
Paginya, sebelum berangkat ke lokasi syuting, Elmer pergi ke butik Ela terlebih dahulu. Anehnya, Elmer tidak keluar dari mobil, melainkan hanya mengamati dari dalam mobil. Sam yang ada disana jadi bingung juga.
"Kenapa tidak turun dan menyapanya seperti biasa?" tanya Sam.
"Tidak, aku cuma ingin melihatnya saja hari ini. Karena sudah lihat, jalankan mobilnya, kita langsung ke lokasi syuting jangan mampir-mampir kemana-mana lagi," ucap Elmer.
Sam pun menurut walaupun masih ada pertanyaan di dalam kepalanya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Tak ada obrolan di antara keduanya. Sam fokus menyetir dan Elmer pun fokus dengan pikirannya sendiri. Laki-laki itu masih teringat tangisan Ela semalam. Tadi ia pergi ke butik cuma ingin memastikan kalau Ela baik-baik saja. Dan memang benar, Ela terlihat baik-baik saja, meskipun mungkin batinnya tidak.
Elmer dan Sam sudah sampai di lokasi syuting drama terbarunya. Elmer berjalan tanpa senyum. Berbeda dengan Sam yang ramah ke semua orang. Meski begitu, orang-orang sangat mengidolakan Elmer karena aktingnya yang luar biasa. Bahkan setiap film ataupun drama yang dibintanginya selalu meledak di pasaran.
Kini Elmer tengah dirias wajahnya oleh MUA. Seperti biasa Elmer selalu meminta orang yang kerja dengannya adalah pria. Selesai itu, Elmer langsung melakukan take syuting pertamanya.
*
*
Siang harinya, Ela kedatangan tamu yaitu kakak iparnya sendiri. Aura datang kesana hanya ingin berkunjung dan melihat bagaimana adiknya bekerja. Ia takut kalau Alin akan menyusahkan Ela.
"Alin tidak menyusahkan mu kan, El."
"Tidak kok, Alin malah banyak membantuku."
"Ah, syukurlah kalau seperti itu." Aura merasa lega karenanya.
"Tumben kesini, ini kan lagi jam makan siang, bukannya seharusnya pergi ke kantor Rendra ya? Pasti dia sedang menunggu makan siang dari istrinya," ucap Ela yang agak heran.
"Rendra ada meeting di luar dengan klien sekalian makan siang bersama. Jadi, aku tidak kesana."
Ela mengangguk-angguk mengerti.
Aura memulai obrolan lagi dengan Ela mengenai laki-laki yang pernah berkunjung ke rumah.
"Kata mama, kau pernah jalan sama pria dan pria itu menjemputmu dari rumah. Siapa dia?"
Ela menghela napas berat. Seharusnya ia tahu, kalau Mama Naya pasti akan menginformasikan hal tersebut ke Aura. Apalagi mengingat dirinya yang belum mau menikah padahal usianya sudah kepala 3.
"Dia cuma rekan kerjaku." jawab Ela.
Aura mengangguk-angguk saja. Meskipun ia merasa ada hal lain yang disembunyikan oleh Ela.
__ADS_1
"Kau tahu kan, kalau kau butuh teman cerita atau opapun, kau bisa datang padaku."
Ela mengangguk.
"Ya sudah, aku pinjam Alin sebentar ya, tidak akan lama kok."
"Ya," jawab Ela.
Aura keluar dari ruangan Ela dan mengajak Alin untuk pergi sebentar dari butik.
Di kesendiriannya itu, terngiang-ngiang mimpi semalam. Wajah Ela yang tadinya ceria jadi murung lagi. Saking murungnya, Ela tak bisa lagi fokus bekerja. Ia pun meninggalkan ruangan dan pergi keluar dari butik.
*
*
Mobil yang dikendarainya terus melaju sampai akhirnya berhenti di sebuah gedung SMA tempat Ela bersekolah dahulu. Beberapa siswa-siswi ada yang berkeliaran keluar untuk mencari jajan. Ela hanya terus berada di mobil tanpa berniat untuk turun. Sampai si penjaga sekolah mendatanginya dengan mengetuk kaca mobil Ela.
Ela membuka kaca mobilnya. Dan melihat Pak Bandi, penjaga sekolahnya dahulu yang ternyata masih disana sampai sekarang.
"Nona Ela, kenapa tidak masuk ke dalam? Kenapa malah berhenti disini?" tanya Pak Bandi yang ternyata masih mengingat Ela meskipun sudah bertahun-tahun lamanya. Bagaimana tidak ingat, kan Ela adalah salah satu murid pintar juga orang tuanya yang menjadi donatur utama di sekolah tersebut.
