Cinta Sang Aktor

Cinta Sang Aktor
Bab 36 - Cuma satu menit


__ADS_3

Elmer telah sampai di apartemennya. Ia melemparkan sabuk yang dilepasnya sembarangan. Sepatu yang ia kenakan pun ia letakan asal di depan kamar. Kemudian, menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Menatap langit-langit kamar lalu teringat pada lukanya. Namun, ingatan itu segera diputus oleh Elmer karena ia tak mau lagi mengingat hal paling menyakitkan baginya.


Laki-laki itu berpindah posisi dengan bangun dari ranjang dan berjalan menuju ke balkon apartemennya. Ia melihat jalanan yang ramai dengan kendaraan. Suara-suara bising dari bangunan sebelah apartemennya yang dalam pembangunan. Elmer masuk lagi ke dalam untuk mengambil secangkir minuman dingin untuk menyegarkan pikirannya kemudian kembali lagi ke balkon.


Duduk selonjoran sambil menikmati minuman. Lagi-lagi ia malah bertanya pada dirinya sendiri.


"Harusnya traumaku menghilang kan? Aku kan sudah lama melupakan wanita itu lama sekali. Aku juga sudah mencintai wanita lain. Kenapa traumanya masih ada juga? Apa yang salah disini?"


Elmer bertanya-tanya di tengah kegamangannya. Hingga minuman dingin pun telah habis menyisakan gelas kosong di sampingnya.


Di saat seperti ini, Elmer membutuhkan Ela. Alhasil, ia menelpon Ela tanpa memberi pesan terlebih dahulu. Untungnya, Ela langsung menjawab panggilannya.


"Ada apa?" tanya Ela.


"Kau sibuk?" tanya Elmer.


"Tentu saja aku sibuk. Tapi melihat ini adalah telepon darimu. Aku langsung mengangkatnya. Karena aneh saja. Biasanya kau kan akan memberi pesan dulu sebelum menelpon."


"Rupanya kau selalu memperhatikan detail kecil tentangku ya," ucap Elmer diselingi dengan senyum tipis di bibirnya.


"Jangan geer dulu."


"Kenapa memangnya? Kau sepertinya tidak ingin melihat aku bahagia sedikit saja karena dugaan baikku tentang mu."


"Bukan begitu juga."


"Dasar aneh!"


"Aneh-aneh begini kenapa kau menyukaiku coba?"


"Wah, rupanya kini kau mengakuinya juga ya, kalau aku menyukaimu. Kalau begitu, kapan dijawabnya?"


"Ck! Tidak penting sekali! Aku tutup ya!"


"Jangan!" larang Elmer.


"Apa sih? Kenapa?"


"Kau benar sibuk atau tidak?" tanya Elmer sekali lagi.

__ADS_1


"Ya sibuk lah, ini saja aku masih di butik."


"Kalau aku kesana, apa kau akan mengusirku?" tanya Elmer memastikan.


"Lagian untuk apa kau kesini? Jangan aneh-aneh! Nanti ada paparazi yang mengikuti mu."


"Oh, berarti boleh ya aku kesana?"


"Ck! Memangnya aku mengiyakan?"


"Oke, aku akan kesana segera. Bye!"


Belum juga Ela menjawab, telepon sudah dimatikan dulu oleh Elmer. Laki-laki itu kini tengah bersiap untuk pergi ke butik Ela. Ia tidak mau terlihat biasa-biasa saja di depan Ela. Ia ingin terlihat luar biasa.


*


*


Mobil berhenti di depan butik Ela. Seorang laki-laki tampan mengenakan kacamata hitam dengan pakaian casual turun dari mobil. Siapa lagi kalau bukan Elmer. Bilangnya ingin menjaga, tapi Elmer sendiri lah yang membuat dirinya sendiri selalu jadi pusat perhatian karena penampilannya. Laki-laki itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam butik seolah ia sedang melewati jalanan untuk catwalk.


Ketika sudah ada di dalam, Elmer menanyakan keberadaan Ela pada Alin.


"Dimana Ela?"


Tak lama setelah Alin pergi menemui Ela, Alin datang tanpa Ela. Lalu mengatakan apa yang dikatakan Ela padanya.


"Kata Kak Ela, kakak boleh langsung masuk saja ke ruangan. Ruangannya ada di sebelah sana," ucap Alin sambil menunjukkan ruangan kerja Ela.


"Oke."


Ceklek!


Pintu dibuka oleh Elmer. Elmer mengamati ruangan yang didatanginya. Ia juga melihat Ela di ujung sana sedang fokus pada pekerjaannya sampai tidak menyadari ada yang datang.


