Cinta Sang Aktor

Cinta Sang Aktor
Bab 45 - Belum direstui


__ADS_3

Ela mulai mengerti dan memahami apa yang Elmer ceritakan. Bahkan ia juga tahu, kenapa Elmer seolah-olah tak suka pada Bella. Rupanya wanita itu adalah orang yang telah memberikan luka terhebat untuk Elmer. Ia juga percaya kalau trauma seperti Elmer memang ada. Ela mulai memandangi wajah Elmer melihat wajah Elmer yang bercerita terlihat seperti sudah tak ada lagi dendam.


Tapi dugaan Ela salah, bukan tidak ada dendam, tapi Elmer sudah mati rasa akan lukanya tapi tak bisa melupakan dan merelakan semudah itu.


"Dari apa yang sudah aku ceritakan tadi tentang semua rahasiaku. Aku yakin, kau adalah orang yang tepat untuk aku percayai," ucap Elmer.


Ela masih terus memandang Elmer tanpa kata. Rupanya selama ini ia sudah salah sangka kepada Elmer. Sepertinya sikap Elmer yang terlihat ketus, sombong dan percaya diri itu, hanya untuk melindungi dirinya sendiri.


"Kenapa menatapku begitu? Kau mulai terpesona padaku?" goda Elmer.


Ela pun langsung berpaling dan memandang ke arah lain.


"Aku tidak minta untuk dikasihani. Aku hanya minta untuk didukung dan kau ada bersamaku," ucap Elmer lagi.


Wanita itu tidak menjawab. Ia malah bangkit dari duduknya dan berjalan mengitari kolam air mancur sambil menaruh tangannya disana. Elmer pun mengikuti Ela.


"Semua orang memang punya masalahnya sendiri-sendiri. Ada orang yang bisa menceritakannya dengan lugas dan ada juga yang cuma bisa memendamnya saja."


"Dan kau adalah tipe orang yang memendam," potong Elmer tiba-tiba.


Ela tak menanggapi ucapan itu, dan terus memainkan air mancur itu. Meski dingin, tapi setidaknya bisa membuat Ela sedikit rileks.


"Aku tidak memaksa untukmu bercerita. Tapi, kalau mau cerita, aku siap jadi pendengar, seperti kau yang mendengarkan ceritaku dengan fokus tadi."


Ela menatap Elmer kemudian berjalan lagi di dinginnya malam kembali ke tempat duduk yang tadi. Kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi dan memejamkan matanya.


"Kau tidak memiliki tanggapan tentang ceritaku? Tidak ada nasihat atau komentar atau apapun untuk dikatakan?" tanya Elmer yang penasaran karena Ela tak kunjung buka suara tentang pendapatnya setelah mendengarkan cerita Elmer tadi.

__ADS_1


"Memang apa yang harus aku tanggapi? Semua orang punya masalah dan masa lalunya masing-masing. Yang beda hanyalah, bagaimana ia bisa keluar dari masa lalu itu dan menghadapinya. Seharusnya itu kan yang dilakukan?" ucap Ela tanpa membuka mata.


"Malam sudah semakin larut, ayo kita pulang! Mama dan papa pasti sudah menungguku di rumah. Papa yang bilang tidak akan ikut campur soal kehidupanku lagi, tapi aku tahu, dia adalah orang yang akan lebih khawatir dibandingkan mama," ucap Ela yang langsung berdiri lagi dari duduknya.


Mereka berdua pun pulang dari sana. Elmer tak bisa menolak ajakan Ela. Padahal ia sudah menyiapkan kembang api istimewa untuk dilihatnya bersama Ela disana. Tapi apa boleh buat. Sepertinya malam itu bukanlah malam yang tepat. Apalagi Ela masih belum bisa terbuka padanya.


Di perjalanan, Ela terus memandangi ponselnya. Entah apa yang dilihat wanita itu. Tapi Elmer benar-benar penasaran. dibuatnya. Ia bahkan merasa diacuhkan oleh Ela karena sejak pulang tadi tak ada obrolan di dalam mobil antar keduanya hingga mobil Elmer pun sampai di halaman rumah.


Benar saja, Richard sudah berdiri di depan rumah dengan kedua tangannya yang sudah bersidekap di dada. Lalu menatap Ela dan Elmer yang keluar dari mobil dengan penuh tanda tanya.


