
Sam sudah tiba di lokasi syuting, tujuan utamanya adalah mencari si wartawan yang ditemui Elmer tadi. Ia sempat mengingat namanya dan dimana wanita itu bekerja. Ya, semoga saja wartawan itu masih ada disana. Jadi ia bisa meminta kerjasamanya untuk menjaga nama baik Elmer.
Namun, harapannya sirna, karena di tempat tadi sudah tak ada siapapun. Ya wajar saja sih. Sam kan sudah keluar lebih dari 30 menitan. Pasti si wartawan itu sudah pergi. Sam mengecek alamat perusahaan tempat si wanita itu bekerja dari internet. Ia akan mendatangi wanita itu secara langsung. Sebelum itu, Sam harus mengurus jadwal Elmer dulu.
Sam mendatangi pihak produksi dan mengatakan alasan Elmer tak bisa melanjutkan syuting hari ini. Untungnya, dari pihak produksi tak masalah dengan hal itu. Karena kondisi bintangnya adalah hal penting juga untuk kelancaran syuting mereka.
Berbeda dengan Ergo yang mendengar ucapan dari Sam. Laki-laki itu langsung bertanya dengan memasang tampang yang kurang bersahabat.
"Kemana dia pergi? Mustahil kalau tiba-tiba sakit! Tadi aja dia sehat-sehat kok. Jangan banyak alasan kau Sam."
Sam menghela napasnya sejenak. Sejujurnya ia paling malas berurusan dengan orang seperti Ergo. Tapi kalau tidak dijawab, Ergo akan semakin menjadi-jadi.
"Namanya juga sakit, siapa yang bisa menduga? Sudahlah, kau lanjutkan saja syutingnya."
Sam pun melangkah pergi dari lokasi syuting ke perusahaan media tempat dimana si wartawan bekerja.
*
*
"Permisi, apa saya bisa bicara dengan saudari Imel?" tanya Sam ke resepsionis yang berjaga di pusat informasi.
"Maksud anda reporter Imel?"
Sam spontan langsung mengangguk.
"Atas nama siapa? Biar saya telpon kan dia."
"Sam, manager Elmer."
"Ah, baik, mohon ditunggu sebentar ya."
Tak butuh waktu lama, Imel sudah ada di hadapan Sam. Matanya tampak menyipit dan keheranan karena manager Elmer sampai datang ke kantor tempatnya bekerja.
"Saya tidak suka basa-basi. Apa kau bisa ikut sebentar dengan saya?"
"Sebenarnya saya masih ada pekerjaan, tapi karena sepertinya topik yang ingin kau bahas penting. Baiklah, ayo!"
Sam membawa Imel ke dalam mobilnya. Disana Sam bertanya tentang kejadian tadi lagi ke Imel sebagai konfirmasi. Imel pun menceritakan ulang yang terjadi.
"Jadi, kau sampai datang ke kantor saya hanya karena tadi saya bilang akan membeberkan sikap buruk dan kasar Elmer?"
__ADS_1
Sam mengangguk.
"Tentu saja, saya akan melindungi artis saya. Saya tidak ingin ada gosip miring tentangnya. Kau tidak bisa langsung menyimpulkan sesuatu hanya dari melihat saja. Karena apa yang kita lihat belum tentu bisa menjelaskan kenyataan yang ada. Ada banyak hal yang orang-orang tak bisa mengerti. Jadi, saya ingin kau tidak membeberkan itu ke media. Lalu, sebagai gantinya, saya akan membungkam mulut mu. Berapa yang kau inginkan? 10, 15, 20?"
Mata Imlek terbelalak kaget mendengar nominal yang disebut oleh Sam. 20 juta itu sama saja dengan gajinya dalam 4 bulan bekerja. Benar-benar sangat fantastik. Kapan lagi ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dengan hanya membungkam mulutnya saja.
"Deal, aku keep mulutku dengan 20 juta," ucap Imel sambil mengulurkan tangannya.
Sam tersenyum kecut. Ia sudah bisa menebak ini sebelumnya.
*
*
Elmer masih belum mau jauh dari Ela, padahal kondisi nya sudah jauh lebih baik. Laki-laki itu menggunakan kesempatan dalam kesempitan untuk menempel ke Ela.
"Elmer, please lepasin. Aku tidak bisa bekerja kalau seperti ini!" kesal Ela yang sedari tadi Elmer belum mau melepaskan pelukannya. Ela seperti dikunci agar tidak bisa kemana pun dan tidak bisa bergerak.