Elmer berjalan hingga kini ia telah duduk di kursi yang ada di depan meja Ela. Menatap secara intens wanita yang tengah fokus menggambar desain pakaian. Bahkan Elmer sampai menopang dagunya dengan tangannya. Matanya tak sekalipun berpaling dari menatap Ela.


Sampai akhirnya Ela pun sadar juga tengah ditatap dengan intens oleh orang yang ada di depannya. Wanita itu mendongak dan menatap lurus ke depan. Untuk beberapa saat keduanya saling bertatapan. Namun, seketika Ela memutus tatapan itu dengan menghentikan aktivitasnya dan berdiri dari duduknya.


"Aku memang mengizinkanmu untuk masuk ke ruangan ku. Tapi kau tidak harus membuatku merasa tidak nyaman dengan ditatap seintens itu kan?"

__ADS_1


"Kenapa harus tidak nyaman? Kalau kau tidak ada rasa padaku, harusnya kan biasa saja," sanggah Elmer.


Mata Ela sedikit memicing. Ia merasa telah salah mengizinkan Elmer untuk masuk. Ia lupa kalau Elmer selalu membuat emosi dalam tubuhnya menaik dan bisa-bisa mendidih saat itu juga.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa kau ingin bertemu denganku? Katakan, jangan ada basa-basi."


Elmer menghela napasnya. Sejujurnya ia juga bukan orang yang suka berbasa-basi. Ia juga tie orang yang suka sat set. Tapi, ketika bersama Ela, ia ingin memiliki waktu lebih lama. Tidak salah kan?


"Duduk dulu," pinta Elmer agar Ela duduk kembali.


Ela pun memilih untuk duduk di sofa daripada duduk di kursi kerjanya. karena itu juga, Elmer jadi ikutan pindah duduk di sebelah Ela. Bahkan ia dengan tak tahu malunya menyandarkan kepalanya di pundak Ela.


"Jangan pergi, aku cuma butuh bahu sebentar untuk bersandar. Cuma satu menit," pinta Elmer ketika Ela akan bangkit dari duduknya. Ela pun membiarkan saja apa yang Elmer inginkan toh cuma satu menit.


Setelah satu menit selesai, Elmer tak kunjung memindahkan kepalanya dari bahu Ela. Ela menoleh ke samping dan mendapati bahwa Elmer justru tertidur di bahunya.


"Aku tidak tahu masalah apa yang kau hadapi. Tapi, sepertinya itu cukup berat," ucap Ela sambil menjauhkan kepala Elmer dari bahunya dan membiarkan Elmer berbaring di sofa panjang itu.


"Ada ya orang datang-datang kesini cuma mau numpang tidur doang. Kalau ketahuan bagaimana sikapmu oleh media. Pasti kau akan malu sendiri," ucap Ela lagi kemudian kembali melanjutkan gambarnya lagi.


Waktu terus berputar, Ela menghentikan pekerjaannya karena hari sudah larut malam. Tapi ternyata, Elmer masih terlelap dengan sempurna pada posisinya. Ingin membangunkan pun Ela rasanya agak tidak tega. Apalagi laki-laki itu terlihat sangat pulas tidurnya. Tapi, kalau tidak ia bangunkan dan menunggu Elmer bangun dengan sendirinya, entah kapan waktunya.


Ela pun menggoyang-goyangkan tubuh Elmer agar laki-laki itu terbangun. Namun, apa yang ia dapatkan, ia justru malah ditarik oleh Elmer hingga wajah keduanya saling berhadapan. Di saat itu juga Elmer membuka matanya.


"Ela, aku sungguh tak main-main dengan ucapanku. Aku menyukaimu. Aku ingin kau jadi tameng pelindungku. Dan aku pun akan jadi apapun yang kau butuhkan."


Ela tak menjawab, ia malah langsung bangun dari posisinya itu. Lalu berdiri dengan sedikit salah tingkah.


"Cepat bangun! Aku akan menutup butiknya. Atau kau ingin aku kunci di dalam sini?"


"Kalau dikuncinya bersamamu aku tidak akan menolak."


Jawaban Elmer itu malah membuat Ela kesal dan langsung menarik tangan Elmer untuk segera berdiri. Ela membawa Elmer keluar dari ruangan kerjanya dengan tangan yang setengah digenggam oleh Ela. Elmer santai saja menghadapinya. Ia malah membiarkan tangannya digenggam oleh Ela.


Ketika akan mengunci pintu butiknya, Ela baru sadar kalau tangan mereka saling bertautan. Ela pun refleks langsung melepasnya.


"Gimana? Udah merasa nyaman?"


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2