
Esok harinya, Ela sudah bersiap dengan mengenakan pakaian tebal karena udara malam hari sangatlah dingin dan juga ia dan Elmer akan pergi ke ruang terbuka. Tapi, anehnya sampai pukul 19.00, belum ada juga pesan dari Elmer yang mengirimkan titik lokasi pertemuan mereka.
Ketika sedang duduk di ruang tamu, Naya mendekat dan bertanya ada Ela.
"Mau kemana?"
"Ada janji sama orang, Ma. Tapi, dia belum kirim juga lokasinya, kan kesel."
"Memangnya dia tidak menjemput?"
Ela menggeleng.
"Aku menolaknya, biar saja kami bertemu di tempat."
"Yang janjian bertemu laki-laki atau wanita?"
"Laki-laki," jawab Ela.
"Harusnya, biarkan saja dia menjemputmu Ela. Kau itu perempuan, butuh perlindungan. Masa mau kemana-mana sendirian terus. Ini juga sudah malam, kalau nanti di jalan terjadi sesuatu gimana?"
Naya mulai mengeluarkan sarannya. Anak perempuannya ini memang sudah terlalu mandiri. Apa-apa maunya melakukan sendiri. Memang kalau seperti ini, harusnya dinikahkan supaya bisa bergantung pada orang lain.
"Come on, Ma. Aku ini jago beladiri. Aku bisa jaga diri sendiri."
Lagi-lagi Naya menghela napasnya. Tapi kemudian, bel rumah dipencet oleh seseorang. Ia pun membukakan pintunya.
Alangkah terkejutnya ia melihat Elmer yang ada di depan pintu. Naya mengamati pakaian yang dikenakan oleh Elmer juga. Pakaian casual tapi dibalut dengan jaket tebal. Naya tampak menduga-duga.
__ADS_1
Apa mungkin orang yang dimaksud Ela adalah Elmer?
"Ela nya ada Tante?" tanya Elmer.
"Eh, iya. Ada di dalam. Kalian mau pergi ya? Tapi katanya Ela, dia mau berangkat sendiri dan kalian bertemu di lokasi. Kok malah kesini?" tanya Naya yang agak sedikit keheranan.
"Ah, itu. Aku merasa nggak sopan aja Tante. Ngajak anak orang keluar malam-malam tanpa minta izin ke orang tuanya. Makanya aku sengaja belum kirim lokasinya ke Ela. Supaya bisa berangkat bersama saja kesana nya."
"Ah, begitu, ya sudah ayo masuk! Ela sudah ada di ruang tamu."
"Aku tunggu disini saja Tante."
"Baiklah."
Naya pun masuk ke dalam rumah dan memanggil Ela untuk keluar.
"Dah, sama kalau mau pergi mah. Tante izinin kok. Yang penting nanti Ela dipulangkan dengan selamat. Terus pulangnya jangan malam-malam."
"Siap Tante," jawab Elmer.
"Kami pamit ya, Tante," ucap Elmer dengan membungkukkan badannya tanpa mencium tangan Naya.
Naya agak sedikit heran, tapi ya sudahlah, mungkin itu memang cara Elmer untuk berpamitan pada orang. Naya pun agak sedikit mendorong Ela untuk berjalan mengikuti Elmer.
"Hati-hati ya kalian."
Keduanya kini sudah ada di dalam mobil Elmer. Wajah Ela terus ditekuk sejak tadi.
__ADS_1
"Jangan cemberut gitu, nanti cantiknya ilang," goda Elmer.
"Bodo amat! Lagian ngeselin banget sih! Udah dibilang kita bertemu di lokasi saja! Kenapa malah datang kesini dan sengaja tidak memberitahu aku kemana sih?"
"Jangan kesal-kesal, nanti tambah tua! Sekarang nikmati saja perjalanannya. Aku akan membawamu ke tempat yang bagus. Aku jamin kau tidak akan menyesal."
"Awas saja kalau bohong! Aku tentang kakimu!" ancam Ela.
"Kau ini galak sekali sih."
"Cepat jalankan mobilnya!" suruh Ela.
"Sabar."
Elmer pun menjalankan mobilnya dan keluar dari area kediaman Kavindra. Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang. Ela terus menggerutu karenanya.
"Kalau kecepatannya seperti siput begini, kapan sampainya?" kesal Ela.
"Ya, setengah sampai satu jam an mungkin. Udah jangan banyak protes. Duduk aja yang cantik disitu."
"Huh!"
Ela kesal dan menyilangkan kedua tangannya di dada kemudian menyandarkan kepalanya ke kursi.
*
*
__ADS_1
TBC