
Tuan Sebastian segera pergi ke kantornya daripada di rumah hanya akan membuat tekanan darahnya meningkat. Pria paruh baya itu sudah tidak sanggup lagi jika harus hidup dengan menantu yang tak diinginkannya. Padahal ia berharap Bella bisa memperlakukan Naomi dengan baik agar bisa tumbuh dengan kasih sayang mamanya. Tapi ada kenyataannya, hal tersebut tak pernah terjadi.
Sesampainya di kantor, Tuan Sebastian disapa dan disenyumi oleh para karyawannya. Di lift, tanpa sengaja ia bertemu dengan Hito. Karena mendapat bantuan dari Hito tentang pembuatan seragam itu, Hito pun mulai dikenalkan ke Tuan Sebastian oleh Elmer dan ternyata keduanya sudah saling bertemu sebelumnya.
"Selamat siang Tuan Sebastian," ucapnya sambil tersenyum ramah.
"Siang, kau mau bertemu ponakanku ya?"
Hito mengangguk pelan.
"Kami ada kerjasama."
"Semoga lancar ya."
Hito mengangguk lagi.
*
*
Bug!
Bug!
Bug!
Elmer dan Ergo sedang akting bertengkar di sebuah ruangan terbengkalai. Keduanya saling memukul satu sama lainnya.
"Cut!"
Adegan selesai. Adegan pertengkaran tadi sebenarnya tak mengenai tubuh mereka masing-masing. Tapi sepertinya Ergo benar-benar ingin memukul Elmer.
"Andai saja, adegannya sungguhan berantem. Aku akan sangat senang sekali."
Tapi ucapan itu tak digubris sama sekali oleh Elmer. Ia hanya berjalan melewati Ergo dan mengambil air minum yang ada di meja lalu duduk di tempat duduk yang kosong.
"Angkuh sekali dia! Mentang-mentang tenar! Lihat saja, aku akan menjadi lebih terkenal darimu!"
Ergo pergi juga menuju ke managernya untuk beristirahat sejenak sebelum melakukan syuting lagi.
"Elmer, kau tidak lihat tatapan mata Ergo seperti ingin memakan mu hidup-hidup? Ngeri sekali!"
"Dari dulu dia memang begitu. Biarkan saja. Ngapain repot-repot mikirin orang yang tidak suka sama kita. Nggak penting!" ucap Elmer kemudian meneguk minumannya.
"Ngomong-ngomong selesai syuting ini, aku tidak ada jadwal lagi kan?" tanya Elmer memastikan.
__ADS_1
"Iya, kenapa? Kau ingin pergi ke tempat Ela?"
Sam sudah sangat hapal dengan kelakuan Elmer. Elmer sampai mendengus sebal.
"Mau aku antar sekalian?"
"Tentu saja. Kalau bisa setelah itu kau pulang naik taksi saja."
Kini Sam lah yang mendengus sebal. Ia benar-benar selalu dibuat menderita oleh Elmer jika Elmer bahagia.
"Tidak, aku akan menunggumu disana."
Sam tidak ingin pergi naik taksi. Toh, ia juga bisa mencari perhatian ke Alin kalau ada disana bersama dengan Elmer. Memangnya hanya Elmer saja yang punya gebetan? Dia juga.
*
*
Saking seringnya Elmer mengunjungi butiknya, Ela jadi semakin terbiasa dengan kedatangan laki-laki itu secara tiba-tiba. Sikap Ela pun jadi sedikit berbeda karena memang sudah terbiasa. Meski sepertinya senyuman masih agak sulit Ela perlihatkan.
"Kau memang sepertinya tidak bosan ya mengunjungi ku hampir setiap hari?"
"Tidak ada kata bosan untuk memperjuangkan cinta. Aku akan berusaha terus membuatmu jatuh cinta padaku Ela."
Ela menarik napasnya pelan. Lalu menatap ke arah Elmer.
Mendengar perkataan Ela itu, Elmer sungguh tidak percaya sampai terus menepuk-nepuk pipinya saking takutnya ia salah mendengar atau hanya imajinasinya semata.
"Ela? Apa kau yakin dengan ucapanmu itu? Kau tidak sedang nge-prank aku kan?"
"Oh, jadi kau mengganggap seperti itu. Ya sudah, anggap saja aku tidak bicara apapun tadi."
