggu kok"


"Sebenarnya Mama mau cerita"


"Apa?"

__ADS_1


"Tadi siang Ezra kesini, minta maaf sama papa dan mama.... dia menangis dan menyesal dengan perpisahan kalian"


"Terus?" Ucap Rinjani seketika tubuhnya membeku


"Dia pengen ketemu kamu, tapi mama bilang Rinjani tidak di sini"


"Makasih ma, lagian juga Rinjani akan pergi"


Mamanya terdiam beberapa saat, kemudian terdengar helaan napas panjang


"Baiklah nak, jika itu keinginanmu. Lusa kita bicarakan lagi dengan papa juga"


.....


Rinjani menatap kedua sahabatnya bergantian, mereka akhirnya bertemu setelah tiga bulan dia di Kalimantan. Pertemuan kembali sebelum perpisahan yang panjang batinnya.


"Kita sudah bersahabat selama tujuh tahun, selama itu juga kalian selalu menemani...." kata Rinjani dengan tenang "tapi maafkan aku teman, kedepannya biarkan aku sendiri" lanjutnya menatap lurus ke arah Widya


"Hei, apa maksudmu sayang?" Seru Widya menarik tangan Rinjani


"Aku akan ke Inggris.. kuliah" ucap Rinjani dengan datar


"Kapan kamu berangkat?" Kata Radit menatap Rinjani dengan dalam


"Sebentar malam dit" jawab Rinjani membalas tatapan Radit walau sesaat kemudian mengalihkan pandangannya


"Rinjani.... sayangku" seru Widya sambil memeluk Rinjani "jadi kami tidak boleh menengokmu?"


Rinjani mengangguk dalam pelukan


"Janji kau akan pulang saat kamu selesai?" Tanya Widya lagi


"Iya"

__ADS_1


"Jangan pacaran sama bule!" Pinta Widya mengeratkan pelukannya sambil terisak


"Iya... aku janji" balas Rinjani berkaca-kaca


__ADS_2