Cinta Sang Aktor

Cinta Sang Aktor
Bab 82 - Rendra mendatangi Richard


__ADS_3

Sepulang bekerja, Rendra ke rumahnya dulu untuk mengantarkan pesanan makanan dari Aura. Setelah itu ia pergi lagi padahal belum sempat berganti pakaian. Ketika Aura hendak bertanya pun, Rendra keburu jauh.


Di perjalanan menuju ke kediaman orang tuanya, Rendra masih terus memikirkan Ela. Sebenarnya kenapa? Kenapa ia seperti orang bodoh yang tak tahu apapun soal kembarannya sendiri?


Mobil berhenti, Rendra langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Rendra terus memanggil-manggil papanya. Tapi yang muncul malah mamanya.


"Kenapa sampai teriak-teriak gitu, Rendra? Ada apa?" tanya Mama Naya yang muncul dari dapur.


"Papa mama Ma?" Bukannya menjawab Rendra malah menanyakan keberadaan papanya.


"Lagi mandi. Mungkin agak lama, soalnya baru masuk beberapa menit yang lalu. Duduk dulu, cerita dulu ke mama. Sebenarnya ada apa?"


Rendra pun menurut, ia duduk di sofa ruang tamu. Kakinya tak bisa diam, ia benar-benar penasaran. Apa papanya juga tahu mengenai kenangan buruk yang dialami oleh Ela?


Seketika Rendra menatap wajah mamanya juga. Pasti mamanya pun tahu akan sesuatu. Tidak mungkin kedua orang tuanya tidak tahu.


"Ma, apa mama tahu kejadian beberapa tahun silam tentang kecelakaan Ela itu, laki-laki itu menyukai Ela dan mengorbankan dirinya untuk Ela?"


Wajah Mama Naya malah dibuat terkejut. Terlihat sangat jelas kalau Mama Naya memang tak tahu apapun.


"Rupanya Mama pun tidak tahu."


"Apa maksudmu Rendra?"


"Elmer menceritakan semuanya padaku Ma. Karena kecelakaan waktu itu, Ela selalu menyalahkan dirinya atas kematian temannya itu. Karena itu juga Ela sangat-sangat takut untuk jatuh cinta dan dicintai oleh orang lain. Selama ini kita salah mengira Ma. Ela mungkin memang ingin fokus pada karirnya sendiri, tapi di sisi lain, rupanya ia memendam semua keresahan dan kesedihan itu, Ma. Bodohnya, kita sebagai keluarganya tidak tahu. Justru Elmer yang orang lain lah yang tahu. Padahal dia tidak tahu pasti kejadian waktu dulu itu."


Mama Naya langsung menangis mendengar cerita itu dari Rendra. Sebagai seorang ibu, ia merasa tidak bisa diandalkan oleh putrinya sendiri. Karena keceriaan dan riangnya Ela, membuatnya tertipu dengan topeng yang dibuat oleh putrinya.


"Ya Tuhan, Ela. Maafkan mama yang nggak tahu apapun. Terus gimana? Apa Elmer menceritakan hal lain lagi?"


Rendra menggeleng.


"Elmer cuma cerita kalau Ela sulit dihubungi dan ditemui. Padahal aku hampir berkirim pesan tiap hari dengan Ela. Bahkan sempat beberapa kali telponan. Cuma kalau aku minta panggilan video, Ela selalu menolak. Ela ada di rumah kan, Ma?"


Mama Naya menghapus air matanya kemudian menjawab pertanyaan Rendra.


"Ela nggak ada di rumah udah hampir 2 minggu. Dia ada di Paris."

__ADS_1


Rendra benar-benar terkejut mendengarnya. Ia benar-benar telah jadi saudara yang buruk, Elmer yang orang asing saja bisa berpikir Ela tak ada di rumah, kenapa dirinya tidak memikirkan hal itu?


"Jadi, cuma aku yang nggak tahu dimana keberadaan Ela? Mama dan papa sengaja menyembunyikan ini dariku? Lalu alasan apa yang membuat Ela pergi kesana, Ma? Aku yakin bukan masalah pekerjaan."


Mama Naya terdiam sejenak. Kemudian menceritakan tentang permintaan Ela waktu itu.


"Apa aku boleh minta satu permintaan?" ucap Ela sambil melepas pelukan dari mamanya.


"Apa itu?"


"Aku ingin pergi ke Paris Ma."


Mama Naya awalnya terkejut dengan permintaan Ela. Tapi beberapa detik kemudian, ia bertanya tentang alasan Ela.


"Kenapa ingin pergi kesana?"


"Mau kesana aja Ma, udah lama juga kan aku tidak kesana. Boleh kan Ma?"


"Berapa lama?"


"Nggak tahu," jawab Ela.


"Baiklah, nanti mama akan bilang ke Mami Ele."


"Thanks Ma. Tapi please, jangan bilang ke siapapun kalau aku pergi kesana. Cukup Mama dan Papa aja yang tahu. Kalau ada yang tanya jawab aja ada di rumah atau lebih baik tak mengatakan apapun."


