
Paginya Ela bangun dari tidurnya dan keluar dari kamar penginapannya. Tampak sepi seperti belum ada yang bangun. Ela mulai berkeliling lagi, karena rasanya berbeda berkeliling ketika malam hari dan di saat terang benderang seperti saat ini.
Ela berdiri di dekat pinggiran resort yang mengarah ke pantai. Ia menarik tangannya ke atas untuk melakukan perenggangan.
"Udah bangun juga rupanya," ucap Elmer yang tiba-tiba datang dan langsung berdiri di sampingnya.
Ela tak langsung menjawab, sebab ia jadi merasa canggung setelah semalam ia menceritakan tentang keresahan dirinya. Apalagi pada orang yang belum genap setahun ia kenal. Ela pun tak tahu mengapa, ia bisa semudah itu bercerita. Apa karena ia pun sudah memiliki kartu AS milik Elmer? Entahlah, ia benar-benar tidak tahu.
"Sudah merasa lebih baik? Gimana hatimu? Masih merasa gelisah dan kepikiran soal masa lalumu? Apa kamu mimpi buruk lagi?"
Sederet pertanyaan Elmer berikan padanya. Sementara ia masih bungkam tak mau menjawab satu pun dari itu.
"Aku kira setelah kau jujur soal dirimu. Kau akan langsung buka hati untukku. Ternyata aku salah. Pasti kau masih butuh waktu kan?"
"Bisa nggak, nggak usah bahas soal perasaan lagi. Kau disini tujuannya untuk liburan kan? Nikmati liburan itu saja," ucap Ela kemudian pergi dari hadapan Elmer.
Elmer berbalik dan menatap kepergian Ela dengan senyum tipis. Meski pertanyaan tadi diabaikan, tak mengapa. Elmer masih punya banyak stok sabar sampai Ela menjadi miliknya.
Matahari sudah mulai meninggi, waktu telah menunjukkan pukul 8 pagi. Naomi sudah mandi tetapi masih ingin berjalan-jalan di pantai.
"Udah sana pergi sama suster kalau mau jalan-jalan lagi di pantai mah. Papa tunggu disini ya. Jangan lama-lama, Naomi belum sarapan loh!"
"Oke, siap Pa!" ucap Naomi sambil memperagakan hormat ke Elmer.
"Ayo, Sus!" ucap Naomi sambil menarik tangan susternya.
Sam duduk di sebelah Elmer yang sedang meminum teh manis hangat. Ia mengambil kacang rebus yang ada di dalam piring yang terletak di meja.
"Ngomong-ngomong Ela kemana? Aku belum melihatnya pagi ini."
"Dia sudah bangun lebih pagi dari kita. Mungkin lagi mandi atau apa di kamarnya. Ya aku nggak tahu," jawab Elmer.
Sam mengangguk-angguk saja. Lalu memasukkan kacang yang sudah ia buka ke dalam mulutnya.
"Lalu kenapa kau biarkan Naomi keluar cuma dengan susternya aja? Kalau terjadi sesuatu sama mereka gimana?"
"Ya sudah, susul mereka gih! Nanti kalau sarapannya sudah matang, aku akan menelpon mu!"
Sam mendengus sebal, seharusnya ia tak mengkhawatirkan Naomi dan susternya. Kan pantai ini privat tak ada orang lain selain mereka.
Mau tak mau Sam memang harus mematuhi ucapan Elmer. Ia pun pergi dengan membawa segenggam kacang rebus di tangannya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Ela keluar lagi dari kamarnya dengan pakaian yang berbeda dengan yang semalam dan tadi ketika Elmer temui.
"Rupanya kau begitu mempersiapkan diri untuk ikut liburan bersamaku sampai-sampai bawa baju ganti segala. Aku benar-benar terkesan loh! Padahal tadinya aku ingin mengajakmu ke pusat perbelanjaan dan mentraktir mu pakaian hari ini."
"Tidak perlu, aku selalu membawa beberapa pakaian ganti di dalam mobilku. Karena selalu memiliki jadwal yang tidak terduga," balas Ela.
"Eum, begitu rupanya."
Elmer sangat kecewa dengan jawaban Ela itu. Padahal dia sudah sangat senang dengan anggapan itu. Tapi, lagi-lagi terpatahkan oleh ucapan Ela.
"Kemana yang lainnya?" tanya Ela.
"Sedang pergi ke pantai," jawab Elmer dengan santai.
"Kenapa kau tidak ikut?"
"Kalau aku ikut, nanti kau sendirian disini. Aku kan tidak mau itu terjadi. Kalau kau mau kesana lagi, aku akan temani."