Ketika keduanya sudah ada di hadapan Richard, Richard menatap tajam ke arah Elmer. Richard ingat betul bahwa laki-laki inilah yang membawa putrinya jadi bahan gosip beberapa waktu lalu. Hingga jadi memiliki banyak haters.


"Masuk ke dalam!" suruh Richard.


"Iya pa. Papa jangan keterlaluan ke Elmer. Biarkan dia pulang dengan selamat. Lagian aku pun pulang dengan selamat," ucap Ela kemudian masuk ke dalam rumah tanpa berucap apapun ke Elmer.


"Maaf om, saya mengantarkan Ela terlalu malam," ucap Elmer yang lebih memilih mengakui salah daripada membaut alasan yang tidak jelas.


"Ada motif apa mengajak anakku pergi keluar malam-malam?" tanya Richard dengan mata yang memicing menaruh kecurigaan.


"Saya suka dengan anak Om. Tapi, dia masih belum memberikan jawabannya," jawab Elmer.


Padahal kan Ela udah memberikan jawaban. Elmer saja yang masih berharap.


Richard mulai mengamati Elmer dari dekat dan memutari tubuh Elmer. Ia menatap Elmer dari ujung kaki hingga rambut. Ia memang orangnya tidak memandang dari status sosial. Tapi, karena Ela adalah putrinya yang paling ia sayangi. Richard ingin Ela mendapatkan pria yang mencintainya dengan tulus dan bertanggung jawab penuh juga pekerja keras.


"Aku tahu kau anak dari rekan bisnisku. Aku juga tahu apa pekerjaanmu dan seperti apa dunia kerjamu. Aku tahu kau pekerja keras. Karena Sebastian pernah menceritakan tentang anaknya yang berjuang dari nol untuk menggapai mimpinya yang bertolak belakang dengan dirinya. Tapi, aku masih belum bisa percaya padamu. Karena mu, anakku jadi dibenci orang-orang meski sekarang semua sudah berlalu. Namun, komentar kebencian masih selalu ada. Walaupun anakku tidak terlalu memperdulikannya. Tapi, aku sebagai papanya khawatir dan jelas memperdulikan itu. Karena aku yang tahu pasti seperti apa anakku."

__ADS_1


"Saya minta maaf soal itu Om. Semuanya memang terjadi karena saya. Saya juga tidak bisa mengelaknya."


Lagi-lagi Elmer meminta maaf.


Richard cukup kagum dengan sikap Elmer yang berani mengucapkan maaf. Ia pikir Elmer adalah anak yang tak tahu maaf dan belagu. Seperti artis-artis yang lain yang dikenalnya.


"Permohonan maaf diterima. Sudah sana pulang!" usir Richard ke Elmer.


Ketika Elmer ingin mencium tangan Richard, Richard menolak dan bilang, "Aku belum jadi papa mertuamu, jadi tidak perlu cium-cium tangan segala. Sana pergi dan pulanglah dengan selamat."


Richard pun kemudian masuk ke dalam rumahnya kemudian mengujinya dari dalam. Elmer yang melihat itu jadi merinding. Aura Richard begitu kuat dan tegas. Jika ia benar-benar ingin menjadikan Ela miliknya. Ia harus bisa menaklukan hati Richard. Belum lagi kedua kakak Ela yang Elmer sendiri tak tahu seperti apa karakter keduanya.


Elmer pun masuk ke dalam mobilnya dan pergi menjauh dari halaman rumah Richard. Rupanya Richard masih mengintip Elmer dari balik jendela. Hal itu diketahui oleh Naya.


"Lagi apa disitu Pa? Elmer sudah pulang?" tanya Naya.


Richard lalu menghampiri istrinya dan mengajak istrinya untuk duduk dan mengobrol berdua.


"Kenapa kau izinkan Ela pergi dengan Elmer? Kalau tiba-tiba ada paparazi yang mengikuti mereka dan memotret kebersamaan mereka bagaimana? Kalau sampai Ela jadi bahan gosip lagi gimana?"


Richard mengeluarkan semua unek-unek yang ada di kepalanya. Namun, Naya malah menggenggam tangan suaminya.


"Kau ini terlalu khawatir Pa. Ela juga pasti sudah memikirkan itu juga. Lagian apa salahnya sih, kalau Ela dekat sama Elmer? Lagipula anak kita itu kan masih sendiri. Biarlah dia merasakan cinta juga. Kita sebagai orang tua cukup mengawasi saja," ucap Naya yang membaut Richard mendengus sebal sambil mengerucutkan bibirnya.


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2