"Tentu saja Non. Apalagi sekarang fasilitasnya sudah banyak."
Ela mengangguk-angguk mengiyakan kemudian berpamitan untuk pergi. Setelah beberapa menit mengemudikan mobilnya, Ela menghentikan lagi mobilnya lalu menaruh kepalanya di stir kemudi.
"Semuanya sudah berlalu, kenapa rasanya masih seperti baru saja terjadi kemarin? Apa gara-gara mimpi semalam, aku jadi mengingat dengan jelas lagi semuanya?"
Ela menghela napas berat kemudian mengangkat kepalanya dan menyandarkannya ke kursi mobil. Mencoba memejamkan matanya dan yang tergambar jelas ketika matanya tertutup hanyalah wajah Valdi. Laki-laki yang disebutnya semalam.
Karena tak mau terus berlarut memikirkan itu, Ela melajukan lagi mobilnya sampai berhenti di sebuah taman. Disana, Ela berjalan dengan sambil menikmati udara yang sepoi-sepoi meskipun panasnya bisa membuat kulit Ela gosong.
Ketika melihat kursi kosong, Ela duduk disana sambil menikmati melihat pohon yang menjulang tinggi. Sampai ketika, suara dering telepon membuatnya mau tak mau mencari ponselnya yang ada di dalam tas.
Rupanya orang yang menelponnya adalah Elmer. Laki-laki tersebut masih belum menyerah juga untuk mendapatkan hati Ela.
"Ada apa? Apa seorang aktor sesenggang ini sampai bisa menelpon seseorang?"
"Sesibuk apapun aku, kalau untuk orang yang aku sukai, aku harus meluangkan waktu. Aku cuma mau mengajakmu pergi nanti malam. Apa kau mau?" ajak Elmer.
"Datang ke rumah dan minta izin ke papaku, kalau dia mengizinkan, aku akan ikut bersamamu," ucap Ela dengan sangat tegas. Karena wanta itu yakin, kalau papanya pasti tidak akan mengizinkan. Berbeda dengan mamanya yang mungkin mengizinkan dengan mudah.
__ADS_1
"Oke, nanti aku akan datang ke rumahmu. Kau tahu kan, semakin ditantang, aku akan semakin gencar mengejar mu, El."
"Hm," jawab Ela kemudian mematikan panggilannya secara sepihak.
"Asal kamu tahu saja Elmer, papaku tidak akan semudah itu mengizinkanku untuk pergi dengan laki-laki."
*
*
Malam harinya, Elmer benar-benar datang ke kediaman Kavindra sendirian. Ia sudah menyiapkan mental dan penampilannya supaya terlihat wow di depan papanya Ela. Elmer mengetuk pintu rumah itu, dan pas sekali ternyata yang membuka pintunya adalah Richard.
Sorotan mata Richard langsung melihat mer dari atas sampai bawah.
"Mau apa datang kesini?" tanya Richard sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Mengajak Ela pergi keluar sebentar Om. Apa Om mengizinkan?"
Elmer langsung saja pada intinya, ia tidak pandai berbasa-basi.
"Mau kemana?" tanya Richard dengan mata yang penuh selidik.
"Cuma jalan di sekitar taman Om. Tenang saja, saya akan cari tempat sepi supaya tidak jadi pusat perhatian. Saya juga sudah membawa peralatan lengkap supaya tidak dikenali orang. Jadi Om tidak usah khawatir kalau ada gosip-gosip lagi."
Mata Richard langsung mendelik tajam ketika mendengar kata tempat sepi. Pikirannya langsung tertuju pada kegiatan yang tidak-tidak. Ia tidak mau putri kesayangannya itu diicip-icip oleh laki-laki.
"Pulang sana! Aku tidak akan mengizinkan mu untuk keluar membawa anakku! Pasti kau mau berbuat tidak baik padanya. Aku sudah hapal betul segala macam laki-laki buaya."
Jelas lah dia tahu, orang dulunya juga macam buaya.
"Nggak Om. Saya tidak akan berbuat seperti apa yang dipikirkan oleh Om. Saya cuma ingin ajak Ela untuk refreshing Om."
"Sayang, kenapa lama sekali di sana? Memangnya ada tamu siapa?" teriak Naya dari dalam rumah.
Richard yang tidak ingin Naya keluar dan tahu siapa yang datang pun langsung mendorong Elmer menjauh dan menutup pintu rumahnya.
*
*
TBC
__ADS_1