Cinta Luar Biasa

Cinta Luar Biasa
Kamu Pengecut dan Dia Terlalu Bodoh


__ADS_3

Rinjani melayangkan pandangannya di sekeliling kamar hotel tempatnya menginap mulai malam ini, lusa dia akan menyandang nama nyonya Ezra Bramantya. Hanya berselang dua bulan dari prosesi lamaran menuju pesta penikahan yang sama sekali dia tidak tahu menahu semua tentang urusan persiapan. Kata mas Ezra serahkan saja kepada kedua mama kita.


Tok tok...


Rinjani beranjak dari tempat tidur dengan semangat karena tahu siapa yang datang.


"Sayangku" seru Widya langsung memeluknya saat membuka pintu, ada Radit berdiri di belakang menatapnya dengan datar


Rinjani sengaja meminta kedua sahabatnya datang. Dia pikir inilah saat terakhir mereka bisa bersama, mengingat saat pertemuan terakhir mereka berempat dengan Ezra tidak banyak berbicara dan kaku.


"Hei, kamu apakan rambutmu hahaha" tawa Rinjani saat melihat dengan jelas rambut Radit yang berwarna abu-abu


"Aku ganti style, biar jadi perhatian di kawinanmu besok, mau gaet abang Keanu saja" ucap Radit kemudian memeluk Rinjani agak lama


"Mungkin habis ini, pertemanan kita akan berubah" kata Widya sendu, mereka bertiga sudah terbaring di tempat tidur. Rinjani diapit kedua sahabatnya


Mereka pun terdiam, dengan pikiran masing-masing. Rinjani kemudian tidak bisa menahan perasaannya, air matanya jatuh.


"Kenapa kamu menangis sayang?" Tanya Widya sambil membelai rambut Rinjani


"Harusnya aku senang bukan? Menikah? Tapi hatiku belum terfokus ke rasa bahagia itu"


"Tapi kamu mencintai mas Ezra?" Tanya Widya


Rinjani kemudian mengangkat tangan kanannya, mengepalkan keempat jemari dan membuka jari kelingkingnya

__ADS_1


"Jika ruang cinta di hatiku seperti kelingking ini, perasaanku kepadanya berada di ruas kedua, masih ada satu ruas yang kosong" ucap Rinjani yang kemudian tangannya bergetar


"Sayangku, ini banyak terjadi menjelang hari H, bimbang, gelisah, belum siap, tapi nanti juga saat menjalaninya kamu akan berikan 100% kepada suami, aku yakin kamu pasti bahagia" kata Widya sambil memeluk tubuh Rinjani yang terisak


Radit bangun dan berjalan ke arah jendela, matanya berkaca-kaca. Aku tidak tahu bagaimana menyelamatkanmu Rinjani, semua telah terlambat. Batinnya sambil mengepalkan kedua tangannya yang gemetar.


....


Pesta pernikahan yang mewah, Rinjani bak putri dengan gaun pengantin berwarna putih, lengan tertutup dan bahu terbuka. Dia sangat cantik, kecantikan yang membuat hati Radit terluka lebih lebar.


"Sahabat kita cantik sekali yah dit" kata Widya yang duduk di sampingnya


"Senyumnya dipaksa, dia berpura-pura" gumam Radit menatap Rinjani yang tersenyum dengan orang-orang menyalaminya


"Kamu punya waktu 7 tahun dit" kata Widya menatap lurus ke Radit


"Kamu pikir aku bodoh? Semua orang tahu kecuali Rinjani!"


"Aku takut Wid"


"Kamu pengecut dan dia terlalu bodoh!" Geram Widya, dia mengingat tangisan Rinjani dua malam lalu


Radit tidak bisa membalas perkataan Widya yang sepenuhnya benar.


"Mau kemana?" Seru Widya melihat Radit berdiri

__ADS_1


"Nyanyi"


"Tolong lagu yang bahagia dit" ucap Widya setengah berteriak yang dibalas tanda peace oleh Radit


Mata Widya tak lepas dari Radit yang sedang berbicara dengan band pengiring pesta.


*Bagaimana mestinya


Membuatmu jatuh hati kepadaku?


Telah kutuliskan sejuta puisi


Meyakinkanmu membalas cintaku...


Haruskah kumati karenamu


Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu?


Haruskah kurelakan hidupku


Hanya demi cinta yang mungkin bisa membunuhku?...


-Ada Band-*


"Sialan! gerutu Widya mendengar suara Radit yang indah "awas kamu Raditya Bayuaji Girindrawardhana!" Ini untuk pertama kalinya dia menyebut nama lengkap sahabatnya dengan kesal

__ADS_1


"Aku akan membunuhmu jika kamu mengacaukan pernikahan Rinjani" dengan geram Widya menarik tasnya di atas meja


Terlambat, sosok yang berdiri di samping Rinjani akhirnya tahu dengan benar bahwa sejak awal dia tak salah menilai Radit, sahabat yang mencintai istrinya.


__ADS_2