Cinta Sang Aktor

Cinta Sang Aktor
Bab 57 - Itu bukan salahmu!


__ADS_3

Masih belum ada kata yang terucap dari bibir Ela setalah ditarik untuk duduk kembali oleh Elmer. Tatapan wanita itu tampak lurus ke depan memandangi ombak yang menggulung di lautan. Suara deburan ombak yang menghantam karang jadi irama di malam itu.


Ela tampak menarik napasnya berat beberapa kali. Sangat sulit baginya untuk menceritakan masa lalu. Bahkan mama dan papanya saja tidak tahu mengenai hal tersebut. Mereka hanya tahu kalau pernah ada kecelakaan yang menimpa Ela dan Valdi. Tanpa tahu, kalau Valdi itu adalah orang yang mencintai Ela bahkan sudah hampir seperti penguntit bagi Ela.


"Kalau belum bisa cerita, gimana kalau kita teriak sama-sama. Konon katanya dengan kita berteriak, bisa sedikit melegakan hati kita. Satu, dua, tiga ... "


"Aaaaaaaaa .... "


Elmer dan Ela berteriak bersamaan. Keduanya melepaskan semua rasa yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Lalu setelah berteriak Ela malah mengucapkan terima kasih ke Elmer.


"Dari banyaknya orang yang aku kenal. Mungkin kau yang sepertinya paling mengerti gimana perasaanku. Karena kita berada di dalam kesulitan yang hampir sama. Sama-sama terjebak di masa lalu. Terima kasih."


Elmer mengangguk lalu berdiri dan mengajak Ela untuk masuk ke dalam resort karena anginnya mulai dingin. Sementara Ia dan Ela tak memakai jaket sama sekali.


Tapi, kini Ela malah enggan untuk berdiri.


"Tadi kau bilang, kau bisa mati penasaran kalau aku tidak bercerita. Jadi dengarkanlah. Aku ingin bercerita padamu."


Dengan senang hati, Elmer menyetujuinya, tapi ia akan pergi ke resort dulu untuk mengambil jaketnya supaya mereka tak kedinginan di pantai malam-malam.


Beberapa menit kemudian, Elmer sudah ada di samping Ela lagi. Ia sudah memakaikan jaketnya untuk menghangatkan tubuh Ela. Sementara dirinya mengganti pakaian yang lebih tebal sedikit.


"Mulailah, aku akan dengarkan."


*


*


Flashback on


Ketika jaman SMA, Ela selalu jadi pusat perhatian orang banyak karena parasnya yang cantik dan berasal dari keluarga terpandang. Bahkan ia selalu jadi juara 1 di kelasnya. Karena itu semua, banyak laki-laki yang tertarik padanya. Setiap harinya, Ela selalu mendapatkan banyak hadiah dari para laki-laki di sekolahnya. Tapi ada satu dari mereka yang berbeda. Laki-laki itu seperti penguntit yang selalu mengikuti kemana pun Ela pergi.

__ADS_1


Mungkin awalnya, Ela merasa biasa saja, tapi lama-lama ia merasa kesal juga. Sampai akhirnya, Ela memberanikan diri untuk bicara dengan laki-laki itu dan pada akhirnya ia tahu siapa nama laki-laki itu. Valdi, namanya.


"Kenapa kau selalu mengikuti kemana pun aku pergi? Apa kau tidak tahu menjadi penguntit itu termasuk dalam pelanggaran privasi orang?"


"Maaf El, aku hanya ingin tahu kegiatan mu dan keseharian mu saja. Aku tidak berniat buruk. Sumpah!" ucapnya sambil memberikan tanda damai dengan jarinya.


Karena pernah ditegur sekali oleh Ela. Valdi jadi semakin sering gencar mengikuti Ela. Memang benar, Valdi tak melakukan hal buruk apapun. Dia hanya seperti bodyguard yang menjaga Ela dari jarak jauh.


Sampai suatu ketika, ada orang yang menembak Ela terang-terangan di depan umum testnya di halaman sekolahnya. Orang itu adalah Valdi.


"Ela, aku menyukaimu. Selama ini aku mengikuti kemanapun kau pergi karena aku takut terjadi hal buruk padamu. Tapi, aku tidak mau hanya jadi orang yang selalu ada di belakang mu, melihat punggungmu dari jauh. Aku ingin jadi orang yang ada di sampingmu. Maukah kau jadi kekasihku?"


Ela terkejut bukan main, tapi ia memang tidak memiliki rasa apapun ke Valdi. Jadi, Ela pun menolak terang-terangan juga pernyataan cinta Valdi.


