
Setelah projek drama selesai, Elmer tak bisa bertemu dengan Ela seperti biasanya. Kini ia tak punya alasan lagi untuk bertemu dengan Ela di luar pekerjaan.
Hal itu, sedikit membuat suasana hati Elmer memburuk. Bahkan terkadang laki-laki itu ingin kabur dari lokasi syuting drama terbarunya untuk menemui Ela. Ia bahkan selalu berpikir, kenapa Ela tidak mensponsori drama yang ia mainkan? Kan dengan begitu, ia bisa melihat Ela tiap harinya seperti di drama sebelumnya.
Sayangnya, itu semua hanya pikiran Elmer saja. Seusai syuting drama terbarunya, Elmer duduk di ruang tunggu untuk beristirahat. Ia mensejajarkan kakinya di atas sofa dan kepalanya bersandar di ujung sofa. Tangannya mulai bersidekap di depan dada.
"Menyebalkan sekali! Sudah dua bulan aku tidak bertemu dengannya. Bahkan selama itu juga dia tidak pernah memberikan pesan duluan padaku. Huh! Apa memang pesonaku kurang di mata Ela? Bahkan aku hampir uring-uringan tiap harinya. Mau ke butik Ela tiap hari, tapi itu tidak mungkin. Yang ada nantinya hanya akan muncul berita baru lagi di media sosial. Huh! Begini amat jadi aktor."
Gerutuan Elmer pun didengar langsung oleh Sam karena laki-laki itu duduk di sofa satunya.
"Sam, apa aktor tidak boleh berpacaran? Tidak boleh dekat dengan wanita?" tanya Elmer pada laki-laki itu.
"Sebenarnya sih boleh-boleh saja. Cuma kan harus siap mental aja gitu. Tapi, demi kebaikan bersama memang sebaiknya jadi jomblo dulu. Apalagi fans mu kan banyak sekali. Kau kan sudah tahu se-anarkis apa fans mu itu El. Yang kemarin saja sampai lempar tepung ke Ela. Ya meski Ela bisa menghadapinya. Tapi kalau tiap hari seperti itu, apa dia akan kuat? Kalau aku sih tidak. Lebih baik putus saja."
Mendengar jawaban dari Sam, membuat wajah Elmer merengut. Yang ia dengar jawaban bagus, eh, malah yang keluar dari mulut Sam jawaban yang tidak ia inginkan. Jadi semakin kesal saja Elmer dibuatnya.
"Ngomong-ngomong fotoshoot dengan brand fashion Ela akan diadakan kapan lagi?" tanya Elmer pada Sam.
"Belum ada jadwal. Cuma aku udah dengar simpang siurnya dari Ansel. Katanya Ela bakalan ngadain acara besar-besaran untuk launching beberapa merk fashion terbarunya dalam dua bulan ke depan. Itu sih hanya simpang siurnya, aku belum tahu benar atau tidaknya. Kau kan tahu sendiri, Ansel mulutnya emang lemes."
Elmer merengut lagi. Padahal acara itu bisa Elmer jadikan alasan untuk terus bertemu dengan Ela. Pastinya dia akan jadi model utama di launching merk fashion terbaru Ela. Ya, karena Elmer sudah dikontrak selama setahun di brand fashion milik Ela.
"Pulang saja yuk! Aku bosan disini. Syuting pun sudah tidak ada lagi kan?" tanya Elmer memastikan ke Sam.
"Em, sepertinya memang jadwal mu sudah selesai. Ayo aku antar duluan ke mobil baru setelahnya aku berpamitan pada yang lain."
Setelah mengantar Elmer ke dalam mobil dan Sam berpamitan pada kru dan staff yang lain. Keduanya pun pergi dari lokasi syuting.
Di perjalanan, Elmer fokus melihat ponselnya. Padahal ia sudah memberi pesan pada Ela. Namun, pesannya tak kunjung dibalas juga. Saking tidak sabarnya, Elmer sampai memelototi ponselnya hingga membuat Sam geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Tingkah Elmer yang sedang jatuh cinta ini terkesan sangat absurd di matanya. Bedanya, dulu Elmer belum seterkenal sekarang jadi mau pergi kemana pun ia masih belum dikenali. Paling dikenali hanya oleh segelintir orang saja. Kalau sekarang, ketahuan jalan sama cewe saja sudah jadi gosip. Beli jajan di warung saja sudah jadi berita. Pokonya apapun yang Elmer lakukan seperti selalu dipantau 24 jam oleh para paparazi. Agak sedikit menyebalkan memang. Tapi, ya, beginilah resiko berada di dunia hiburan.
