Cinta Sang Aktor

Cinta Sang Aktor
Bab 31 - Karena ada kau di sampingku


__ADS_3

Ela mengantarkan Reynard ke rumahnya dulu, karena mama papa bocah kecil itu masih sibuk berkencan.


Naya terlihat keheranan ketika Ela terlihat buru-buru pergi lagi dari rumah.


"Mau kemana lagi Ela?" tanya sang mama.


"Mau antar Elmer pulang ma. Aku pergi dulu. Bye ma."


Baru juga ingin bertanya lagi. Mobil yang Ela kemudikan sudah menjauh dari halaman rumah dan sudah melewati gerbang.


Naya hanya bisa menyimpan rasa penasarannya dan akan menanyakan itu nanti setelah anaknya pulang. Rasanya aneh saja. Berangkat ke kebun binatang berdua. Pulang-pulang malah jadi tiga orang.


*


*


Ela memapah Elmer yang masih pingsan untuk masuk ke dalam lift. Wanita itu terus ngedumel karena kesal.


"Cih, pergi sama siapa pulang diantar siapa! Harusnya aku tuh kan bobo cantik sekarang.!"


Tapi melihat wajah Elmer yang nampak pucat, Ela jadi kasihan juga. Ia malah jadi bertanya-tanya.


"Sebenarnya apa yang kau alami sih? Kenapa tiba-tiba datang langsung meluk terus pingsan? Aneh!"


Hal itu terus terjadi beberapa kali. Ela penasaran, tapi ia gengsi mau bertanya. Ia takut dikira mulai suka sama Elmer karena bertanya tentang Elmer. Tapi, sungguh ia benar-benar penasaran.


Klik!


Pintu apartemen Elmer terbuka. Ela membawa Elmer ke dalam kamar yang warnanya dominasi hitam. Ia menjatuhkan tubuh Elmer di atas ranjang.


Huh!


Ela menarik napasnya. Ia merasa tubuhnya langsung pegal seketika. Bagaimana tidak? Badan Elmer kan lebih besar darinya. Untung saja Ela sering latihan beladiri, jadi ototnya tidak lemah-lemah amat untuk memapah Elmer dari lantai bawah hingga masuk ke apartemennya.


Ketika Ela akan pergi dari kamar, mata Elmer Perlahan-lahan terbuka dan tangan Ela ditahan oleh Elmer.


Ela pun jadi menoleh.


"Jangan pergi," ucap Elmer dengan lirihnya.


"Tidak, aku hanya akan nunggu di luar sampai Sam datang," jawab Ela.


"Jangan pergi dari kamarku. Temani aku disini," ucapnya lagi.


Ela mengernyitkan alisnya. Ia menatap curiga ke Elmer.


"Aku tidak akan berbuat aneh-aneh padamu," ucap Elmer lagi untuk meyakinkan Ela agar tidak pergi.


Ela pun menurut, ia duduk di tepi ranjang Elmer dengan melepaskan cengkeraman tangan Elmer.

__ADS_1


Sebenarnya ada banyak pertanyaan di pikiran Ela. Kenapa Elmer tidak tinggal bersama keluarganya? Kenapa malah memilih tinggal sendirian? Tapi, lagi-lagi ia urungkan karena takut Elmer akan menuduhnya mulai menyukai Elmer karena mulai penasaran dengan laki-laki itu.


Di keheningan itu, Elmer mulai bicara lagi.


"Tidakkah kau penasaran apa yang terjadi padaku? Setelah beberapa kali aku datang dan memelukmu?"


Ingin mengangguk, tapi Ela malah memberikan jawaban lain.


"Aku merasa aku tidak berhak tahu apa yang terjadi padamu. Yang aku tahu kau terlihat kesakitan. Jadi, aku mau membantumu."


"Benar, tidak penasaran?" tanya Elmer lagi.


Ela menggeleng. Padahal di hatinya ia ingin sekali tahu alasannya. Memang dasar wanita, lain di mulut lain di hati.


"Padahal, aku ingin bercerita padamu."


Alis Ela sedikit terangkat. Hal itu membuat Elmer tersenyum tipis. Ia tahu sebenarnya Ela penasaran. Tapi, daripada menceritakan masalahnya pada orang yang belum mau mendengarkan ceritanya, Elmer memilih untuk tetap tidak cerita.


"Maaf untuk yang waktu itu. Kau jadi terseret-seret ke dalam pemberitaan mengenai diriku."