Selesai menceritakan itu, Mama Naya merasa menyesal, seharusnya waktu itu ia lebih memaksa Ela untuk bercerita daripada menunggu Ela yang bercerita sendiri. Kalau seperti ini jadinya, ia malah jadi khawatir. Jangan-jangan Ela pergi ke luar negeri untuk menghadapi masalahnya sendiri.


Rendra pun hanya bisa menghela napasnya saja. Ia tak bisa menyalahkan mamanya juga. Karena mamanya memang bukan tipe orang yang suka memaksa.


"Ma," panggil Rendra dengan suara lembutnya.


"Sepertinya, Elmer benar-benar mencintai Ela begitupun dengan Ela. Walaupun Ela tak pernah bilang apa-apa soal perasaannya, tapi cuma Elmer yang tahu masalah Ela. Kita yang keluarganya saja tidak tahu."


"Mama tahu dan mama pun bisa merasakan tatapan cinta dari Elmer ke Ela. Dia benar-benar mau serius dengan Ela. Tapi, papamu tidak menyukai Elmer, Rendra. Asal kau tahu, papanya Elmer saja sampai datang kesini untuk meminta papamu supaya menerima Elmer di sisi Ela."


Rendra menarik napas lagi. Ia merasa perlakuan orang tuanya sedikit berbeda pada Ela. Padahal, dirinya dulu langsung disetujui ketika memilih Aura yang notabene nya adalah wanita yang bekerja di club malam.

__ADS_1


Di saat pikirannya terus bergejolak, Papa Richard datang dan langsung duduk disana.


"Tumben kesini sendiri? Mana Aura dan cucu papa?"


Bukannya menjawab, Rendra malah bertanya ke Papa Richard.


"Pa, kenapa papa tidak menyukai Elmer?"


"Kenapa kau malah bertanya si aktor itu sih?"


"Jawab Pa."


Papa Richard pun menjawab karena melihat Rendra yang seperti sedang kesal.


"Papa tidak suka, dia akan membawa banyak dampak buruk ke Ela. Kau kan tahu sendiri, Ren. Gimana gosip yang beredar beberapa waktu lalu yang menyebabkan kembaranmu itu dihujat habis-habisan. Papa tidak mau lagi, Ela mengalami hal itu. Pokoknya papa tidak akan pernah setuju."


"Pa, aku tahu, aku bisa merasakan kekhawatiran papa. Tapi bisa lah papa kasih sedikit kesempatan Elmer untuk menunjukkan perjuangannya. Di saat aku memilih pasangan, aku begitu dimudahkan. Tapi kenapa ke Ela papa begitu pemilih?"


Rendra jadi mempertanyakan itu ke papanya. Karena memang ia butuh sekali jawaban.


"Kau dan Ela berbeda. Kau pria dan kau anak papa yang papa tahu kau bisa membimbing istrimu dengan baik. Kau juga bisa membiayai semua kehidupan keluarga kecilmu. Tapi beda dengan Ela, dia wanita. Papa harus mencari laki-laki yang betul-betul bertanggungjawab dan mau menjaga putri papa sebaik-baiknya."


"Oke, aku paham maksud papa itu. Tapi selain yang papa bilang tadi, Elmer tak memiliki kekurangan sama sekali Pa. Uang? Sudah pasti dia punya karena dia pun berasal dari keluarga kaya dan dia adalah aktor terkenal. Cinta dan tanggung jawab, aku yakin dia pun punya. Pria seperti apa yang papa cari?"


Richard jadi terdiam sambil berpikir tentang kriteria menantu idaman baginya.


"Asal kau tahu saja Rendra, selain yang papa sebutkan tadi. Papa pun tidak mendapatkan validasi dari Ela kalau Ela pun menyukai Elmer. Jadi tidak apa-apa kalau papa menolaknya."


Rendra menggelengkan kepalanya. Ia pun akhirnya menceritakan juga mengenai Ela seperti yang ia ceritakan ke mamanya tadi. Papa Richard langsung terkejut sama seperti Ela. Ia benar-benar tak menyangka putrinya menyalahkan diri atas kematian temannya itu.


"Pa, harusnya kita itu malu sama Elmer. Dia orang asing di keluarga tapi malah tahu masalah Ela. Lantas kalau papa tak menerima Elmer, memangnya papa bisa menemukan laki-laki lain yang bisa membuat Ela mau bercerita masalahnya seperti ke Elmer? Nggak, kan?"


Papa Richard jadi berpikir lagi, ia benar-benar merasa bodoh selama ini. Apalagi keputusan kepergian Ela ke Paris pun ia tak tahu alasan pastinya sama sekali karena Ela cuma bilang mau liburan.


"Lebih baik, papa pikirkan baik-baik mengenai Elmer dan Ela. Aku yakin Ela menyukai Elmer juga. Hanya saja ada alasan lain kenapa Ela tak mengatakan apapun. Aku benar-benar berharap papa berpikir ulang."


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2