
Setelah Ela pergi dari restoran itu, Elmer pun ikut pergi juga. Kali ini ia tidak berniat untuk mengikuti Ela lagi karena suasana hatinya sudah buruk. Ingin memarahi Ela pun, memangnya ia siapa? Pacar saja bukan? Mereka hanya partner kerja.
Di sepanjang perjalanan, wajah Elmer terus cemberut dan merengut. Ia bahkan tak memperdulikan ponselnya yang sejak tadi berdering entah telepon dari siapa.
Sam yang menyetir pun jadi gemas sendiri.
"El, setidaknya angkat itu telponnya. Berisik tahu!" marah Sam.
"Kau saja yang angkat. Aku malas!" jawab Elmer dengan mudahnya.
"Heh! B*go! Kalau kau duduk di samping kemudi sudah aku angkat dari tadi. Tapi kau kan duduk di belakang kemudi, sialan! Haduh!"
Elmer pun memberikan ponselnya dengan wajah tanpa ekspresi. Sam langsung mengangkatnya dan mengeraskan speaker nya.
"Lama ngangkatnya! Darimana saja kau Elmer?"
Ya, yang bicara di dalam telepon itu adalah Tuan Sebastian.
"Ayah kepoan banget jadi orang," ucapnya.
"Haish! Ya lagian, pesan ayah satu pun tidak ada yang kau balas. Ayah telepon dari tadi juga baru sekarang kau angkat."
"Aku masih di jalan ayah," jawab Elmer.
"Maaf ya om, kita memang masih di jalan. Ini baru selesai makan, dan masih ada 20 menitan lagi baru sampai ke apartemen."
"Huh! Tahu gitu, ayah tidak akan kesini. Sudah capek-capek nunggu. Eh, kalian masih jauh."
"Maaf ya om."
"Haah, baiklah, kalau gitu om akan pulang. Pokonya besok kita harus bertemu Elmer. Kalau bisa, kau harus datang ke rumah. Ayah tidak mau tahu."
"Aku tidak janji," jawab Elmer.
"Ayah tidak butuh janji, cuma butuh bertemu. Ya sudah, lanjutkan saja perjalanan kalian. Sudah dulu, bye."
Setelah sambungan telepon berhenti, Elmer menghela napasnya. Ia jadi menggerutu karena ayahnya yang kadang suka seenaknya.
"Ayah ini menyebalkan sekali. Sudah tahu anaknya tidak mau datang ke rumahnya. Kenapa suka sekali memaksa? Huh!"
"Mungkin, maksud om Sebastian itu baik El. Dia hanya ingin kau melepaskan masa lalu mu yang membelenggu itu."
"Memang kata siapa membelenggu? Cih, kata-katamu itu, menyebalkan Sam!"
Kan jadi serba salah jadi aku disini. Kalau tidak membelenggu terus namanya apa dong? Sudah bertahun-tahun tapi kau seperti terjebak dalam masa lalu itu.
__ADS_1
"Ya, ya, ya, sepertinya aku salah ucap."
"Memang!"
Waktu berlalu, mereka berdua pun sudah sampai di apartemen Elmer dan duduk di sofa ruang tamu. Elmer menyandarkan kepala ke ujung sofa.
"Sam, kalau aku tiba-tiba hengkang dari dunia hiburan, kira-kira gimana ya?" tanya Elmer tiba-tiba.
"Kau tidak benar-benar menanyakan itu padaku kan, El? Karena aku sangat tidak yakin. Aku tahu bagaimana perjuanganmu dulu dari yang awalnya casting dari satu tempat ke tempat yang lain hingga akhirnya kau selalu ditawari drama tanpa casting."
"Ya aku tahu sih, tapi kenapa akhir-akhir ini aku syuting pun tidak ada semangatnya," curhat Elmer.
Sam tahu alasan Elmer tidak semangat syuting karena tidak ada Ela seperti sebelumnya.
"Sepertinya, rasa cintamu memang sudah tidak bisa lagi untuk terus dipendam El. Kalau begini jadinya, lebih baik kau nyatakan saja langsung," usul Sam.
"Masalahnya, tidak semudah itu," jawab Elmer.
"Ya, benar juga sih. Ela bukan wanita pada umumnya. Dia berbeda."
"Karena dia berbeda, makanya aku suka dia."
Dulu saja kau gengsi mengakuinya. Giliran dipancing dikit aja, sekarang kau langsung jujur, sejujur-jujurnya. Dasar Elmer!
"Telepon dia! Jangan cuma di chat doang!" perintah Sam.
Elmer tidak melakukan apa yang diucapkan Sam. Ia malah memutar-mutar ponselnya seperti mainan.
Sam hanya bisa geleng-geleng kepalanya. Daripada pusing memikirkan kelakuan Elmer. Ia yang waras memilih untuk pergi saja dari sana.
Setelah ditinggal sendirian oleh Sam, Elmer menatap nomor kontak Ela. Ia bimbang antara mau telepon atau tidak. Saking bimbingannya, ia sampai tidak sadar kalau ia malah menekan nomor Ela hingga terdengar suara Ela di seberang sana.
"Halo, ada apa menelpon?" tanya Ela.
Elmer terkejut.
Oh, Tuhan, kenapa tangan ini jadi gatal begini?
"Aku salah pencet tadi."
Jawaban itulah yang Elmer pilih.
"Oh, begitu, ya sudah aku tutup ya."
"Eh, jangan!" tolak Elmer yang tidak ingin teleponnya selesai begitu saja.
__ADS_1
"Memangnya kau mau bicara apa?" tanya Ela lagi.
"Sepertinya kau tadi akrab sekali dengan laki-laki sampai bisa tertawa begitu lebar," ucap Elmer yang tanpa sadar malah membahas kehadiran Ela yang ia ikuti.
"Kau mengikuti ku?"
"Eh ... "
Elmer jadi kaget sendiri dengan pertanyaan Elmer.
Sialan! Kenapa aku jadi bahas yang tadi sih? Kan jadi ketahuan begini jadinya.
"Tidak kok, siapa bilang!"
"Kalau kau tidak mengikuti ku. Mana mungkin kau tahu aku tadi habis bertemu laki-laki. Ngaku saja!"
"Nggak sengaja lihat. Tadi aku juga makan di tempat yang sama denganmu selesai syuting," jawab Elmer.
"Oh, kukira kau benar mengikuti ku."
"Dih, geer sekali."
"Hanya menebak saja."
"Ya, ya, ya."
"Sudah ya, aku mau pergi lagi."
"Kemana?" tanya Elmer yang penasaran.
"Dih, kepo!"
Elmer mendengus sebal mendengarnya. Rupanya tidak enak ya, dibilang kepo seperti itu. Padahal ia juga sering mengatakan hal itu pada ayahnya, karena selalu ingin tahu tentang dirinya.
Sambungan telepon pun berhenti. Elmer hanya bisa terus berdiam diri di sofa tanpa ada niat untuk beranjak dari sana. Bahkan rasa haus pun tak mampu membuatnya untuk berpindah tempat.
"Argh! Bisa gila aku! Ela kau mau pergi kemana sebenarnya? Jangan-jangan dia mau pergi ketemu laki-laki lain lagi? Argh! Sial!"
Elmer mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia benar-benar penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Ela.
*
*
TBC
__ADS_1