Mobil berhenti ketika berada di lampu merah. Elmer melihat ke mobil yang berada di samping kiri mobilnya. Ketika kaca mobil itu terbuka setengahnya, ia bisa melihat Ela ada disana.
Rasa rindu Elmer pada Ela seketika jadi sedikit terobati dengan melihat wajah cantik dari pujaan hatinya. Meski ia tak mungkin bisa menyapa, tapi ia senang karena bisa melihat wajah itu lagi setelah lama tidak pernah berjumpa.
"Sam, ikuti mobil di sebelah kita."
Sam yang mendengar itu, kebingungan dibuatnya.
"Untuk apa? Bukannya kau yang tadi merengek minta pulang karena bosan?"
"Sudah turuti aku saja. Jangan banyak tanya!"
Sam pun hanya bisa menurut saja.
Lampu lalu lintas sudah menyala hijau, Sam pun menjalankan mobilnya mengikuti mobil yang ada di sebelahnya. Hampir setengah jam mengikuti mobil itu, akhirnya mobil itu pun berhenti di sebuah restoran mewah. Si pengemudi keluar dari mobil. Di saat itulah Sam tahu kenapa Elmer menyuruhnya untuk mengikuti mobil itu.
Elmer sudah memang pegangan pintu mobil dan hendak keluar. Tapi, Sam mencegatnya.
"Eh, mau ngapain?"
"Keluarlah, lumayan bisa makan dulu sebelum pulang."
"Heleh! Bilang aja penasaran kenapa Ela ke restoran ini. Iya kan? Ngaku?"
Elmer tak menjawabnya. Tapi, Sam tahu apa yang ada di pikiran Elmer.
Keduanya pun turun dari mobil dan memasuki restoran. Elmer mengedarkan pandangannya ke segala penjuru restoran. Mata elangnya, kini sudah menemukan apa yang ia cari. Elmer pun mencari tempat duduk yang tidak jauh dari tempat Ela duduk. Ia menyembunyikan wajahnya dengan daftar menu makanan yang ada disana.
__ADS_1
Sam geleng-geleng kepala sambil membetulkan daftar menu yang dipegang terbalik oleh Elmer.
"Penasaran boleh, tapi jangan b*go juga."
"Sttt! Diam! Itu orang yang mau ketemu Ela sudah datang," pinta Elmer untuk diam ke Sam.
"Hih! Kenapa harus laki-laki sih? Bikin kesal saja."
"Mas, mau pesan apa?" tanya seorang pelayan yang tiba-tiba mendatangi meja keduanya.
"Jangan banyak tanya!" ucap Elmer dengan masih menutup wajahnya menggunakan daftar menu.
Sam jadi mengambil alih untuk memesan makanan. Ia tidak ingin pelayan di depannya saat ini menyebarkan gosip yang tidak baik karena Elmer tidak bersikap ramah kepada pelayan restoran.
"Kau ini, jangan jutek-jutek ke orang. Jaga image dong!"
"Ah, berisik! Aku jadi tidak bisa mendengar apa yang mereka berdua katakan!" kesal Elmer.
Elmer langsung pindah tempat duduknya jadi yang lebih dekat.
Samar-samar ia mendengar laki-laki itu memuji kecantikan dan gaya berpakaian Ela yang sangat modis dan kekinian. Padahal dilihat dari usia, Ela sudah kepala tiga.
"Cih, dasar buaya! Mulutnya lemes sekali. Rasanya aku ingin memotong mulut itu supaya tidak memuji Ela sembarangan!"
Tapi, ia juga kesal, karena Ela terlihat menikmati pertemuannya dengan lelaki itu. Bahkan Ela mudah sekali tertawa dan tersenyum. Beda sekali ketika bersamanya yang wajahnya kebanyakan ditekuk dan cuek bebek.
Kalau saja bunuh orang itu tidak masuk penjara. Aku ingin membunuhnya. Sial! Kenapa Ela kelihatan dekat dengan laki-laki itu?!
*
__ADS_1
*
TBC