Cinta Sang Aktor

Cinta Sang Aktor
Bab 54 - Sama-sama menyukai Ela


__ADS_3

Elmer sudah tiba di butik milik Ela. Jadi kenakalan yang dimaksud Elmer tadi ya adalah Ela. Pria itu datang dengan penampilan seperti biasanya yaitu mengenakan masker, kacamata berserta topinya.


Namun ketika sudah berada di dalam ruangan Ela, pasti semua benda yang menutupi wajahnya langsung dilepas begitu saja.


Ela masih belum menyadari kedatangan Elmer. Wanita itu masih fokus pada tabletnya. Elmer pun tak mengganggu Ela karena melihat keseriusan wanita itu jadi menambah pesona yang dimilikinya. Ia malah duduk saja di kursi kosong dan menaruh satu tangannya di dagu sambil terus memperhatikan Ela.


Ela telah selesai dengan tabletnya. Ketika ia akan keluar dari ruangannya, ia begitu terkejut saat melihat Elmer ada disana. Apalagi Elmer memperlihatkan tampang senyum manisnya dengan bibir yang merapat.


"Astaga! Kenapa kau bisa ada disini? Kapan datang?"


"Ya bisa lah, orang aku punya kaki untuk berjalan. Mungkin sudah hampir 5 menit lebih aku memperhatikanmu."


Ela memperlihatkan wajah kesalnya ke Elmer. Ia yang niatnya mau keluar pun jadi diurungkan karena Elmer memintanya untuk bicara hal penting.


"Bukan mau mengajakku untuk jadi kekasihmu lagi kan?" tebak Ela dengan penuh rasa curiga.


"Astaga! Enggak! Kali ini di skip dulu itunya. Aku mau menawarkan kerjasama bagus untukmu."


Elmer mengeluarkan map nya dan memperlihatkan desain baju seragam ke Ela.


"Maksudnya apa ini?" tanya Ela.


"Jadi begini, aku ingin menawarkan kerjasama denganmu. Aku ingin kau membuat 50 seragam dalam waktu 4 hari. Ini gambar desain seragamnya. Bahannya juga sudah dipersiapkan. Aku hanya butuh jasa menjahit. Untuk masalah biaya dan uang yang kau terima itu bisa diatur, gimana? Mau kan?"


Elmer pikir Ela akan langsung menerimanya, rupanya ia salah. Ela malah langsung menolaknya.


"Aku tidak punya waktu. Aku pun masih banyak kerjaan. Kau bisa cari partner kerja dari orang lain."


Elmer langsung merengut sedih. Ia bahkan tak segan-segan memegang kedua tangan Ela untuk memohon membantunya.


"Please, sekali ini aja, bantu aku. Ini genting banget soalnya El. Ya, ya?"


Ela menghela napas berat.


"Aku benar-benar tidak bisa membantumu. Pekerjaanku juga banyak, ada beberapa juga yang harus sudah selesai. Pegawaiku tidak terlalu banyak untuk menyelesaikan itu semua dalam waktu yang terbilang singkat. Kalau mau, aku akan kenalkan seseorang untuk membantumu, gimana?"


Mau tak mau Elmer pun setuju dengan saran dari Ela. Karena mau bagaimana pun seragam itu sangat penting untuk kelangsungan perusahaan ayahnya.


"Sebentar aku telepon dulu orangnya."

__ADS_1


Ela berjalan agak menjauh dari Elmer. Hal itu membuat Elmer jadi curiga.


"His! Ngapain nelpon jauh-jauh. Heran banget!"


Tak lama, Ela pun kembali dan menjelaskan apa yang dia bicarakan ditelepon tadi dengan seseorang.


"Sebentar lagi orangnya kesini. Mungkin kau harus menunggu sampai 15 hingga 20 menitan, apa tidak masalah untukmu?"


Ela menanyakan hal tersebut karena takut mengganggu jadwal Elmer. Apalagi aktor seterkenal Elmer mana mungkin leha-leha saja.


"It's okay. Aku akan menunggu disini," ucapnya dengan senang hati. Karena baginya, ada keuntungan dengan menunggu disana, ia bisa lebih lama bersama dengan Ela.


20 menit kemudian, orang yang tadi ditelepon Ela sudah datang. Elmer berdiri dari duduknya dan melihat ke orang tersebut. Elmer langsung mengingat orang tersebut. Dia adalah laki-laki yang pernah makan malam berdua dengan Ela sampai tertawa begitu lepas dan bahagia. Elmer jadi terus memperhatikan laki-laki itu dari atas sampai bawah.


