
Di kediaman Kavindra sangatlah ramai. Anak, menantu dan cucu dari Richard berkumpul semua disana. Mereka melakukan makan malam dengan penuh canda dan tawa. Selesai itu, mereka berpisah ke berbagai tempat. Naya, istri Elnan dan cucunya berada di ruang keluarga untuk menonton serial kartun. Richard dan Elnan berada di ruang tamu. Sementara Aura, Rendra dan Ela ada di dekat kolam sambil menikmati udara di malam itu.
Rendra memulai obrolan dengan Elmer sebagai topiknya. Ia sudah mendengar dari mamanya yang mengatakan kalau Elmer menyukai kembarannya. Sementara dari papanya sendiri, Rendra mendengar ketidaksetujuan pria yang sudah berumur itu.
"Coba kau ceritakan seperti apa hubunganmu yang sebenarnya dengan si aktor itu? Aku tidak ingin kau salah memilih pasangan. Aku ingin kau bahagia. Apa kau menyukainya?"
Ela terdiam karena memang tidak tahu apakah ia suka atau tidak ke Elmer. Jadinya ia cuma bisa menggeleng saja sembari menjawab pertanyaan Rendra.
"Sampai saat ini aku dan dia hanya partner kerja. Dia memang sudah berulang kali mengatakan kalau dia menyukaiku. Tapi aku pun sudah menolaknya berulang kali."
Rendra memperhatikan gestur wajah Ela, melihat apakah ada kebohongan disana atau tidak. Membuat Ela jadi merasa diintimidasi dan tidak nyaman.
Sebuah pukulan kecil mendarat di lengan Rendra dari Aura.
"Jangan melihatnya seperti itu. Biarkan saja Ela mengurus sendiri hubungannya. Jangan terlalu mencemaskannya," ucap Aura.
"Tetap saja, aku sedikit terganggu dengan keberadaan aktor itu. Semenjak dia dekat dengan Ela. Hidup Ela seperti berbeda. Kau pun tahu itu sayang."
Ela yang masih ada disana hanya diam. Inilah kenapa dia tidak menceritakan kenangan buruknya ke keluarganya karena mereka pasti akan sangat khawatir padanya. Apalagi keluarganya didominasi oleh jenis kelamin laki-laki yang pastinya tidak akan tinggal diam ketika anggota keluarganya tersakiti. Ela hanya ingin jadi dirinya sendiri dengan memendam rasa sakit itu. Namun, ternyata memendam pun bukan cara yang efektif. Untungnya, ia sudah mulai berdamai dan melepaskan semuanya. Ia sudah mengunjungi makam Valdi beberapa hari yang lalu.
Disana Ela menangis sambil menaburkan bunga di makam Valdi.
__ADS_1
"Maafkan aku Val. Maafkan aku yang tidak bisa menerima cintamu. Maafkan aku, karena aku, kau harus meninggal begitu cepat. Tolong ampuni aku Val. Aku merasa bersalah karena itu. Yang tenang disana ya."
Ela menghela napasnya setelah mengingat hari itu. Ia hendak pergi dari dekat kolam tapi tangan Rendra menahannya.
"Kau tahu kan? Meski aku tidak tahu apa masalahmu dan apa yang kau pikirkan. Aku bisa merasakannya Ela. Tolong jangan sembunyikan apapun dariku. Kalau kau memang mencintainya. Aku akan bantu untuk membujuk papa untuk menerimanya."
Ela melepas tangan Elmer tanpa berkata apapun.
"Kau lihat kan? Dia selalu saja seperti itu. Dia Tidak tahu apa kalau aku itu khawatir padanya? Kenapa sih wanita suka sekali membuat pria berpikir keras tentang apa yang sedang mereka rasakan? Kita kaum pria bukan cenayang yang bisa menebak dengan benar. Huh!"
Aura mengerti apa yang dirasakan oleh Rendra. Untungnya, Aura bukan tipe orang suka memberikan teka-teki. Jadi, Rendra tak pernah pusing dengan kelakuan Aura.
"Huh! Sayangnya iya. Semakin dipaksa bercerita dan melakukan apapun yang tidak disukainya. Dia akan semakin sulit untuk bercerita dan semakin menentang. Aku benar-benar tidak suka dengan sikapnya yang seperti itu."
Aura mengelus punggung Rendra pelan. Meskipun ia tahu semua tentang Ela. Tapi melihat bagaimana ekspresi Ela tadi, tak mungkin ia menceritakan itu semua ke Rendra. Ia akan menyembunyikannya dulu.
*
*
"Bella! Kau dimana Bella!" teriak Tuan Sebastian dengan suara yang sangat lantang.
__ADS_1
"Ada apa sih Pa? Berisik banget pagi-pagi!" kesal Bella yang keluar dari kamarnya.
"Kau ini ibu macam apa hah?" Tuan Sebastian terlihat sangat marah kepada menantunya itu.
"Apa sih?"
Tuan Sebastian menarik napasnya untuk menetralkan emosinya supaya tidak hipertensi.
"Kau itu ibu macam apa yang selalu bangun siang dan tidak mempersiapkan perlengkapan sekolah anakmu dan mengantarkannya ke sekolah. Kau sebut dirimu ibu dengan sikapmu yang seperti itu? Aku sudah cukup bersabar dengan kelakuanmu yang tidak pernah baik dengan cucuku!"
"Haish! Memang kenapa sih, Pa? Lagian ada suster yang selalu menjaganya. Kalau tidak untuk membantu Naomi, dia makan gaji buta dong! Lagian papa begini aja sampai marah-marah, heran!"
Tuan Sebastian benar-benar terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut Bella. Ia menyerah, menyerah untuk menasehati menantu yang tak pernah ia inginkan itu. Tuan Sebastian pun pergi meninggalkan Bella sendiri.
"Mengganggu tidur pagiku saja!"
*
*
TBC
__ADS_1