
"Jangan cerita apapun, karena aku tidak ingin berbagi cerita denganmu," ucap Ela.
"Tidak apa-apa, aku akan tetap cerita. Mungkin saja setelah mendengar ceritaku nantinya, hatimu akan tergerak dan mulai memandangku berbeda dari biasanya dan mungkin juga kamu yang awalnya tidak mau bercerita jadi cerita padaku," balas Elmer.
Ela diam tak menjawab lagi. Karena rasanya akan percuma. Bicara dengan Elmer, pasti ujung-ujungnya laki-laki itu yang menang.
Elmer menghela napasnya lagi.
"Apa kau pernah mendengar ada laki-laki yang trauma akan sentuhan wanita? Atau ada laki-laki yang jika disentuh wanita akan merasakan kesakitan, mual dan muntah-muntah, keadaan terburuknya mungkin bisa pingsan dan sekarat saat itu juga."
Elmer menunggu balasan jawaban dari Ela yang dari tadi terlihat tidak peduli dengan apa yang dikatakan Elmer. Namun, Ela tetap diam dan mendengarkannya dengan baik.
"Mana ada yang seperti itu. Adanya juga kebanyakan laki-laki yang suka menyentuh wanita sembarangan," jawab Ela. yang mulai menanggapi.
"Tapi, nyatanya, ada laki-laki seperti itu Ela. Dan salah satunya adalah aku," jawab Elmer dengan percaya diri.
Ela langsung menoleh karena terkejut. Ia merasa tidak percaya akan hal itu. Karena pada kenyataannya, selama ini Elmer pernah menyentuhnya, pernah memeluknya tanpa izin, tapi tetap baik-baik saja dan tidak terjadi hal buruk seperti yang Elmer ucapkan tadi.
"Jangan karena kau seorang aktor, kau bisa membodohi ku ya. Buktinya setiap kau menyentuhku, kau tidak mual atau muntah tuh," jawab Ela yang masih tak percaya.
__ADS_1
"Aku tidak sedang membodohimu. Aku juga tidak tahu jawabannya. Karena hanya padamu aku tidak merasakan kesakitan itu. Tapi jika wanita lain, aku akan mulai merasakan kesakitan itu. Kau ingat? Kejadian beberapa kali aku memelukmu tanpa izin? Itu traumaku akan sentuhan wanita sedang kumat. Kau juga pasti bisa merasakan bagaimana napas ku yang memburu. Anehnya, setiap kali aku dekat denganmu, rasa mual dan sakit itu akan menghilang perlahan-lahan."
Ingin tidak percaya, tapi apa yang dikatakan Elmer tidak ada yang bohong. Ia memang tahu di saat itu, Elmer terlihat kesakitan.
"Karena aku memiliki kekurangan itu, makanya aku memilih mengambil peran sebagai aktor laga dan genre thriller. Untuk meminimalisir sentuhan dengan wanita. Namun, tetap saja, semua itu tidak bisa diprediksikan. Untungnya, ada Sam yang selalu siap siaga menjagaku dan menyiapkan obat penghilang mual untukku,"
Elmer tampak menghentikan ceritanya. Ia mengambil napas pelan. Lalu memulai lagi ceritanya.
"Aku ingin sembuh dari segala rasa sakit itu, tapi rupanya sangat sulit. Apa kau ingin dengar, apa penyebab traumaku terhadap sentuhan wanita?" tawar Elmer.
"Aku bisa menebaknya, pasti kau disakiti wanita. Atau kau pernah dilecehkan wanita? Dengan menyentuh bagian inti mu?" tebak Elmer.
"Kau benar, aku memang disakiti wanita yang dulu pernah aku cintai. Mau dengar cerita secara keseluruhan?" tawar Elmer lagi.
"Baiklah, aku akan cerita karena sepertinya kau mulai penasaran tentangku," ucap Elmer dengan percaya dirinya.
Ela pun mendengus sebal.
"Kau itu tidak bisa ya? Kalau bertemu denganku jangan terlalu percaya diri?"
__ADS_1
"Tidak bisa, karena kepercayaan diri adalah poin penting dalam diriku."
"Ya, ya, ya."
Ela tampak memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya. Udara malam terasa mulai lebih dingin dari ketika mereka datang.
"Mau pindah tempat saja?" tawar Elmer.
"Tidak usah, dinginnya cuma sedikit, aku masih bisa menahannya."
Karena Ela yang tak mau beranjak dari sana. Elmer pun mengeluarkan permen jahe dari saku jaketnya.
"Makanlah, mungkin bisa sedikit membantu menghangatkan."
Ela mengangguk.
Elmer mulai bicara lagi, bahkan kali ini rasanya lebih sulit daripada menceritakan tentang traumanya. Karena ia harus mengingat kembali kenangan yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Ketika orang yang dicintai dan dipercayainya rupanya jadi orang yang menyakiti paling banyak.
*
__ADS_1
*
TBC