Cinta Sang Aktor

Cinta Sang Aktor
Bab 69 - Tersesat


__ADS_3

Lokasi syuting drama di lakukan di luar kota, tepatnya di sebuah hutan pinus. Ela pun terpaksa ikut karena memang sudah menjadi tugasnya. Apalagi stylish yang biasa mengurus pakaian ara pemain sedang sakit. Jadi, dia lah yang menggantikannya.


Ela memerhatikan adegan yang diperankan oleh beberapa pemain. Ia juga melihat ke tempat lain, dimana disana Elmer sedang latihan sebelum melakukan take pengambilan video. Laki-laki itu terlihat sangat fokus, sampai tak sadar diperhatikan oleh Ela.


Sebuah tangan mendarat di bahu Ela. Ela langsung menepisnya dan melihat siapa orang yang memegang bahunya.


Laki-laki itu memperlihatkan senyumnya yang mungkin akan terlihat manis di mata para wanita, tapi dia bukan salah satu dari wanita-wanita itu. Senyuman itu terlihat seperti senyuman seorang playboy yang sedang menebarkan cinta.


"Kau itu kenapa sih? Kalau lihat aku sepertinya langsung sinis begitu. Padahal sekarang kita sudah saling tahu nama masing-masing. Dan ternyata aku salah mengira, aku pikir kau adalah salah satu pemeran dalam drama ini juga. Ternyata kau adalah pemilik salah satu sponsor sekaligus staylish. Benar-benar di luar ekspektasi ku."


"Sebenarnya apa yang ingin kau maksud?" tanya Ela yang malah berpikiran Ergo ini ada maksud lain dalam mendekatinya.


"Ya kalau sampai kita berdua menjadi sepasang kekasih. Tentunya kita berdua akan semakin dikenal."


"Cih! Memangnya siapa yang mau jadi kekasihmu? Sorry!"


Ela langsung tegas menolak ucapan Ergo. Ia mana mau dengan pria seperti Ergo yang suka tebar pesona.


"Jangan begitu, kau melukai harga diriku!"


"Bodo!" Ela pergi dari hadapan Ergo untuk menuju ke tempat lain, membantu staf nya yang sedang menyiapkan pakaian.


"Kau memang menarik Ela. Aku suka wanita yang semakin dikejar semakin menjauh. Tapi sekalinya mendekat kau bisa saja seperti magnet."


*


*


Hari sudah mulai petang, syuting dihentikan sementara dan semuanya berkumpul di satu rumah yang ada disana.


Ela duduk di samping Sam sambil memainkan ponselnya. Ia menonton video untuk menaikkan suasana hatinya. Elmer pun mendekat ke Ela dan mengusir Sam yang duduk di sebelah Ela.


"Apaan sih? Datang-datang langsung ngusir!"


"Udah nurut aja kenapa sih? Jangan banyak omong deh!"


Elmer tak mau dibantah. Ia duduk di samping Ela kemudian tersenyum.


"Jangan kaya Ergo deh!" kalimat itulah yang muncul dari mulut Ela.


Elmer langsung dalam mode posesif. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada. Sorot matanya memperlihatkan rasa penasaran.


"Kaya Ergo gimana maksud mu? Kalian ngobrol? Kan sudah aku bilang kalau bisa menjauh sejauh-jauhnya dari dia, Ela."

__ADS_1


"Apa sih! Kenapa jadi marah-marah gini? Aku juga sudah coba menjauh, dianya aja yang terus mendekat."


Ela jadi kesal sendiri. Ia dan Elmer memang tidak ada hubungan apa-apa. Seharusnya Elmer tak perlu seposesif itu padanya. Ela berdiri dan keluar dari ruangan itu.


Ia berjalan-jalan di sekitar hutan pinus sambil mendengarkan musik menggunakan earphone. Rasa kesalnya itu, membuat dirinya lupa telah jauh dari area tempat syuting. Bahkan langit pun sudah berubah jadi gelap. Ditambah, baterai ponselnya yang tersisa lima persen saja.


Ela tersadar ketika musiknya tiba-tiba mati karena baterai ponselnya telah habis. Cahaya yang terlihat cuma dari sinar bulan saja. Ela lupa dia tadi datang dari arah mana.


"Ya ampun, aku dimana ini? Argh! Gara-gara asik dengerin musik!"


Ela berjalan di tengah gelapnya malam itu, tapi ia malah berputar di tempat itu-itu terus.


"Kenapa dari tadi aku terus muter-muter disini? Argh! Mana ponselku mati lagi. Apa mereka sadar kalau aku tidak ada? Apa mereka bakalan mencari ku?"


