Cinta Sang Aktor

Cinta Sang Aktor
Bab 41 - Taman


__ADS_3

Elmer dan Ela telah sampai di tempat tujuan yaitu di taman yang tampak sepi tapi ada banyak penerangan disana. Sekilas terlihat seperti tak ada yang istimewa disana.


Elmer pun membawa Ela untuk duduk di bangku taman yang berhadapan langsung dengan air mancur.


"Jadi, hanya ini permintaanmu? Cuma menemani mu duduk di taman?" tanya Ela memastikan.


Elmer mengangguk. Lalu menjawab, "Cuma ini tapi sangat berarti El. Kau kan tahu siapa aku dan bagaimana terkenalnya aku. Kalau di siang atau sore hari biasanya disini penuh. Mana mungkin aku berani kesini. Yang ada aku dikerumuni banyak fans."


"Ya, itu memang benar sih," balas Ela yang mengiyakan ucapan Elmer.


"Apa kau sering kesini sendirian malam-malam?" tanya Ela lagi.


"Ya, hampir setiap pekan mungkin. Biasanya aku kesini untuk menghilangkan suntuk dan jenuh akan rutinitas ku."


"Tidak mengajak Sam?"


Elmer menggeleng.


"Kasian, dia lah yang paling capek, hampir setiap hari kerja, mengurus ku ini dan itu. Ya, walaupun aku selalu terlihat tak peduli padanya. Tapi dialah orang yang paling aku percayai."

__ADS_1


Ela sedikit mengerti sekarang. Di balik sikap Elmer yang percaya dirinya setinggi langit dan terlihat agak mudah marah. Ia memiliki rasa empati juga.


Di tengah suasana yang cukup mendukung dengan udara dingin dan angin yang terus berhembus ke arah mereka. Sebenarnya Elmer ingin memakaikan jaketnya ke Ela supaya romantis seperti di film-film. Namun, sirna sudah khayalannya itu karena Ela juga memakai jaket yang tebal.


Huh! Kenapa pakai jaket yang tebal segala sih! Aku kan jadi tidak bisa bersikap romantis, gerutu Elmer di dalam batinnya.


"Ela, kenapa kau sampai sekarang belum menjawab pernyataan cintaku?" tanya Elmer.


Ela langsung menoleh ke Elmer kemudian balik lagi dan menatap lurus ke depan.


"Kan sudah aku bilang, aku tidak menganggap serius pernyataan cintamu. Jadi, untuk apa dijawab?" balas Ela.


"Ya, sudah. Aku tidak mau. Itu jawabannya," balas Ela.


"Aih, kalau akan dijawab tidak begitu, lebih baik kau gantung saja perasaanku. Aku tidak akan menganggap penolakanmu malam ini ada."


"Hih, dasar aneh! Giliran udah dijawab, malah kaya gitu."


"Bodo."

__ADS_1


Keduanya pun sama-sama terdiam dan memandang langit yang sama. Ada banyak bintang di atas sana dengan bulan sabit sebagai temannya.


Elmer mulai bertanya lagi.


"Kenapa sepertinya kau terlalu menutup diri untuk laki-laki? Apa kau punya masa lalu yang buruk tentang itu?"


Ela tak menjawabnya, tapi helaan napas terdengar dari wanita itu, membuat Elmer sadar bahwa memang Ela memiliki masa lalu buruk juga mungkin. Karena Ela tak kunjung berbicara, Elmer pun mulai bercerita tentang dirinya. Padahal awalnya ia ingin Ela sendiri yang bertanya dan penasaran padanya. Tapi kalau terus menunggu waktu itu, mungkin sampai lebaran monyet pun tak akan pernah terjadi.


"Aku akan menceritakan tentang diriku. Meski mungkin kau tidak terlalu penasaran tentang itu. Tapi, aku harap kau bisa menjadi pendengar yang baik dan di malam ini kita bisa berbagi kisah masing-masing. Mau itu kisah yang indah ataupun buruk."


Elmer mulai menghela napasnya. Sebenarnya agak sulit juga baginya untuk menceritakan ini apalagi ini sangat-sangat privasi. Hanya dua orang saja yang mengetahui traumanya. Tapi, ia yakin, Ela pun bisa dipercaya dan ia akan menjadikan Ela orang ketiga yang mengetahuinya.


"Jangan cerita apapun, karena aku tidak ingin berbagi cerita denganmu," ucap Ela.


"Tidak apa-apa, aku akan tetap cerita. Mungkin saja setelah mendengar ceritaku nantinya, hatimu akan tergerak dan mulai memandangku berbeda dari biasanya."


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2