
Di sebuah cafe dengan desain interior yang sangat indah, Ela dan Aura duduk saling berdampingan. Aura datang kesana sendirian, karena kalau membawa Reynard pasti akan mengacaukan semuanya. Bocah kecil itu pasti tidak bisa diam.
"Jadi apa yang mau kau ceritakan?" tanya Aura sambil menyeruput kopi amerricano nya.
Ela jadi ikut menyeruput vanilla latte nya. Lalu mulai menarik napasnya perlahan. Ia menceritakan segala keresahan di dalam hatinya seperti yang pernah ia ceritakan juga ke Elmer. Aura terus mendengarkan Ela cerita sampai selesai. Ketika tak ada lagi yang diucapkan oleh Ela, Aura menggenggam tangan Ela.
"Itu bukan salahmu. Jadi jangan menyalahkan diri sendiri. Kau berhak bahagia. Kau berhak mencintai laki-laki di muka bumi ini. Jangan terpacu pada masa lalu, karena kau hidup untuk masa sekarang dan masa depan. Lepaskan semua keresahan mu itu."
Mendengar ada dua orang yang mengatakan kalau itu bukan salahnya. Ia menjadi terharu.
"Apa karena ini kau selalu menolak ketika mama papa jodohkan?"
Ela spontan langsung mengangguk.
"Tapi bukan karena itu saja, aku memang belum siap untuk memiliki hubungan dengan seorang pria."
"Lalu, bagaimana dengan si Elmer itu? Bukannya dia gencar sekali mengejar mu. Aku juga sudah dengar kalau kau pernah liburan bersamanya. Ah, aku ingat, apa saat kau mengajak Reynard waktu itu. Itu ya hari dimana kau liburan dengan Elmer?"
Ternyata Aura masih ingat hari itu. Ela pun mengangguk lagi. Sambil menceritakan tentang sikap Elmer yang belum menyerah untuk mendapatkan hatinya.
"Aku dan Elmer itu hanya sebatas partner kerja dan ada sesuatu hal yang nggak bisa aku ceritakan. Kami sama-sama mengetahui rahasia masing-masing. Tapi, entahlah, rasanya kalau suka, sepertinya belum. Aku benar-benar tidak tahu."
Ela memegang kepalanya dan menaruhnya di meja karena bingung dengan perasaannya sendiri.
Aura hanya tersenyum saja mendengarnya. Mungkin Ela masih belum menyukai Elmer. Tapi, mereka sudah saling percaya satu sama lain. Setidaknya ada satu poin dari hubungan mereka yang nantinya akan semakin tumbuh dan berkembang.
"Jangan menyia-nyiakan seseorang yang mencintaimu dengan tulus. Kalau kau masih belum mencintainya. Setidaknya coba untuk mencintainya. Dengan begitu, kau bisa merasakan bagaimana cinta pada laki-laki asing yang bukan keluarga mu sendiri. Jangan takut untuk sakit hati. Karena pada kenyataannya ketika seseorang sudah jatuh cinta dia harus siap akan konsekuensinya nanti. Kalau kau tidak mencobanya, bagaimana bisa kau tahu."
Ela jadi terus memikirkan ucapan Aura itu. Ya memang sih dirinya terlalu takut untuk jatuh cinta. Tapi ah ...
Wajah Ela terlihat sedang bimbang dan butuh arahan. Aura jadi tersenyum geli melihatnya. Ia jadi teringat dengan Rendra dulu yang tak percaya cinta juga karena sering disakiti wanita. Sementara pada kembaran Rendra, yaitu Ela, dia takut untuk jatuh cinta. Benar-benar saudara yang sangat klop satu sama lainnya.
"Coba dulu, buka hatimu pelan-pelan. Elmer kelihatan baik kalau aku dengar dari cerita mama. Meskipun sepertinya, papa Richard masih belum suka dengan Elmer."
__ADS_1
"Haaah!"
Ela menghela napasnya kasar.
"Supaya hatimu jadi lebih baik. Coba kunjungi makam orang itu. Doakan semoga dia tenang di alam sana. Aku yakin, setelahnya kau akan merasa lega."
Ah, benar juga. Memang sudah lama sekali, Ela tak pernah berkunjung ke makam Valdi lagi. Terakhir kalinya adalah saat ia lulus kuliah dulu.
"Apa papa dan mama tahu mengenai hal ini?"
