
Di lokasi syuting, Elmer sedang memperagakan adegan memotong-motong daging dengan lincahnya. Darah dari daging itu terus mengalir hingga ke dasar lantai. Lalu adegan selanjutnya adalah adegan mengobrol dengan seorang detektif yang menanyakan tentang pembunuhan di daerah itu.
"Cut!"
Adegan selesai, Elmer langsung pergi dari sana, membuat Sam yang sedang enak-enakan duduk santai jadi mengikuti Elmer juga.
Elmer pergi ke ruangan kostum. Ketika sudah ada di depan ruangan, ia enggan masuk ke dalam karena Ela terlihat sedang sibuk mengobrol dengan para wanita yang lainnya. Elmer takut akan disentuh, jadinya ia berdiri di depan ruangan seperti patung penunggu ruangan. Sesekali ia melihat ke dalam, menunggu para wanita keluar, ataupun Ela yang keluar. Namun tak ada sama sekali yang keluar.
"Haish! Kenapa sih wanita kalau sedang mengobrol pasti lama sekali? Menyebalkan!"
"Makanya, mending nyatain aja daripada kaya gini, nunggu tanpa ada kepastian," sahut Sam yang sudah berdiri di samping Elmer.
Elmer menatap tajam ke Sam, kemudian fokus kembali.
Tak lama kemudian terlihat Ela yang akan keluar dari ruangan. Elmer berpura-pura berjalan di depan ruangan supaya terlihat pertemuan mereka tanpa sengaja bertemu.
"Astaga! Kau ini ya, kalau jalan memang suka sekali tidak melihat jalan Ela! Hampir saja kau mau menabrak ku lagi!" kesal Elmer.
Ela mendengus kesal. Bukan salahnya juga dong, lagian Elmer juga salah, malah menghalangi jalannya.
"Kayanya lain kali aku harus jadi mata untukmu supaya jalanmu benar," ucap Elmer lagi.
Sam yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Kelakuan Elmer memang susah untuk ditebak. Bilangnya sih tidak suka, tapi kelihatan sekali kalau dia sedang mencari-cari perhatian dan ingin berinteraksi dengan Ela. Bahkan Sam tidak habis pikir, kenapa harus dengan beradu mulut?
"Hih! Kau kira aku buta apa?"
"Kau yang mengatakannya ya? Bukan aku."
Ela langsung memukul punggung Elmer lalu pergi dengan tatapan tidak senangnya.
Elmer tertawa, ia tidak bisa lagi menahan tawanya. Bahkan ia sampai memegang perutnya.
__ADS_1
"Ah, perutku, hahaha. Kau lihat tadi kan? Dia itu lucu sekali kalau sedang marah."
Elmer berjalan mengikuti arah kemana Ela pergi tadi. Sam hanya bisa pasrah saja mengikut kemana Elmer pergi untuk menjaga laki-laki itu.
Rupanya Ela bertemu dengan para karyawan wanita lagi. Elmer jadi pindah haluan dan tak mengikuti Ela lagi. Ia memilih untuk duduk di bawah pohon dengan angin yang mulai sepoi-sepoi menembus kain baju yang dikenakannya.
Waktu syuting selesai, Elmer dan Sam berjalan ke parkiran bersama. Disana ia melihat Ela yang mencak-mencak sendiri karena ban mobilnya yang tiba-tiba kempes.
"Ah, sial! Kenapa kempes segala sih? Padahal sepertinya tadi baik-baik saja!"
Lalu Elmer datang dan menawarkan pertolongan pada Ela.
"Ban mobilmu kempes ya? Kasihan sekali. Mau aku antar pulang? Lumayan kan gratis tidak usah bayar, daripada naik taksi harus bayar," ucap Elmer.
"Kau pikir aku tidak bisa bayar taksi? Aku punya banyak uang ya! Tidak perlu yang gratisan!" kesal Ela.
Ela membuka dompetnya dan hendak menunjukkan uangnya pada Elmer. Ia ingin pamer, namun ternyata, tak ada uang tunai sepeser pun disana. Bahkan yang koin saja tidak punya. Adanya hanya 2 black kard dan kartu ATM lainnya.
"Kau mau bayar taksi pakai itu? Mana bisa! Kebanyakan supir taksi inginnya uang tunai. Sudah! Ayo aku antar saja," tawar Ela.
Karena tak ada pilihan lain. Ela pun akhirnya mau diantar Elmer dan Sam. Namun sebelum itu, Ela memerintahkan karyawannya untuk mengurus mobilnya.
Ketika Ela akan duduk di depan, Elmer tidak memperbolehkannya dan meminta Ela untuk duduk di sampingnya saja.
"Sudah, biarkan Sam jadi supir kita hari ini. Dia sudah biasa, tenang saja."
Padahal di dalam hati, Sam sudah menggerutu.
Dasar sinting! Kau bahkan sengaja menyuruhku untuk mengempeskan ban mobil Ela karena ingin mengantarnya pulang. Oh astaga! Kenapa aku juga harus terlibat sih? Lama-lama aku bisa jadi penjahat juga! Ah, mama!
Sepanjang perjalanan, Ela terus memainkan ponselnya entah berkomunikasi dengan siapa. Namun, Elmer terlihat tidak senang. Apalagi Ela sampai tersenyum manis meski tipis-tipis. Tapi, namanya sudah cinta, walaupun hanya tipis pasti bisa terlihat dengan jelas.
__ADS_1
Ingin sekali rasanya Elmer mengambil ponsel itu dan menyembunyikannya. Namun apalah daya, dia kan masih bukan siapa-siapa bagi Ela.
Huh!
Elmer menarik napas pelan kemudian melihat ke arah kaca mobilnya.
Mobil pun kini sudah masuk ke dalam area halaman rumah Ela. Ela turun, Sam dan Elmer pun ikut turun juga. Ela hanya mengucapkan terima kasih tanpa mengajak dua laki-laki itu masuk ke dalam rumahnya.
Namun, mamanya malah muncul dan menjadi keduanya untuk masuk ke dalam.
"Astaga sayang! Masa ada orang baik yang mengantarmu pulang, malah tidak diajak masuk ke dalam rumah dulu. Ayo masuk Elmer, Sam."
Orang baik dari mananya Tante. Malah Elmer lah penjahatnya disini.
"Tidak usah ma. Lagian Elmer habis syuting, dia pasti lelah dan ingin istirahat di rumahnya. Begitu juga dengan Sam. Iya kan?" Ela menatap keduanya dengan tatapan memaksa mereka untuk langsung pulang saja.
Tapi ternyata, Elmer justru malah mengiyakan ajakan mamanya Ela. Tanpa memperdulikan Ela.
"Ah, tidak kok. Kalau Tante mengajak kami untuk masuk ke dalam, kami tidak menolaknya."
"Tuh! Dengerin! Mari masuk!"
Sam dan Elmer berjalan di belakang Naya. Sementara Ela masih berdiri dengan diam sambil memanyunkan bibirnya karena kesal.
"Kenapa sih mereka malah mau masuk ke rumah? Huh! Aku kan paling malas kalau menerima tamu, huh!"
*
*
TBC
__ADS_1