Cinta Sang Aktor

Cinta Sang Aktor
Bab 53 - Perjuangan yang sulit


__ADS_3

"Cepat pulang sana!" usir Richard ke Elmer.


"Please Om. Cuma sebentar kok nggak lama. Paling cuma dua jam aja," bujuk Elmer ke Richard supaya mengizinkannya.


"Nggak, nggak ada."


Karena tak mendapatkan izin dari Richard, Elmer pun berjalan pergi, tapi ia selalu melihat ke belakang, siapa tahu Richard berubah pikiran. Namun apa yang terjadi sungguh membuatnya sedih.


Pintu rumah Ela sudah tertutup dengan rapat.


"Perjuanganku kayanya bakalan susah. Sudah susah mendapatkan hati anaknya, ditambah menaklukkan hati bapaknya juga susah. Nasib, nasib!"


Elmer masuk ke dalam mobilnya lalu pergi dari halaman rumah Ela. Tanpa Elmer ketahui, Ela melihat kedatangan Elmer itu dan kepergiannya, meskipun ia tidak bisa mendengar apapun yang dibicarakan Elmer dengan papanya.


Tapi walau begitu, Ela sangat mengapresiasi keberanian Elmer untuk datang sendirian ke rumahnya. Apalagi, tidak mati kutu menghadapi papanya. Ela menutup tirai jendela kamarnya lalu melihat ponselnya.


Terdapat beberapa pesan dari Elmer.


[Ternyata begini rencana mu untuk menolak ajakanku. Kau pasti sudah bisa memprediksinya kalau papamu Asti tidak akan mengizinkan. Pantesan saja, kau terlihat santai saja. Lihat saja, suatu saat nanti, aku akan bisa menaklukan hati papamu!]


Ela yang membaca pesan tersebut sedikit tertawa. Elmer cukup bisa menarik perhatiannya dengan segala tingkah lakunya.


Tak lama kemudian, Ela dipanggil oleh Richard untuk bicara. Ela pun keluar dari kamarnya dan duduk berhadapan dengan papanya di ruang keluarga.


"Ada apa Pa?" tanya nya seolah tidak tahu apa-apa.


"Si aktor datang kesini mau mengajakmu jalan. Tapi papa sudah mengusirnya. Masa iya, dia mau bawa anak kesayangan papa jalan ke tempat sepi. Tidak bisa! Nanti kalau dia macam-macam denganmu kan bahaya."


Ela tersenyum senang, tebakannya benar. Tapi ia agak kaget juga karena papanya menceritakan hal tersebut.


"Dia memang mengajak aku jalan Pa. Tapi aku sengaja memintanya untuk datang ke rumah untuk minta izin langsung daripada. Rupanya dia benar-benar datang. Tapi, untunglah papa menolak dan mengusirnya. Karena aku pun lagi malas keluar."


Richard mengangguk.


"Papa memang ingin melihatmu punya pasangan lalu menikah. Tapi, papa juga ingin hidupmu bahagia. Pokoknya jangan sampai kau terjerat pesona si aktor itu. Papa tidak ingin kau jadi pusat perhatian."


"Iya Pa. Lagipula aku juga tidak menyukainya."


"Baguslah. Ya sudah sekarang balik lagi ke kamar dan lanjutkan aktivitasmu."

__ADS_1


Ela pun menuruti perintah papanya. Setibanya di dalam kamar, ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari Elmer.


"Astaga! Dia ini kenapa sih hobinya gangguin orang mulu?"


Di saat ingin mematikan ponselnya, Elmer lagi-lagi menelpon.


"Ih, kebiasaan banget deh. Kenapa pesanku belum dibalas?" tanya Elmer dengan kesal.


"Apa sih? Begitu aja kesal. Katanya suka tantangan?" ucap Ela sambil mengejek.


"Sabar, sabar," ucap Elmer sambil mengelus dadanya.


"Udah ya, aku matikan teleponnya. Aku mau fokus sama desainku dulu."


Panggilan telepon langsung dimatikan secara sepihak oleh Ela.


*


*


Elmer yang sengaja memberhentikan mobilnya di tengah jalan pun langsung mendengus kesal. Ia melajukan mobilnya lagi hingga sampai di apartemennya. Padahal ia sudah capek-capek berdandan rapih, berharap akan diizinkan jalan bersama Ela. Ternyata hasilnya malah zonk seperti ini.


"Perasaan dulu aku mendapatkan si Bella nggak susah-susah amat. Giliran udah nemu wanita yang tak membuat aku mual dan aku bisa bebas menyentuhnya, malah susah dapatinnya. Sepertinya ketampanan ini tidak mempan untuknya."


