
Waktu terus berlalu, masih belum ada kabar dari Ela. Ia sudah mencari banyak hal cara untuk mendapatkan kabar dari Ela. Hanya satu yang belum, yaitu mendatangi rumah wanita yang dicintainya itu. Pas nya di hari itu, Elmer sedang ada jam kosong. Ia ke rumah Ela ditemani oleh Sam. Pas nya lagi, di hari itu adalah hari libur yang otomatis Richard pasti ada di rumah.
Elmer memencet bel rumah sambil terus menunggu dengan perasaan cemas-cemas takut.
Pintu terbuka dan memperlihatkan Mama Naya dengan senyum yang mengembang ketika melihat Elmer dan Sam.
"Kalian ternyata, ayok mask."
Mama Naya mempersilahkan keduanya untuk masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
"Mau minum apa?" tanya Mama Naya.
"Nggak usah Tante, kami cuma sebentar kok. Cuma ingin tahu keadaan Ela aja. Soalnya setelah dari luar kota itu, dia nggak bisa dihubungi."
Elmer langsung bicara pada intinya karena ia tak mau berbasa-basi.
Mama Naya tampak terdiam. Baru aja akan membuka mulutnya, tiba-tiba Richard datang dan langsung duduk di samping Naya dengan membawa aura tegasnya.
Elmer langsung menelan ludahnya. Ia selalu merasa gugup ketika berhadapan langsung dengan papanya Ela. Auranya benar-benar menegangkan.
"Mau apa kau cari-cari putriku? Kalau dia tidak bisa dihubungi, itu artinya dia sudah tak ingin lagi dekat denganmu. Begitu aja kok nggak tahu?"
"Maaf Om, tapi saya yakin ada alasan lain yang membuatnya begitu. Dimana Ela Om? Saya sudah hampir setiap hari mengunjunginya ke butik tapi tetap tidak ada. Katanya, dia bekerja dari rumah."
"Lebih baik kau pulang dan istirahat saja. Pasti kau capek kan syuting terus. Pikirkan saja karier mu itu. Tolong jangan datang lagi kesini."
Richard berdiri dan menunjukkan pintu keluar dari rumahnya ke Elmer dan Sam. Mau tak mau keduanya pun keluar. Elmer sempat melirik dan melihat ke Mama Naya, wanita itu tampak ingin mengatakan sesuatu tapi mungkin tak bisa jika ada Richard.
"Silahkan keluar."
Sam dan Elmer berjalan menuju tempat dimana mobilnya diparkirkan. Ia masuk ke dalam mobil dan terus memikirkan tentang keberadaan Ela.
Mobil Elmer melaju keluar dari area rumah Richard. Di perjalanan, Elmer membuka obrolan dengan Sam.
"Menurutmu apa yang dibilang Om Richard itu benar apa nggak? Apa iya Ela benar-benar tak ingin berhubungan denganku lagi?"
"Aku rasa sih omongan Om Richard tidak benar. Aku ingat betul Ela begitu khawatir saat kau berada di rumah sakit. Rasanya nggak mungkin deh kalau tiba-tiba Ela begini."
Sam pun mengeluarkan pendapatnya mengenai Ela.
"Nah, iya kan? Aku juga nggak percaya. Soalnya Ela bilang, dia mau mencoba membuka hatinya. Masa iya, tiba-tiba dia pergi gitu aja tanpa ada kabar. Pasti ada sesuatu yang terjadi disini. Tapi apa?"
Sam mengangkat bahunya tidak tahu.
__ADS_1
"Jangan tanya aku. Jelas-jelas aku tidak tahu."
"Sialan! Aku juga tahu itu."
*
*
Di malam yang penuh dengan bintang, Ela menatap langit dari balkon kamarnya. Ia mengenakan pakaian yang agak tipis padahal cuaca disana sedang dingin-dinginnya.
Sebuah suara membuat Ela menoleh ke belakang.
"Kalau nggak ingin sakit, jangan pakai baju tipis-tipis kalau malam. Sudah tahu disini sudah mau musim dingin, kau bisa kena flu Ela."
"Maaf, Mami," ucap Ela ke Mami Ele. Mami Ele mendekat dan memberikan jaket tebal ke Ela.
"Turun aja yuk! Ngobrol-ngobrol di bawah. Papi Alex sama Noah ada di bawah juga."
Ela menggeleng pelan.
"Aku mau disini aja. Nanti kalau sudah puas, aku akan turun Mi."
"Baiklah kalau itu mau mu. Ingat jangan pakai pakaian yang tipis-tipis."
"Kini jarak kita sudah sangat jauh. Kuharap kau benar-benar bisa hidup lebih baik. Maaf, aku memilih untuk pergi."
Ela jadi terdiam. Ia malah teringat berbagai kenangannya dengan Elmer. Perdebatan dengan Elmer, tak pernah akur kalau bertemu sampai akhirnya saling berbagi rahasia masing-masing. Sejauh ini Elmer lah orang yang paling tahu tentang dirinya.