"Ingat apa yang dikatakan oleh Sam. Kau disuruh menjagaku."
Ela terlihat mendengus sebal. Seketika ia menyesal menyetujui permintaan Sam itu. Ia lupa kalau manusia seperti Elmer ini keras kepala.
"Iya, tapi itu kan di saat kau sakit seperti tadi. Sekarang sudah baikan. Mau aku antar pulang aja nggak?" tawar Ela supaya hidupnya lebih nyaman di hari itu.
"Maka dari itu, tolong kerjasamanya. Aku ada banyak pekerjaan. Lepaskan aku, dan biarkan aku bekerja."
"Apa imbalannya kalau aku melepaskan mu?"
"Oh, astaga Elmer! Kau itu perhitungan sekali!"
"Di dunia ini tidak ada yang gratis sayang."
"Sayang, sayang. Stop it!" Ela tidak suka Elmer memanggilnya seperti itu.
"Terus mau dipanggil apa?"
Elmer malah melanjutkan lagi topik itu membuat Ela jengah dan melepaskan sendiri pelukan Elmer secara paksa.
Tanpa diduga, tangan Elmer malah menyentuh buah dada Ela yang membuat Elmer jadi mematung di tempat. Ia merasa bersalah karena tak seharusnya menyentuh bagian itu.
"Ela, sorry," ucapnya sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
"Em," jawab Ela yang kini sudah berhasil lepas dari pelukan Elmer.
Sejujurnya Ela bingung bagaimana mendeskripsikan dirinya. Bukan hanya Elmer saja yang terkejut, dirinya juga. Jadi, satu-satunya cara yang terlintas di kepala Ela hanya pura-pura biasa saja seolah tak pernah terjadi kesalahan apapun.
Suasana canggung mulai tercipta. Hening, sangat hening sekali. Ela dengan pekerjaannya, dan Elmer dengan segala isi kepalanya yang amburadul dibikin jedag-jedug oleh Ela.
Kalau dirinya br*ngsek, mungkin ia tak akan melepaskan Ela begitu saja. Mungkin ia akan melanjutkan hal lebih daripada ketidaksengajaan tadi. Untungnya, dia lelaki yang tahu bagaimana memuliakan wanita dan menjaga wanita.
Sampai beberapa jam kemudian, Sam datang lagi ke butik untuk menjemput Elmer pulang. Laki-laki itu terheran-heran dengan tingkah Elmer yang tiba-tiba jadi pendiam. Padahal biasanya lelaki itu akan berusaha merayu Ela atau mengajak wanita itu untuk beradu mulut. Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan mereka? Itulah yang dipikirkan oleh Sam.
"Ayo kita pulang!" ajak Sam.
Elmer langsung mengangguk, tapi tatapannya masih mengarah ke Ela yang tak sedikit pun melihatnya.
"Ela aku pamit. Terima kasih pertolongannya dan maaf untuk yang tadi."
Elmer bangkit dari posisinya lalu berjalan beriringan dengan Sam.
Sesampainya di dalam mobil, Sam baru bertanya tentang maksud dari kata maaf Elmer tadi ke Ela.
"Kau buat salah apa sama Ela? Sudah dibantu, malah bikin masalah. Dasar! Mau tahu tidak? Aku sampai harus mengeluarkan uang 20 juta untuk membungkam wartawan itu."
Sam tidak bisa jika tidak mengutarakan kekesalannya. Walaupun sebenarnya ini pun bukan salah Elmer melainkan salah wartawan itu yang masuk entah melalu pintu yang mana. Tapi, tetap saja, seharusnya Elmer tak berada jauh darinya.
"Ya baguslah, 20 juta mah bukan apa-apa bagiku," jawab Elmer dengan entengnya. Elmer bahkan sengaja tak menjawab pertanyaan yang mengacu ke Ela. Karena tak mungkin juga ia menceritakan hal seperti itu ke Sam yang ada dirinya nanti dikira pria mesum.
"Haish! Tapi tetap saja, kalau setiap ada masalah, kita bungkam dengan uang, lama-lama kau rugi bandar juga Elmer!"
Elmer memalingkan wajahnya ke samping membuat Sam tambah kesal. Sam pun menjalankan mobilnya menuju ke apartemen.
*
*
TBC
Follow akun
Ig ku ya @yoyota_
FB : Yoyota
__ADS_1
Sekarang aku lebih aktif di Facebook ya.