"Kenalkan dia temanku, namanya Hito. Dia punya pabrik garmen juga. Aku tadi sudah menjelaskan semuanya dan dia bersedia. Jadi, kau tinggal jelaskan apa yang belum kau jelaskan padaku tadi."


Hito mengulurkan tangannya ke Elmer, Elmer pun membalasnya sambil memperkenalkan dirinya.


"Elmer Zion Sebastian."


"Aku tahu, kau sangat terkenal. Bahkan fotomu banyak sekali terlihat di jalanan."


Ketika dua orang laki-laki itu ditinggal berdua, masih belum ada topik yang dibahas juga. Hingga akhirnya, Elmer yang memulainya duluan. Tapi bukan bahas mengenai seragam melainkan tentang Ela.


"Kau menyukai Ela?" tanya Elmer yang membuat Hito sedikit terkejut.


"Bagaimana bisa kau tahu?" tanya Hito yang dengan keterkejutannya.


Elmer tersenyum sinis. Lalu menjawabnya.


"Kau menatapnya dengan dalam. Ketika dia bicara, kau selalu melihat ke arahnya. Sebagai sesama laki-laki kita pasti tahu arti tatapan itu."


Hito tak mungkin lagi mengelak, karena perasaan suka itu memang benar adanya. Sayangnya, ia masih belum cukup keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Apalagi Hito tahu betul, kalau Ela masih tidak mau menjalin hubungan dengan pria manapun soal perasaan.


"Kau juga menyukainya kan?" Hito malah memperjelas itu juga ke Elmer.


"Tentu saja aku menyukainya. Tapi, jangan harap aku mengalah karena kau mau membantuku. Tidak akan!" ucap Elmer.


Setelah perdebatan mengenai Ela, keduanya pun langsung membahas ke intinya. Mereka terlihat seperti partner kerja yang baik, padahal nyatanya adalah saingan untuk merebut hati Ela.

__ADS_1


Kedua laki-laki itu sudah keluar dari ruangan Ela. Ela menghampiri keduanya.


"Sudah dibicarakan semuanya?" Keduanya mengangguk.


"Kalau begitu, aku pamit langsung pergi El. Lain kali aku akan kesini tidak untuk pekerjaan."


Ela mengangguk lalu mengatakan hati-hati di jalan ke Hito. Elmer yang mendengar hal tersebut langsung mendelik matanya. Ia benar-benar tidak terima diperlakukan tidak adil begini. Ela bersikap baik ke Hito, sementara ke dirinya selalu seenaknya bahkan tak ada senyum-senyumnya sama sekali. Elmer cemburu, ia juga ingin dikhawatirkan seperti Hito.


Di saat Ela akan masuk lagi ke ruangannya, ia dihalangi oleh Elmer.


"Ih, minggir!"


"Kenapa kau selalu bersikap cuek padaku? Kenapa sama orang lain tidak?"


Ela menghela napasnya sejenak. Lalu menjawab pertanyaan Elmer.


"Apa yang kita tanam itulah yang kita tuai. Kesan pertamaku ke seseorang selalu jadi patokan bagaimana aku akan bersikap nantinya. Dan kesan pertamaku padamu sudah buruk, makanya aku tidak mudah baik denganmu."


Elmer memanyunkan bibirnya.


"Tapi, kau tidak bisa melihat seseorang cuma dari kesan pertamanya saja Ela. Itu sangat tidak adil."


Ela tak memperdulikan itu dan langsung menyingkirkan tubuh Elmer yang menghalangi jalannya. Elmer mengikuti Ela sampai ke ruangannya lagi.


"Sudah tidak ada lagi yang dibahas kan? Aku sudah membantumu, jadi kau bisa pergi."


Elmer benar-benar tak mengerti gimana jalan pikiran Ela. Wanita itu selalu bersikap begitu padanya.


"Aku akan datang lagi lain waktu. Terima kasih untuk hari ini."


Elmer berbalik dan melangkah keluar dari ruangan Ela. Ia sempat menengok ke belakang untuk melihat apakah Ela menengok ke arahnya atau tidak. Namun, harapan hanyalah sebuah harapan. Elmer pergi dari sana membawa hati yang tak karuan rasanya.


Dulu ketika mencintai seseorang sepenuh hati, ia dicampakkan begitu saja. Sekarang, ketika sudah mencintai lagi, ia diabaikan juga. Kalau seperti ini terus, bisa-bisa ia benar-benar dijodohkan oleh ayahnya. Apalagi satu tahun yang ia berikan ke ayahnya tinggal setengah tahun lagi.


Di depan butik Ela, Elmer hanya bisa menarik napasnya pelan kemudian masuk ke dalam mobilnya meninggalkan butik tersebut.


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2