Karena angin malam sudah terasa semakin dingin dan menusuk sampai ke kulit-kulitnya, Ela masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu balkonnya. Ia turun dari kamar dan melihat Noah, Mami Ele dan Papi Alex yang sedang bercanda tawa.
"Akhirnya turun juga, sini duduk dulu. Minum ini, biar tubuhmu hangat."
Mami Ele memberikan segelas susu jahe hangat untuk Ela. Ela langsung meminumnya.
"Tumben banget Kak Ela mau datang jauh-jauh sampai ke Paris. Padahal kalau setiap aku ajak aja nggak mau!" keluh Noah yang berusia 4 tahun lebih muda dari Ela.
Ela hanya tersenyum aja menanggapinya. Selama dua hari ia sudah ada di Paris, baru kali ini ia memang bertemu dengan Noah. Laki-laki itu sangat sibuk mengurusi perusahaan ayahnya dan harus bolak-balik Jakarta - Paris setiap dua bulan sekali.
"Dasar aneh! Ditanya malah cuma disenyumin doang!"
"Udah, lagian kau juga banyak tanya amat sih!" Kini giliran Mami Ele yang bicara.
"Kan penasaran Mom," balas Noah.
__ADS_1
"Udah ah, yang penting sekarang Ela ada disini, jadi kita harus banyak senang-senang."
Setelah malam semakin larut, Mami Ele, Papi Alex pun sudah masuk ke dalam kamarnya begitu juga dengan Noah. Hanya ada Ela di ruang keluarga sambil menghangatkan tubuhnya di depan perapian.
Tak lama Noah muncul lagi dan malah duduk di sebelah Ela.
"Aneh banget rasanya, orang yang biasanya nggak mau pergi-pergi jauh, tiba-tiba datang tanpa penjelasan. Jujur, aku kaget waktu Mommy bilang Kak Ela ada di rumah. Rasanya sangat-sangat mustahil. Tapi ternyata benar, aku sampai bela-belain cepet pulang karena ingin bertemu.Sayangnya, setelah bertemu, aku merasa seperti tidak melihat Kak Ela yang aku kenal. Seperti terlihat sebagai orang yang berbeda. Aku nggak maksa kakak buat cerita, tapi ya kalau mau cerita, pasti aku dengerin."
"Maaf." Hanya kalimat itu yang dikeluarkan dari mulut Ela.
Terdengar sebuah helaan napas dari Noah.
"Nggak papa, mungkin aku terlalu cepat bertanya. Intinya kakak jangan ngerasa sendiri, masih ada aku dan yang lainnya. Jangan suka mendem sendirian. Nggak enak tahu."
Ela mengangguk.
Tiba-tiba Noah menyodorkan setoples cokelat untuk Ela.
"Kata orang, makan cokelat akan membuat suasana hati jadi lebih baik. Tapi aku sih nggak tahu benar atau tidaknya. Cuma terkadang aku juga suka makan cokelat."
Ela mengambil satu cokelat yang ada di dalam toples dan membuka bungkusnya lalu memakannya.
"Kalau nanti kakak mau pulang ke Indonesia lagi bilang-bilang ya, biar bareng kesana nya. Aku juga bakalan lama disini soalnya."
Ela mengangguk saja, dia sendiri tidak tahu kapan ia akan pulang ke rumah. Karena ia belum memiliki rencana apapun untuk ke depannya.
Untuk menghidupkan suasana, keduanya menonton film bersama sambil terus bercerita tentang masa kecil mereka. Dimana ketika kecil dulu, Noah selalu mengikuti kemana pun Ela pergi sama seperti Mami Ele yang selalu mengikuti kemana pun Richard pergi ketika kecil dulu. Gen dari Mami Ele begitu kuat dalam beberapa tingkah laku Noah.
"Kak," panggil Noah ketika suasana mulai hening lagi.
"Ya?" jawab Ela.
"Jadilah seperti Kak Ela yang aku kenal sejak kecil. Kak Ela yang pemberani dan selalu mengutarakan apa yang sedang dirasakannya. Semakin bertambah usia kakak, aku sadar, kakak jadi tidak sama lagi seperti dulu. Semoga kakakku yang dulu bisa cepat kembali. Aku akan pergi ke kamar. Selamat malam Kak."
"Em, ya, selamat malam juga Noah."
Setelah kepergian Noah, Ela langsung mengingat kembali masa kecilnya. Masa-masa dimana ia memang sangat ceria dan pemberani. Bahkan lebih sering ia yang jadi penolong daripada Rendra. Tapi memang seiring berjalannya waktu dan Ela dihadapkan pada kejadian-kejadian yang tak terduga, karakternya mulai berubah.
"Aku harap juga begitu Noah. Aku bahkan sudah lupa bagaimana sifatku ketika kecil dulu jika kau tak ingatkan."
*
*
__ADS_1
TBC