Berita itu jadi gempar di penjuru sekolah. Ela sering disebut sebagai wanita yang tidak punya hati karena menolak pria di depan umum sampai membuat pria itu malu. Padahal di kenyataannya, meski ia sudah menolak Valdi, laki-laki itu masih belum menyerah untuk mengejarnya. Bahkan selalu membantu apapun yang Ela butuhkan.


Sampai suatu ketika, ada wanita yang melabrak Ela karena tidak suka dengan sikap Ela yang sok kecantikan katanya.


Ela menatap orang tersebut dengan sedikit tajam.


"Dia yang mau kenapa kau yang sewot? Lagian emang ada urusannya denganmu? Tidak kan? Jadi jangan ikut campur!"


Setelah mengatakan itu, Ela pergi keluar dari kelasnya. Wanita yang tadi marah padanya adalah Erlin.


Hari demi hari terus berlalu, sampai akhirnya Ela tahu kenapa Erlin terlihat membencinya rupanya wanita itu menyukai Valdi. Ela pun menghampiri Valdi.


"Val, daripada kau terus berjuang tanpa menghasilkan apapun. Lebih baik lupakan perasaanmu padaku. Kau harus lebih jeli lagi ke orang di sekitarmu. Ada orang yang menyukaimu dan itu bukan aku. Aku harap kau mengerti dan jangan terus berharap hatiku jadi terbuka."


Setelah mengucapkan kata itu, Ela pergi dari hadapan Valdi dan berjalan menuju ke gerbang sekolah. Valdi yang masih belum menyerah mengikuti Ela lagi. Laki-laki itu melihat Ela yang akan menyeberangi jalan. Ela tampak melihat ke kanan dan kiri sebelum menyebrang. Tapi, ketika Ela menyebrang ada sebuah truk yang tiba-tiba lewat dengan kecepatan tinggi. Ela jadi terdiam tanpa bisa melangkahkan kakinya sampai seseorang berhasil mendorongnya hingga terbentur ke aspal jalanan.


Orang yang menyelamatkan Ela dalam kondisi tubuh yang buruk dengan darah yang sudah bercecer kemana-mana. Meski kepalanya sakit, Ela menghampiri orang tersebut dan mendapati kalau orang yang menolongnya adalah Valdi.

__ADS_1


Napas Valdi tampak tersengal-sengal. Pria itu meraih tangan Ela. Sementara Ela sudah menangis sesenggukan.


"A-ku se-nang ka-u ba-ik-ba-ik sa-ja. Un-tuk ter-akhir ka-linya. A-ku i-ngin me-ngatakan la-gi. A-ku men-cintaimu El."


Setelahnya, Valdi mengembuskan napas terakhirnya. Ela menangis histeris disana. Ia benar-benar shock atas kejadian yang terjadi padanya dan Valdi. Sementara truk yang menabrak Valdi itu juga menabrak pepohonan.


Semenjak kejadian kecelakaan tersebut, Ela ditatap benci oleh semua siswa di sekolahnya. Padahal kejadian tersebut murni karena kecelakaan bukan karena salahnya.


Tapi karena sering mendengarkan perkataan buruk dari orang lain, Ela jadi berpikiran seperti mereka juga. Ia jadi menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Valdi. Kalau saja ia berhati-hati ketika menyebrang jalan, mungkin Valdi tidak akan menolongnya dan berakhir meninggal dunia.


Apalagi kejadian itu, dimanfaatkan oleh Erlin untuk membuat Ela dibenci banyak orang. Gosip yang beredar tentang Ela saat itu adalah, wanita jahat, wanita pembawa sial.


Semenjak itu, Ela jadi sedikit pendiam. Ia jadi takut dicintai oleh laki-laki lagi. Karena tak ingin orang yang mencintainya mempertaruhkan hidupnya hanya untuk menyelamatkan dirinya. Bahkan Ela pun takut untuk jatuh cinta dan merasa tidak pantas untuk dicintai jika pada akhirnya orang yang dicintainya akan kena sial.


Flashback off


*


*


"Kalau aku jadi dia, aku pun akan melakukan hal yang sama. Aku tidak mau melihat orang yang aku sayangi terluka. Tapi harus kau ingat, itu bukan salahmu! Jangan menganggap kematiannya karena mu. Itu pilihannya sendiri, soal kematian, itu sudah takdir dari Yang Di Atas. Kau tidak seharusnya menghukum dirimu sendiri karena itu. Kau berhak bahagia juga. Merasakan apa yang namanya cinta dan mencintai laki-laki."


Ela menatap Elmer dengan air mata yang sudah menetes sejak ia menceritakan masa lalunya. Elmer langsung membawa Ela ke pelukannya dan mengelus pelan rambut Ela sambil mengatakan semuanya bukan salah wanita itu.


"Itu bukan salahmu, berhenti untuk menyiksa diri sendiri."


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2