Cinta Sang Aktor

Cinta Sang Aktor
Bab 49 - Masih ada harapan


__ADS_3

Selama Elmer ada syuting di luar kota itu, setiap harinya selalu ada bunga mawar putih di depan butik Ela setiap pagi. Bahkan selalu ada kartu ucapannya juga. Ela sampai geleng-geleng kepala, Elmer begitu niat sekali melakukan ini padanya. Ela tak menyadari kalau hatinya mulai melunak karena perlakuan Elmer ini.


Ia bekerja seperti biasanya di ruang kerjanya. Membuat rancangan pakaian baru lagi untuk koleksi terbarunya.


Tanpa ia sadari, selama ia mendesain rancangan pakaian, fokusnya selalu teralihkan ke ponselnya yang tergeletak di samping buku sketsanya. Seolah-olah Ela tengah menunggu seseorang mengabari dirinya. Pasalnya sudah dua minggu lebih, Elmer tak memberikan pesan padanya. Walaupun cuma random dan menanyakan hal yang tak penting.


"Aih! Kenapa jadi mikirin dia? Fokus El, fokus!" ucapnya agar fokus kembali.


Tapi ia malah jadi tambah tidak fokus dan memutuskan untuk keluar sebentar untuk memulihkan pikirannya. Ia pun berpamitan ke Alin, dan mengatakan ia akan keluar.


"Kalau nanti ada orang yang datang mencari ku. Bilang saja aku ada di luar."


"Baik Kak."


"Thanks Alin."


Alin pun mengangguk.


Ela pergi ke taman yang pernah ia kunjungi bersama Elmer. Taman itu tampak sepi karena memang kebanyakan orang masih bekerja. Beda dengan dirinya yang pemilik butik, bisa kapan saja keluar di saat jam kerja.


Ela melihat ke langit di hari itu yang tampak cerah dan awannya pun sangat indah. Sayangnya, hatinya tak pernah secerah dan seindah itu. Ia selalu teringat pada kejadian di masa SMA nya dulu yang membuatnya tidak ingin menjalin hubungan dengan pria dan tak ingin jatuh cinta. Namun, sepertinya kehadiran Elmer cukup meracuni pikirannya.


"Hufttt"


Ela menghela napasnya sembari memejamkan matanya disana. Ia merasa ia tak pantas menyukai seseorang dan tak pantas dicintai.


Setelah puas menenangkan diri, ia pergi ke kedai ice cream. Secara kebetulan Ela bertemu dengan Naomi yang sedang beli ice cream juga ditemani oleh suster nya.


"Hai Tante," sapa Naomi dengan senyum manisnya.


"Hai juga sayang. Naomi beli ice cream juga. Beli rasa apa?" tanya Ela dengan ramah juga.

__ADS_1


"Vanila sama stroberi Tante."


"Sama, Tante juga beli yang rasa itu."


"Wow! Amazing!" ucap Naomi sambil bertepuk tangan. Ela yang gemas langsung mengelus rambut Naomi.


Tak lama kemudian ice cream pesanan Naomi sudah siap. Namun, ketika akan pulang, supir yang akan menjemput Naomi telepon kalau mobilnya mogok di tengah jalan dan meminta si suster untuk naik taksi saja daripada lama menunggunya datang yang entah kapan mobilnya akan membaik.


Mendengar hal tersebut, Ela menawarkan diri untuk mengantarkan keduanya untuk pulang.


"Apa itu tidak merepotkan Nona?"


Ela menggeleng.


"Daripada kalian naik taksi, lebih baik aku antarkan saja. Lagipula aku mengenal Tuan Sebastian."


Si suster pun mengangguk tanda menerima tawaran Ela karena Naomi juga terlihat senang berada di dekat Ela. Mereka akan pulang setelah pesanan Ela siap.


"Tante, Naomi itu ingin punya papa seperti papa Elmer, meskipun kita jarang bertemu, tapi sekalinya ketemu, papa Elmer selalu menuruti apa yang Naomi mau. Naomi jadi selalu senang. Tapi saat Naomi bilang begitu ke kakek, kakek malah selalu bilang, 'Naomi boleh menganggap Papa Elmer sebagai papa nya Naomi tapi jangan memaksa Papa Elmer untuk menikah dengan dengan mama' padahal kan itu yang Naomi inginkan."


Ela mengusap kepala Naomi lagi.


"Tidak semua apa yang kita inginkan bisa terwujud Naomi. Ada sesuatu yang tidak bisa dipaksakan. Suatu saat nanti, jika kau sudah besar. Kau pasti akan mengerti."


"Iya kah, Tante?"


Ela mengangguk lalu fokus menyetir lagi.


Mereka sudah sampai di depan kediaman Sebastian. Ela tak berniat masuk dan ingin langsung pulang saja. Tapi, rupanya Naomi memaksa dirinya untuk masuk. Ela pun tak bisa menolak.


"Kakek, Naomi sudah pulang!" teriaknya dengan ceria.

__ADS_1


Tak lama Tuan Sebastian pun muncul dan menyambut kepulangan cucunya. Ia tampak terkejut ketika tahu yang mengantar cucunya adalah Ela. Tapi ia merasa senang juga dan langsung mengucapkan rasa terima kasihnya.


"Terima kasih ya Ela. Sudah mau direpotkan dengan mengantar Naomi pulang."


"Tidak apa-apa kok Om. Lagipula, kita tadi berada di tempat yang sama daripada mereka naik taksi lebih baik aku yang antarkan."


"Mari duduk dulu."


Naomi malah langsung meraih tangan Ela dan duduk di samping Ela sambil bergelayut manja seperti ke Elmer. Tuan Sebastian yang melihat itu jadi sangat senang. Karena memang sedari kecil Naomi tak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibunya. Ibunya selalu mementingkan pekerjaannya.


"Elmer sekarang sedang syuting di luar kota. Apa dia cerita?" tanya Tuan Sebastian.


"Iya, dia cerita Om. Bahkan anak Om hampir setiap hari memberikan bunga mawar putih setiap pagi di depan butik."


Tuan Sebastian tersenyum mendengarnya. Ia langsung saja menanyakan tentang perasaan Ela ke anaknya.


"Lalu gimana tanggapanmu tentang itu? Om tahu, Elmer sudah menyatakan cinta. Tapi Om tidak tahu gimana kelanjutannya. Karena dia belum cerita lagi."


"Aku menolaknya Om."


"Hah, sayang sekali, padahal Om senang kalau kau bisa jadi mantu Om. Apalagi kau adalah satu-satunya wanita yang bisa disentuh Elmer."


"Meski aku sudah menolaknya, dia masih saja tak menyerah Om. Aku sendiri tidak tahu, apa nantinya aku akan goyah atau tidak."


Tuan Sebastian tersenyum. Ia merasa masih ada harapan. Ia benar-benar ingin melihat Elmer bahagia dengan pilihannya.


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2