
Ela duduk di sebuah temat sepi sambil melihat keadaan sekitarnya. Semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Untungnya, ia datang kesana membawa staf nya jadi ia tinggal mengawasi saja.
Tak lama Elmer pun datang dan duduk di sebelah Ela. Ia melihat ke Ela dengan tatapan sukanya.
"Jangan menatapku seperti itu!" ucap Ela yang sadar ditatap oleh Elmer.
Elmer hanya tersenyum tipis.
"Aku masih nggak nyangka aja, kita bisa bertemu setiap hari di lokasi syuting mulai saat ini. Benar-benar sesuai dengan harapanku. Aku jadi semakin bersemangat untuk syuting."
Dibalas dengan senyuman kecut oleh Ela.
"Aku tidak setiap hari juga kesini. Hanya sesekali menengok saja, supaya semuanya lancar sesuai jalannya. Supaya tidak ada yang kecewa."
"Benar, semua harus dilakukan dengan lancar sesuai jalannya, sama seperti jalanku untuk menuju ke hatimu. Aku sudah menemukan rutenya. Tinggal berjalan saja, semoga nantinya halangan atau rintangan di jalan bisa aku lewati dengan baik."
Elmer malah membenarkan ucapan Ela dengan makna yang lain. Ela sudah tak peduli dengan omongan di luar nalar dari Elmer yang seperti rayuan gombal untuknya. Ia hanya berusaha menerima dan menanggapinya dengan senyuman tipis.
"Ela, kau jangan dekat-dekat sama Ergo ya! Dia itu laki-laki playboy. Pokoknya aku tidak mau walau kau cuma berpapasan atau tak sengaja melihatnya. Sebisa mungkin kau harus menghindar sejauh-jauhnya."
Dahi Ela berkerut karena memang wanita itu tidak tahu siapa yang bernama Ergo.
"Ah, Ergo itu laki-laki yang menyapa mu tadi," ucap Elmer lagi saat tahu Ela yang kebingungan.
"Aku juga tidak ingin bertemu dengannya lagi. Sikap orang seperti itu membuat aku muak."
Elmer jadi tersenyum mendengar jawaban dari Ela. Memang Ela itu wanita yang berbeda dari wanita yang lainnya. Ia benar-benar tepat sekali menyukai wanita langka seperti Ela meskipun harus mencurahkan semua tenaga untuk mendapatkan hati Ela.
"Ngomong-ngomong kau tidak ada take lagi? Kenapa malah mengikuti aku kesini?" tanya Ela sambil melihat ke Elmer.
"Ada sih," jawab Elmer sambil melihat jam tangan di lengannya. "Masih ada 15 menit lagi untuk bicara denganmu," tambah Elmer.
Ela menggeleng lalu mendorong Elmer untuk berdiri dan segera meninggalkannya sendiri disana.
"Cepat kembali kesana. Jadilah aktor yang baik dengan selalu tepat waktu saat syuting. Semua orang bisa melihat kerja keras dan kinerjamu dari sana. Katamu kau ingin dikenal karena karyamu. Makanya lakukanlah sebaik mungkin. Semangat!"
__ADS_1
Ela menyemangati Elmer dengan mengangkat tangannya. Senyum Elmer langsung mengembang saat itu juga.
'Jadi begini rasanya disemangati ketika bekerja oleh orang yang kita sayangi? Betapa senangnya aku' batin Elmer berbicara.
Elmer pun pergi dari sana dengan berjalan mundur sambil melambaikan tangannya. Lalu ketika sudah agak jauh ia berbalik dan sedikit berlari pergi ke tempat syuting tadi.
Ela hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Elmer itu. Ternyata, belajar untuk mengenal seseorang itu tidak terlalu buruk juga. Ia jadi bisa mengenal kepribadian Elmer lebih jauh. Karena yang ia tahu, hanya Elmer yang percaya diri, jangan tersenyum dan selalu mengumbar akta cinta untuknya. Kali ini, ia melihat tingkah konyol dari Elmer.
*
*
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Syuting di hari itu akhirnya selesai juga. Elmer, Sam dan Ela berjalan beriringan. Lalu tiba-tiba Ergo menyerobot dari belakang agar bisa dekat-dekat dengan Ela. Hal tersebut membuat Elmer jadi kesal dan ingin sekali menendang Ergo jauh-jauh.