"Sudah, tidak usah," jawab Ela yang kemudian duduk di depan Elmer.
Keduanya hanya diam tanpa mengatakan apapun. Elmer mendadak cosplay jadi patung. Ia menunggu Ela sendiri yang membuka pembicaraan.
"Ya?" jawab Elmer dengan melihat ke Ela.
"Soal semalam, bisa tidak kau lupakan saja, atau kalau tidak mau, jangan pernah bicarakan hal itu ke orang lain."
Ela benar-benar takut, Elmer memberitahukan tentang keresahannya ke Sam atau siapapun yang Elmer kenali.
"Tenang saja. Aku bukan orang yang bermulut lemes. Aku akan menyimpan rahasia itu untuk diriku sendiri. Karena dengan begitu aku merasa diriku spesial di matamu. Karena kau hanya menceritakannya padaku," jawab Elmer diakhiri dengan senyuman manisnya.
"Terima kasih," jawab Ela lalu berdiri dari duduknya.
"Mau kemana?" tanya Elmer.
"Ke depan," jawab Ela.
"Ikut!" pinta Elmer yang kemudian langsung berdiri dan berjalan mengekor di belakang Ela seperti anak ayam yang mengikuti induknya.
*
*
__ADS_1
Waktu telah menunjukkan pukul 3 sore. Mereka semua bersiap-siap untuk pulang. Sam akan pulang dengan membawa Naomi dan susternya sementara Elmer akan pulang bersama dengan Ela.
Pembagian seperti itu saja, banyak sekali debatnya. Tentu saja, awalnya Ela tidak mau karena ia datang sendiri jadi pulang pun ingin sendiri. Tapi, tiba-tiba Elmer mau pulang bersamanya dengan alasan pasti Ela akan butuh bantuannya supaya bisa gantian menyetir. Padahal itu hanya alibinya saja, yang sebenarnya ia inginkan adalah berduaan dengan wanita yang ia cintai.
Walau awalnya menolak, ada akhirnya Ela menurut saja karena malas berdebat dengan Elmer.
Di perjalanan, Elmer selalu melirik ke arah Ela ketika sedang menyetir. Ia tak bisa mendiamkan matanya untuk tidak melihat ke arah Ela yang begitu mempesona.
"Nyetir yang bener! Kalau kita kecelakaan gimana?" ucap Ela.
"Iya, iya, udah bener kok. Cuma kan namanya juga mata. Kalau liat sesuatu yang indah pasti pengennya nengok terus, hehe."
Ela geleng-geleng kepala. Ia kemudian melihat ke arah samping dari kaca mobilnya. Di sepanjang jalan yang dilewati masih banyak sekali pepohonan yang rimbun. Bahkan tak terlihat satu pun pemukiman disana. Paling adanya cuma seperti pos tempat jaga untuk masuk ke dalam tempat wisata.
Kalau diingat-ingat lagi, ini pertama kalinya Ela pergi ke pantai setelah terkahir kali jaman dia SMA. Tak terlalu buruk juga, ia ikut dengan Elmer. Kalau saja Reynard tidak sakit, mungkin liburannya akan semakin menyenangkan. Karena ponakannya itu sangat menyukai pantai.
"Kau tidak menyesalkan liburan bersamaku dan yang lainnya?"
"Awalnya aku kira akan menyesal, tapi ternyata tidak. Terima kasih," ucap Ela.
Elmer tersenyum senang.
"Kalau suatu saat aku ajak lagi, mau?"
"Tidak ada namanya suatu saat Elmer. Karena ini yang terkakhir."
Bibir Elmer langsung mengkerut. Ia tak suka dengan jawaban yang dilontarkan oleh Ela. Benar-benar tidak suka.
"Kau benar-benar mematahkan kebahagian orang El. Seharusnya kamu iyakan saja ucapanku. Sampai kapan kau akan terus bersikap begini? Padahal kalau dipikir-pikir lagi, kita malah bertambah lebih dekat sekarang. Apalagi, kita mengetahui rahasia masing-masing. Seharusnya kau bersikap baik supaya aku tak membocorkannya."
"Jadi, kau berniat membocorkannya?" tanya Ela dengan tatapan tajamnya.
"Ah, tidak, tidak. Kan itu cuma takutnya aku tak sengaja mengungkapnya. Kenapa serius sekali sih!"
Ela tak menanggapi lagi. Ia hanya fokus melihat ke jalanan dan mengabaikan apapun yang dikatakan oleh Elmer setelahnya.
*
*
TBC
__ADS_1