Cinta Sang Aktor

Cinta Sang Aktor
Bab 101 - Hari Bahagia


__ADS_3

Seminggu setelah kepulangan dari luar kota, Ela jadi sulit untuk dihubungi. Nomornya masih aktif tapi seperti sengaja tak mau mengangkat telponnya ataupun membalas pesannya. Bahkan ketika datang ke butik pun, selalu tak ada Ela disana. Untuk berkunjung ke kediaman Ela, Elmer masih belum cukup keberanian.


Jadilah, Elmer kini gelisah, galau merana karena tak melihat Ela. Sampai-sampai Sam pun harus ikut menemani kegalauan Elmer di dalam apartemen laki-laki itu.


"Jangan minum banyak-banyak Elmer! Besok kau masih harus syuting. Kalau kondisimu tidak baik akan jadi bermasalah."


"Berisik! Aku memintamu datang untuk menemaniku bukan untuk ceramah."


"Kalau memang rindu, samperin ke rumahnya," usul Sam.


"Papanya tidak menyukaiku."


"Aku tahu, tapi kalau dia bisa melihat kesungguhan mu, pasti lama-lama akan luluh juga. Kau ini orang yang paling percaya diri yang aku kenal Elmer. Masa cuma gara-gara kau tidak disukai oleh Om Richard, kau malah menciut sih? Ini bukan Elmer yang aku kenal."


Elmer langsung bangkit dari duduknya dan hendak keluar dari apartemennya.


"Mau kemana?" tanya Sam.


"Ke rumah Ela lah, kemana lagi coba? Aku kan harus bicara dengannya."


Sam menepuk jidatnya sendiri. Ia benar-benar dibuat kesal oleh tingkah Elmer yang sembarangan begini. Ia berdiri dan mendorong Elmer untuk duduk kembali.


"Kenapa melarang sih? Tadi kan kau yang bilang kalau aku harus percaya diri. Sekarang aku sudah percaya diri dan siap untuk bertemu dengan om Richard dan menghadapinya. Aku akan membuat dia menyukaiku supaya bisa mendapatkan restunya."


"Astaga! Nggak sekarang juga Elmer!" Sam geram sekali dengan Elmer. Ya wajar aja sih, Elmer sudah sedikit mabuk.


"Kau tidak boleh datang kesana dengan keadaan seperti ini. Bisa-bisa kau langsung di blacklist dari list calon mantu. Yang ada nantinya kau yang kecewa pada dirimu sendiri."


"Oh, benar juga," ucap Elmer yang setuju juga dengan ucapan Sam. Namun beberapa detik setelahnya Elmer berdiri lagi dan hendak pergi.


"Kalau begitu aku harus berdandan rapih supaya Om Richard tak mengira aku anak berandalan."


Sam menepuk jidatnya lagi. Bicara dengan orang yang setengah sadar itu begitu merepotkan. Sam menepuk-nepuk pelan pipi Elmer supaya kesadarannya cepat pulih. Tapi yang ada Elmer malah menangis. Sam dibuat bingung dengan keadaan Elmer saat itu.


"El, woy! Elmer! Jangan begini dong! Aku takut nih kalau tiba-tiba kau kesurupan."


Itulah yang dipikirkan oleh Sam. Sebab kata beberapa orang, orang yang mudah dirasuki oleh hantu adalah orang yang kalut dan menangis serta pikirannya kosong. Sam benar-benar takut kalau Elmer sampai kesurupan.


"Hiks ... hiks ... Kenapa percintaanku tak pernah mulus? Dulu aku sangat mencintai seseorang tapi malah dikhianati. Kini aku mencintai orang lagi tapi kenapa rasanya susah sekali untuk bersatu? Kenapa seakan-akan Semesta tak menyetujuinya? Kenapa?" Isak tangis Elmer.


Sam bernapas lega, karena Elmer bukan kesurupan. Ini hanya efek dari minum yang jadi bicara melantur. Sam duduk dengan tenang di samping Elmer sambil terus mendengarkan curahan hati Elmer yang selama ini tak pernah Sam dengar sama sekali.


*


*


Pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke lokasi syuting, Elmer sudah berkunjung ke butik milik Ela, laki-laki itu datang bersama dengan Sam kesana. Seperti biasanya tujuannya ya cuma satu yaitu bertemu dengan Ela. Hanya saja, Ela tak ada disana.

__ADS_1


"Maaf banget Kak Elmer, tapi Kak Ela memang sudah hampir seminggu nggak kerja di butik, dia selalu kerja dari rumah," jawab Alin.


"Kira-kira kau tahu tidak kenapa Ela begitu?"


Alin menggeleng, karena memang ia benar-benar tak tahu. Ia hanya diberikan amanah untuk menjaga dan mengurus butik dengan baik selagi Ela bekerja dari rumah.


Elmer tampak frustasi, tapi malah menarik-narik tangan Elmer karena waktu mereka sudah mepet.