Ela benar-benar cuma berpikir seperti itu, ia mencoba mencari jalan lagi. Tapi ia tetap kembali ke tempat yang sama. Pada akhirnya, ia hanya bisa berdoa dan menangis sambil duduk memeluk lututnya. Ia merasa takut, apalagi terdengar lolongan serigala yang begitu jelas di telinganya.


"Ya Tuhan, tolong aku."


*


*


Sudah hampir 45 menit Ela pergi tapi tak kunjung kembali. Elmer bertanya ke Sam siapa tahu tadi Ela sempat memberitahukan kepergian wanita itu ke Sam.


Elmer pun keluar dari ruangan dan mencari keberadaan staff dari Ela. Tapi di saat ia bertanya satu per satu dari mereka, tak ada satu pun yang melihatnya sejak pernah tadi.


Elmer jadi gelisah dan khawatir. Ia menggigit jarinya sambil kakinya yang tak bisa diam. Ia melihat staff bagian lighting sedang mempersiapkan set untuk syuting malam itu. Elmer menghampirinya dan menanyakan tentang Ela.


"Apa Bapak melihat Ela?"


"Ela yang mana ya? Soalnya ada tiga orang yang bernama Ela disini."


"Ela yang kulitnya putih, rambutnya bergelombang dan memakai baju warna hitam dipadukan dengan warna biru."


"Sepertinya saya tidak lihat."


"Ah, terima kasih ya Pak."


Si bapak itu mengangguk. Elmer berjalan lagi menuju ke sekumpulan orang yang ada sutradara dan Ergo disana.


"Sutradara Hong, ada Anda melihat Ela?"


"Tidak, saya belum melihatnya lagi. Memangnya kenapa?" tanya Sutradara Hong.

__ADS_1


"Ela tidak ada di ruangan, saya cuma khawatir dia kenapa-kenapa karena saya belum melihatnya lagi."


"Kau sudah coba meneleponnya?" tanya Sutradara Hong lagi.


Ah, benar. Ia melupakan hal tersebut. Elmer pun langsung menghubungi Ela lewat ponselnya tetapi yang ia dapatkan cuma suara operator. Elmer jadi bertambah khawatir.


"Nomornya tidak aktif."


"Mungkin dia sedang berkumpul dengan staff nya. Sebentar lagi kan kita akan take."


"Saya sudah kesana untuk memeriksa, tapi tak ada Ela."


"Kau yakin?"


Elmer mengangguk yakin. Sutradara Hong langsung berdiri dan meminta beberapa orang yang menganggur untuk mencari keberadaan Ela. Karena kalau sampai Ela hilang, bisa-bisa mereka mendapatkan masalah dari keluarga Richard.


"Apa saya boleh ikut mencari? Saya tidak bisa cuma diam saja Sutradara Hong."


"Nggak boleh. Kau harus take sebentar lagi Elmer. Kalau kau mencarinya, itu akan menghambat proses syutingnya."


"Kalau semisal digantikan dengan pengambilan scene lain pasti tidak akan jadi masalah kan? Saya benar-benar tidak bisa konsentrasi kalau pun harus berakting sekarang."


Terdengar helaan napas dari sutradara Hong. Pria paruh baya itu pun mempersilahkan Elmer untuk ikut mencari dan menitip pesan agar tidak terluka. Bukan hanya Elmer saja yang ingin mencari, Ergo pun jadi ikut-ikutan. Sutradara Hong pun mengizinkan Ergo juga.


Keduanya berjalan menuju ke perhutanan pinus. Awalnya mereka jalan berdua tapi ketika ada dua jalur, mereka pun memutuskan untuk berpisah jalan. Hanya dalam keadaan genting keduanya terlihat bisa bekerja sama dengan baik.


Elmer mengambil jalan jalur kanan dan Ergo jalan jalur kiri. Elmer terus menelusuri jalanan setapak itu dengan menggunakan senter dari ponselnya.


"Ela! Ela!" teriak Elmer agar Ela bisa mendengar suaranya.


Tapi belum ada jawaban sama sekali. Elmer berjalan semakin dalam masuk hutan pinus. Ia masih terus berteriak.


"Ela! Ela!" teriak Elmer lagi.


Untuk teriak yang kedua, Ela sedikit mendengar sayup-sayup suara itu masuk ke pendengarannya.


"Elmer? Apa itu Elmer yang memanggilku?" ucap Ela bertanya-tanya sambil mendongakkan kepalanya yang tadi ia sembunyikan di lututnya.


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2