"Sudahlah, tidak apa-apa. Lagipula semuanya sudah berlalu. Beritanya pun sudah menghilang. Publik juga pasti sudah melupakan berita itu karena munculnya berita baru," jawab Ela.


"Tetap saja aku merasa tidak enak Ela."


"Kupikir kau orang yang seenaknya. Rupanya kau punya rasa tidak enak juga ya?"


Elmer tidak menjawabnya. Ia hanya tersenyum tipis kemudian bangun dari posisinya menjadi duduk bersandar di ranjang.


"Tadi kau kelihatan pucat, tapi sepertinya, sekarang sudah baik-baik saja ya."


"Itu karena mu," jawab Elmer.


"Aku?" Ela menunjuk dirinya.


Elmer mengangguk.


"Ya, karena ada kau di sampingku. Semuanya akan jadi terasa baik-baik saja."


Ela masih bingung, bagaimana mungkin ini bisa terjadi.


"Kalau penasaran, coba tanyakan padaku. Aku akan dengan senang hati menjawabnya."


"Tidak." Ela tetap kekeh tidak mau bertanya.


"Ya sudah, simpan saja rasa penasaran itu hingga menggunung. Malah bagus jadinya. Itu artinya di pikiranmu nantinya hanya ada aku, aku dan aku. Tak ada orang lain yang bisa kau pikirkan," ucap Elmer dengan senyum tipisnya.


"Kepedean sekali. Di pikiranku tuh isinya desain, desain dan desain."


"Ya, ya, ya, ya, berkilah lah semau mu."

__ADS_1


Tiba-tiba Sam masuk ke dalam kamar dengan rasa cemasnya. Ia langsung memegang wajah Elmer dan menanyakan apa laki-laki itu pusing? Mual atau muntah-muntah?


Elmer spontan menggeleng.


"Kau sendiri kan sudah tahu. Kalau ada Ela, aku akan baik-baik saja," jawabnya.


"Maafkan aku, tadi aku kurang cepat menolong mu. Harusnya aku tak membiarkanmu didekati para fans wanitamu hingga kau jadi kesa ... "


Belum juga selesai bicara, Elmer langsung memotongnya.


"Sudah, tidak apa-apa. Jangan dibahas lagi karena aku sudah baik-baik saja."


Elmer sengaja memotong ucapan Sam itu, agar Ela tidak mengetahui penyebabnya. Ia ingin Ela yang penasaran dan bertanya langsung padanya.


"Karena kau mengatakan sudah baik-baik saja dan Sam pun sudah datang. Aku mau pamit pulang dulu."


"Argh! Kepalaku tiba-tiba sakit," ucap Elmer yang berakting agar Ela tak buru-buru pergi.


Namun, jelas saja Ela tahu itu semua hanya sandiwara. Bagaimana mungkin kepala yang sakit tapi yang dipegang tangannya.


Ternyata kau bisa bersikap bodoh juga El! Baguslah, aku jadi merasa kau pun manusia yang sama sepertiku.


"Aktingmu kurang meyakinkan," ledek Ela kemudian menjitak kepala Elmer.


Ctak!


Elmer meringis, merasa kesakitan, padahal Ela melakukannya sangat pelan.


"Sekarang gimana? Udah berasa sakit kepalanya?"


Elmer cemberut sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Kenapa susah sekali sih mendapatkan perhatianmu El? Apa aku harus kesakitan dulu supaya kau dengan sukarela menolongku?"


"Tidak usah melakukan apapun. Tidak usah menarik perhatianku. Udah ya, aku pulang dulu. Semoga kau benar-benar sudah baik-baik saja."


Ela bangkit dari duduknya dan pergi dari hadapan kedua laki-laki di hadapannya.


Elmer hanya bisa menghela napasnya saja. Ditemani Ela beberapa waktu saja sudah membuatnya senang, tapi tetap saja kurang lama rasanya. Bahkan Elmer sampai mengedarkan pandangannya untuk melihat Ela keluar dari kamar. Ia ingin melihat bayangan dari Ela. Semua tentang Ela benar-benar membuatnya penasaran.


"Sepertinya kau tidak ingin aku menceritakan trauma mu pada Ela. Kenapa?" tanya Sam yang merasa Elmer sengaja memotong pembicaraannya tadi.


"Dia belum mau tahu tentangku, meski dia penasaran. Jadi, lebih baik tidak menceritakannya saja. Daripada dia ada di sisiku nantinya karena kasihan. Aku tidak mau itu."


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2