"Eh, jangan lah. Jadi tadi beneran ya?"
"Menurutmu?"
Elmer langsung tersenyum lalu memeluk Ela tanpa permisi. Ia benar-benar sangat senang Ela mau mencoba membuka hatinya. Ia benar-benar tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Kesempatan yang sangat langka.
"Berarti itu artinya kita jadian?" tanya Elmer ingin tahu apa hubungan mereka setelah melepaskan pelukannya.
Ela menggeleng pelan.
"Loh, kok nggak?" tanya Elmer yang heran.
"Aku kan cuma bilang mau buka hati. Intinya kau hanya jadi orang terdekatku saja."
__ADS_1
Elmer sempat mengerucutkan bibirnya. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, tak ada ruginya juga. Ya sudahlah, Elmer menurut saja.
"Ngomong-ngomong kau sudah berdamai dengan masa lalumu itu?" tanya Elmer.
Ela mengangguk. Ia pun menjelaskan apa saja yang ia lakukan untuk menyadarkan dirinya kalau dia memang tidak bersalah. Ia juga mengutarakan apa yang dirasakannya untuk Valdi dulu di depan makam laki-laki itu.
Elmer turut senang ketika mendengarnya. Satu beban berat yang timpa Ela sudah lebih ringan. Kini tinggal dirinya yang berjuang supaya tak lagi mual dan muntah karena sentuhan wanita.
"Aku akan membantu mu supaya bisa hidup dengan normal. Kau harus berusaha melepaskan belenggu yang sudah tertanam di dalam dirimu. Meski susah, kau harus mencobanya," ucap Ela ke Elmer supaya laki-laki itu pun bisa lepas dari masa lalu.
Elmer tersenyum tipis. Ia hanya berdoa semoga dengan hadirnya Ela yang selalu ada di sisinya, ia bisa benar-benar bisa melepaskan masa lalunya.
"Kalau begitu, kau harus bekerja keras untuk membantuku Ela. Berikan aku cintamu meski secara perlahan, dan berproses. Aku akan menunggunya."
Ela tersenyum meski dia sendiri tidak tahu kenapa ia sampai tersenyum. Apakah karena ia senang karena Elmer masih bersedia menunggu balasan cinta darinya, atau karena hal lain. Rasanya masih begitu ambigu.
*
*
Beberapa hari setelahnya, Ela ikut ke tempat syuting Elmer karena laki-laki itu meminta ditemani. Awalnya Ela memang menolak karena takut digosipkan dengan Elmer. Tapi agar semuanya terlihat natural, Elmer lah yang merekomendasikan brand pakaian milik Ela untuk jadi partner sponsor proyek drama yang sedang Elmer bintangi. Hal tersebutlah yang membuat Ela mau datang.
Elmer tersenyum begitu manis ke Ela ketika sudah selesai syutingnya. Setidaknya Ela mau menuruti keinginannya.
Namun di saat Elmer akan berjalan mendekat ke Ela. Tiba-tiba Ergo mendekat ke Ela dan ada di hadapan Ela.
"Hai cantik? Siapa namamu? Sepertinya aku baru melihat mu? Kau pemain baru di drama ini ya? Jadi siapa?"
Ergo memberikan Ela banyak sekali pertanyaan yang membuat Ela merasa jengah dan ingin melengos pergi. Tapi tangan Ergo malah menahannya.
"Hei! Kenapa tidak jawab? Sombong sekali. Tapi aku malah jadi tambah suka," ucap Ergo lagi.
"Dengar ya laki-laki, aku tidak mengenalmu, jadi jangan jadi sok akrab di hadapanku!" ucap Ela ke Ergo.
Ergo malah tersenyum meskipun Ela benar-benar pergi dari hadapannya. Rasanya ia baru kali ini ditolak dan diabaikan oleh wanita. Benar-benar wanita yang menarik dan mengagumkan.
Elmer datang dan menatap Ergo dengan tatapan tidak suka.
"Jangan ganggu dia! Kalau kau Bernai mengganggunya aku tidak akan tinggal diam!" ancam Elmer yang lalu pergi juga menyusul Ela.
"Wow! Luar biasa! Siapa sebenarnya wanta tadi. Sepertinya Elmer kenal dengan dia. Jadi semakin menarik!"
Ergo tersenyum miring.
*
__ADS_1
*
TBC