"Kalau begitu, jika Ela datang ke butik langsung hubungi aku ya."


Di saat Elmer akan memberikan nomor nya ke Alin, Sam langsung memberikan kartu namanya ke Alin.


"Langsung hubungi aku saja. Kalau begitu kami permisi dulu Alin."


Sam mendorong-dorong tubuh Elmer supaya cepat pergi dari butik. Ketika sudah duduk di mobil dan mobil sudah melaju, Elmer ngomel-ngomel ke Sam.


"Aku bukannya melarang mu untuk bertemu Ela. Tapi situasinya sekarang sangat genting Elmer. Kau ada press conference beberapa menit lagi. Duh! Mana jalanan lagi macet-macetnya lagi."


Sam benar-benar pusing, karena tak ingin datang telat tanpa kabar apapun, Sam langsung menghubungi sutradara dan mengatakan ia dan Elmer terjebak kemacetan di jalan. Untungnya, sutradara mengerti, karena ada pemeran lain juga yang izin terlambat dengan alasan yang sama.


"Menurutmu kenapa ya Ela jadi seolah-olah menghindar dariku? Aku rasa terakhir kali aku bertemu dengannya kita masih baik-baik aja. Bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya. Aneh nggak sih?"


"Aku sedang tak bisa berpikir Elmer! Cari jawabannya sendiri aja."


Elmer mendengus sebal lalu ia melirik ke kaca mobil dan melihat ke jalanan yang dilewatinya.


*


*


Kini Mama Naya sudah ada di depan kamar Ela. Mau mengetuk pintu, tapi ia sedikit ragu. Sampai akhirnya, Ela sendiri lah yang membuka pintu karena memang ingin keluar.


"Ada apa Ma?" tanya Ela yang bingung dengan mamanya yang ada di depan kamar.


"Ah, nggak, cuma mau bicara sebentar. Apa kau bisa?" Ela langsung mengangguk dan mengekor di belakang mamanya.


Mama Naya membawa Ela ke taman di samping rumah. Mereka duduk berdua di kursi sambil melihat bunga-bunga yang bermekaran disana.


"Mama nggak tahu apa yang sedang kau pikirkan, dan kau kerjakan. Tapi bisakah, jangan buat mama khawatir? Kau seperti tidak terlihat Ela yang mama kenali. Ada apa?"


Ela sedikit menunduk dan memejamkan matanya kemudian ia menoleh dan meraih tangan mamanya sambil mengusapnya.


"Aku nggak papa, Ma. Jangan khawatir."


Mama Naya tak bisa langsung percaya akan hal itu. Apalagi sorotan mata Ela memancarkan aura kesedihan di dalamnya.


"Kalau kau memang tidak bisa cerita ke mama. Ceritakan ke orang yang kau percayai. Mama nggak ingin kau memendamnya seorang diri."

__ADS_1


Mama Naya mengusap tangan Ela dengan tangan satunya.


"Jangan kau pikir mama selama ini nggak tahu kalau kau memendam masalahmu sendiri. Mama tahu El, tahu sekali. Tapi mama mencoba diam, karena mama yakin ada alasan kenapa kau tidak mau cerita ke mama. Tapi tolong, jangan pendam sendirian."


"Mama!"


Ela langsung memeluk mamanya. Ia benar-benar tak menyangka mamanya segitu memahami dirinya.


"Nggak papa, nggak papa untuk nggak baik-baik aja. Semua orang pasti punya masalah dalam hidupnya. Kau harus bisa melewatinya Ela. Mama selalu mendukungmu."


"Apa aku boleh minta satu permintaan?" ucap Ela sambil melepas pelukan dari mamanya.


"Apa itu?"


*


*


Di sela-sela waktu kosongnya, Elmer terus bertanya ke Sam tentang Alin.


"Apa dia sudah menghubungimu soal Ela?"


"Belum Elmer. Kau sudah menanyakan itu berkali-kali. Aku sampai bosan mendengarnya."


"Menurutmu kenapa dengan Ela?" Elmer bertanya lagi.


"Entah, aku tak tahu dan tak mau tahu."


"Menyebalkan! Kau menyebalkan Sam!"


Sam menghela napasnya sejenak.


"Mau aku temani untuk mengunjungi rumah Ela?" tawar Sam yang membuat Elmer langsung melihat ke arah Sam.


"Kau mau menemaniku?" tanya Elmer memastikan.


"Iya sebelum aku berubah pikiran. Tapi tidak dalam waktu dekat ini. Jadwal mu sudah sangat padat. Gimana kalau pekan depan?"


Mau tak mau Elmer pun menurut saja. Karena sangat tidak mungkin ia mengorbankan pekerjaannya hanya untuk Ela saja. Apalagi ia sudah tanda tangan kontrak dengan berbagai merk brand.


"Baiklah."


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2