"Papa mama tahu kalau temanku kecelakaan karena menolongku. Tapi mereka tidak tahu kalau orang itu menyukaiku. Aku memang sengaja tidak ingin bercerita."
"Bagaimana dengan Kak Elnan dan Rendra?" tanya Aura lagi.
"Mereka juga tidak tahu. Tak ada yang tahu kalau aku menyimpan keresahan dan kegelisahan itu."
Seketika sebuah pelukan Aura berikan ke Ela. Ela sudah sangat kuat menjalani hidupnya dengan perasaan bersalah itu. Pasti sangat tidak nyaman memendamnya sampai bertahun-tahun. Mungkin jika dia, entah bagaimana jadinya.
"Sudah cukup, sudah cukup kau menyiksa dirimu. Sekarang terbang lah seperti kupu-kupu ke alam yang bebas. Kalau butuh seseorang untuk mendengarkan ceritamu lagi. Aku siap El. Kita sudah jadi keluarga."
Aura melepaskan pelukannya dan menghapus air mata di pipi Ela.
"Mungkin Rendra nggak tahu masalah apa yang terjadi padamu. Tapi, aku yakin dia bisa merasakan rasa sakit mu. Karena kalian kembar dan bisa merasakan kesakitan dari satu sama lain. Haruskah aku sembunyikan ini semua dari Rendra juga?"
Ela mengangguk.
"Aku tidak ingin mereka semua khawatir. Biarlah seperti ini saja."
"Baiklah jika itu maumu. Kalau begitu, ayo kita pulang. Hari sudah mulai gelap. Aku keluar terlalu lama. Takutnya Reynard nangis dan mencari ku."
*
*
__ADS_1
Ela tidak langsung pulang ke rumahnya karena ia harus ke butik dulu mengambil desain pakaian yang sudah digambar setengahnya tadi. Ketika sampai, Ela diberitahu oleh Alin tentang kedatangan Elmer tadi.
Ela jadi teringat akan ucapan Aura yang menyarankannya untuk mencoba dulu. Ia pun langsung menghubungi Elmer lewat panggilan suara.
"Akhirnya kau menghubungiku juga," ucap Elmer di seberang telepon sana.
"Ada apa?" tanya Ela.
"Sebenarnya nggak ada apa-apa sih. Cuma mau ketemu aja tadi, tapi kau tidak ada di butik. Makanya aku meminta Alin untuk menyampaikan saja kalau aku datang. Intinya sih, aku cuma mau dihubungi olehmu lebih dulu, hehe."
Ucapan Elmer itu diakhiri tawa kecilnya. Rasanya bahagia saja, jika Ela yang menghubunginya duluan. Vibe nya berbeda dengan saat dia duluan yang menghubungi. Kupu-kupu di perutnya pun banyak sekali yang berterbangan keluar.
Ela hanya bisa geleng-geleng kepalanya. Andai aja ada Elmer di depannya mungkin ia sudah menjitak kepala Elmer.
"Ya sudah aku tutup dulu."
"Eh, jangan dong. Baru juga sebentar," ucap Elmer yang tidak rela panggilan nya harus selesai.
"Aku harus nutup butik dulu. Kasian Alin kalau nutup sendirian. Udah ya."
Mau tidak mau. Suka tidak suka, Elmer pun membiarkan Ela menutup sambungan telepon mereka. Tapi setelah selesai nantinya. Ia akan telepon kembali. Karena cuma beberapa menit saja rasanya tidak cukup bagi Elmer.
Butiknya sudah dikunci, Ela mengantarkan Alin pulang ke rumah. Lalu melajukan lagi mobilnya menuju jalan ke rumahnya. Di sepanjang jalan, pikiran Ela cuma berputar-putar disitu-situ aja.
"Kalau kau tidak mencobanya, bagaimana kau akan tahu?"
Haruskah? Haruskah ia benar-benar mencoba untuk jatuh cinta? Haruskah itu? Sementara ia masih belum siap. Belum siap dengan konsekuensi atas jatuh cinta itu sendiri.
*
*
TBC
__ADS_1
Bab-bab sebelumnya sudah aku revisi ya. Mohon maaf atas ketidaknyamanan bacanya. Kayanya aku lagi ngantuk dan salah masukan cerita, hehe.
Supaya ceritanya nyambung, bisa dibaca dari bab 59 atau 60 ya.