"Kelihatannya kau akrab sekali dengan Sam dan Elmer. Apa kalian memang sudah saling mengenal sebelumnya? Kalau begitu kau juga harus akrab denganku juga. Aku juga adalah teman mereka," ucap Ergo ke Ela.
Elmer mendorong Ergo untuk menjauh dari Ela. Elmer jadi berada di samping Ela.
"Jangan hiraukan dia!" pinta Elmer yang dituruti oleh Ela.
Ergo jadi kesal dan terus berusaha mendekati Ela. Ia kini mendekati Ela ke samping kirinya. Terus bertanya tentang siapa nama Ela.
"Siapa kau? Kenapa aku harus mendengarkan mu? Lagian aku cuma ingin kenal dengan wanita cantik ini."
Ela jadi menghentikan langkahnya. Hal tersebut membuat dua orang laki-laki Yanga da di samping kanan dan kirinya pun ikutan berhenti. Ela melihat ke arah Ergo.
"Tolong jangan buat aku merasa terganggu. Lebih baik kau pergi dari hadapanku, atau aku akan ... "
"Akan apa?" potong Ergo.
"Akan mengatakan ke media kalau kau laki-laki yang suka menggoda wanita."
Ucapan Ela tersebut sontak saja membuat Ergo tertawa. Baru kali ini, ia menemukan wanita seperti Ela.
"Kau menarik sekali," ucap Ergo yang pada akhirnya pergi dengan sendirinya.
__ADS_1
Namun, tetap saja Elmer merasa kesal. Kenapa musuhnya harus menyukai wanita yang disukainya juga. Kan jadi bertambah lagi permusuhan mereka. Bukan lagi bersaing untuk menjadi bintang tapi bersaing mendapatkan cinta.
Ela menepuk pundak Elmer. Karena laki-laki tak kunjung berjalan juga. Padahal ia dan Sam sudah agak menjauh.
"Ayo pulang."
Elmer pun mengangguk.
*
*
Ela telah sampai di kediaman orang tuanya. Ia mengendarai mobilnya sendiri tapi diikuti dari belakang oleh mobil Elmer. Padahal tidak perlu sampai seperti itu. Ela tidak lemah, ia bisa menjaga dirinya sendiri. Tapi karena tak ingin berdebat, Ela biarkan saja. Toh, Elmer tak akan mampir juga ke rumahnya. Pastinya kalau mampir, laki-laki itu harus menyiapkan diri untuk menghadapi papanya yang super protektif kepada putrinya. Padahal pria tua itu selalu menginginkan Ela menikah, tapi giliran didekati oleh pria malah seperti tidak suka. Aneh kan jadinya?
"Ela pulang," ucap Ela ketika memasuki rumahnya.
"Malam banget pulangnya sayang?" tanya Mama Naya yang muncul dari dapur.
"Iya Ma. Soalnya memang sibuk banget disana," ucap Ela yang kemudian mendaratkan tubuhnya di atas sofa.
"Sudah makan?" tanya Mama Naya.
"Sudah Ma, mama tenang aja. Aku tidak telat makan kok."
Mama Naya tersenyum mendengarnya.
"Baguslah, langsung ke kamar aja gih. Mandi terus istirahat. Pasti kau capek seharian. Nanti mama buatkan susu hangat untukmu."
"Thanks Ma. Kalau begitu aku ke kamar ya."
Mama Naya mengangguk lalu melihat anaknya yang berjalan menaiki anak tangga satu per satu. Sejujurnya, ia merasa tidak tega dengan putrinya yang masih harus bekerja keras padahal sebenarnya kalau urusan uang mereka banyak sekali uangnya. Cabang perusahaan Richard sangat banyak, begitu juga dengan restoran yang dimiliki oleh Naya. Tapi, ya sudahlah, memang tidak bagus kalau banyak melarang ini dan itu ke anak. Apalagi hal yang dilarang itu adalah kesukaannya.
"Semoga kau cepat memiliki pasangan Ela. Mama benar-benar ingin melihat kau bahagia dengan pasanganmu."
*
__ADS_1
*
TBC