Tangan Elmer mulai meraih ponselnya yang ada di saku bajunya. Ia hendak mencari tutorial menaklukan hati wanita cuek di internet, tapi keburu ada telepon dari Tuan Sebastian.


"El, besok bisa ke kantor? Ayah butuh bantuan kamu."


"Liat besok aja deh Yah. Aku takut ada jadwal kerja," jawab Elmer.


"Ayah udah tanya ke Sam tadi sebelum menghubungimu. Katanya besok kau cuma ada jadwal setelah jam makan siang, jadi paginya bisa kan ke kantor ayah?"


Dengan berat hati Elmer pun akhirnya menjawab iya. Karena bagaimana pun, ia tak bisa selamanya melakukan sesuatu yang disukainya.


"Papa tunggu besok di perusahaan."


"Hm."


*

__ADS_1


*


Lalu lintas sangat padat di pagi hari sekitar pukul 06.30 sampai 07.45. Bagaimana tidak, di waktu-waktu tersebut adalah waktunya anak-anak berangkat sekolah. Ditambah para karyawan perusahaan pun bekerja dikisaran jam segitu.


Elmer mengendarai mobilnya seorang diri, ia tidak ingin merepotkan Sam yang sudah hampir setiap hari ia mintai bantuan. Di sepanjang jalan, Elmer merasakan sensasi yang berbeda ketika ia harus berangkat ke suatu tempat tetapi bukan lokasi syuting melainkan perusahaan ayahnya sendiri.


Ketika sudah tiba di gedung perusahaan ayahnya pun, mata dari para karyawan selalu tertuju padanya. Bisik-bisik memuji ketampanan Elmer yang paripurna tanpa adanya kekurangan itu.


Elmer sudah ada di ruangan ayahnya. Ia duduk di sofa padahal belum dipersilahkan untuk duduk.


Tuan Sebastian langsung berpindah dari duduk di depan meja kerjanya ke sofa. Mereka berdua saling berhadapan dan Tuan Sebastian langsung memulai pembicaraan.


"Ayah tahu kau memang tidak menyukai dunia kerja ayah. Tapi, sekali ini aja, bantu ayah ya? Ayah mengalami sedikit kendala mengenai beberapa hal di perusahaan. Ayah sudah coba meminta bantuan dari beberapa perusahaab lain. Tapi ternyata mereka pun memiliki banyak kerjaan. Ayah yakin kau bisa menyelesaikan ini."


"Aku tidak tahu ayah. Ayah bahkan belum memberitahukan apa masalahnya. Tapi ayah sudah seyakin itu kalau aku bisa memecahkan masalah ayah."


Tuan Sebastian langsung menjelaskan inti permasalahannya. Ia mengalami kendala dalam pembuatan seragam untuk kliennya. Sementara, perusahaannya yang bergerak di bidang itu, kini mengalami kendala karena banyak pekerja yang tiba-tiba sakit secara bersamaan. Padahal masih tersisa 100 seragam lagi yang belum dibuat dengan tenggat waktu 4 lagi.


"Kau bisa bantu ayah kan?"


Tanpa pikir panjang, Elmer langsung setuju. Nama yang dipikirkannya untuk membantunya adalah Ela. Wanita itu pasti punya banyak kenalan seorang penjahit. Atau mungkin saja punya banyak karyawan tersembunyi di balik butiknya.


"Empat hari harus selesai kan Yah? Supaya cepat 50 seragam di perusahaan ayah, 50 seragamnya lagi aku akan cari bantuan dari kenalanku. Yang penting ayah berikan gambar designnya bahan apa yang digunakan. Lalu semuanya akan beres sesuai tenggat waktunya."


"Syukurlah, tunggu disini sebentar."


Elmer mengangguk.


Tuan Sebastian keluar dari ruangannya. Lalu beberapa menit setelahnya, ia masuk lagi sambil membawa map plastik berisi desain pakaian.


"Untuk bahannya, nanti akan karyawan ayan kirimkan kalau sudah mendapatkan alamat kenalan mu yang bisa membantu."


"Oke baiklah, apa ada sesuatu yang lain lagi Yah?" tanya Elmer sebelum ia akan pergi dari sana.


Tuan Sebastian menggeleng. Elmer pun langsung pergi dari sana untuk pergi menuju tempat kenalannya. Ia akan berusaha sebisa mungkin untuk membujuk kenalannya itu.


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2