Cinta Sang Aktor

Cinta Sang Aktor
Bab 59 - Papa Richard murka


__ADS_3

Di sela-sela waktu hening karena tak ada obrolan, Ela malah tertidur di mobil. Bahkan terus tertidur sampai Elmer menghentikan mobilnya di halaman rumah Ela.


Ketika Ela membuka matanya, ia langsung melotot ke arah Elmer. Seharusnya ia yang mengantarkan Elmer duluan supaya pulangnya sendirian. Kenapa malah seperti ini? Ela langsung panik.


Apalagi ia sudah melihat papanya keluar dari dalam rumah. Pasti menunggunya pulang.


"Elmer!" geramnya ke Elmer. Rasanya ia ingin sekali mencubit tangan Elmer. Tapi tak ia lakukan.


"Duh! Gimana ini!"


"Gimana apanya sih Ela? Ya tinggal turun dari mobil, jalan ke rumah beres lah. Kenapa harus ketakutan dan gelisah gini?"


Elmer bisa mudah mengatakan itu karena tidak tahu kalau sebenarnya Ela tak meminta izin dari papanya.


"Aku nggak minta izin ke papa, cuma ke mama doang!"


"WHAT!"


Elmer jadi ikut gelisah juga. Ia jadi takut untuk keluar dari mobil Ela. Tapi sebuah ketukan di kaca mobil terdengar jelas di telinganya.


Mampus deh!


Elmer membuka pintu mobil lalu tersenyum ke papanya Ela. Ia benar-benar lupa kalau aura calon mertuanya ini sangat-sangat mengerikan. Apalagi tatapan matanya yang penuh kecurigaan terhadapnya.


"Anu ... Em ... Maaf Om," Elmer bicara terbata-bata saking gugupnya.


"Kenapa minta maaf? Emang kau buat salah apa?" tanya Papa Richard yang terkesan mengintimidasi.


Ketika melihat Ela yang keluar dari pintu mobil satunya, Papa Richard langsung menyuruh Ela untuk masuk ke dalam rumah. Ia seperti ini karena sudah mengetahui kebenaran dari putrinya yang tidak pulang semalam.


"Maafkan Mama, Ela. Mama keceplosan tadi pagi," ucap Mama Naya.


"Nggak papa Ma. Papa juga pasti akan tahu cepat atau lambat."


Ketika Ela akan berjalan masuk ke dalam rumah. Tangan Ela dicegat oleh Mama Naya untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh papanya.


"Seharusnya kalau kau punya sopan santun, datang dan minta izin dariku kalau ingin membawa anak gadisku! Tidak seperti ini yang pergi diam-diam!"


Elmer masih tak berkutik. Jujur, rasanya horor sekali.


Elmer meremas jari jemari tangannya sendiri. Lalu mengatakan hal sejujurnya ke Richard. Tentang ancamannya ke Ela kalau tidak datang menemuinya. Ia akan melamar Ela ke rumah.


"Datang saja ke rumah, aku tidak akan mau juga menerima lamaranmu untuk anakku."

__ADS_1


"Kenapa Om? Memang ada yang salah dengan saya?" tanya Elmer yang keheranan dengan jawaban Richard.


"Tidak ada yang salah. Kalau dibilang mapan, kamu terlihat mapan sekali. Dari tampang juga oke untuk jadi calon menantuku. Tapi aku belum bisa terima kalau nantinya anakku jadi bahan gosip buruk lagi ulah fans bar-bar mu itu. Jadi jangan berharap kau bisa mendapatkan putriku."


Richard sudah berjalan pergi dari hadapan Elmer tapi ia segera berbalik lagi.


"Kemarikan kunci mobil Ela yang ada di tangan mu," ucap Richard lalu benar-benar pergi dari sana.


Elmer terdiam agak lama disana. Ia menatap ke arah pintu berharap Ela keluar dan menemuinya sebentar. Ternyata harapan tetap akan jadi harapan. Elmer pergi berjalan kaki keluar dari area perumahan itu. Ia menelpon Sam untuk menjemputnya.


*


*


Di dalam rumah, Ela sedang disidang oleh papanya. Bahkan untuk menatap wajah papanya saja Ela merasa tidak sanggup.


"Ela, kenapa kau tidak jujur saja sama papa? Sebenarnya apa hubungan kau dengan si aktor itu? Kenapa sepertinya kalian malah semakin dekat? Kau ada perasaan dengannya? Jawab papa, Ela!" Richard sedikit menaikan nada suaranya.


Naya yang ada di sebelah Richard mengelus pelan punggung Richard supaya tidak emosi.


"Aku tidak ada hubungan apapun dengannya, Pa. Kami cuma partner kerja," jawab Ela.


"Partner? Tapi sampai liburan bersama? Apa seperti itu?" tanya Richard lagi.


Ela benar-benar bingung bagaimana menjelaskan ke papanya. Masa iya dia harus bilang Elmer mau melamarnya juga. Kan nggak mungkin juga.


Padahal Richard sudah mendengar cerita itu dari Elmer, hanya saja Ela tidak tahu.


"Sana masuk kamar!" perintah Richard. Ela pun menurut dan pergi ke kamarnya.


Di ruang tamu, Naya menasehati suaminya untuk tidak terlalu posesif terhadap Ela.


"Tidak usah sampai seperti itu Pa. Aku bisa melihat ada cinta yang besar dari pancaran mata Elmer ke Ela. Biarkan mereka saling dekat. Jangan menghalang-halangi seperti ini. Mamamu saja dulu tidak pandang bulu tentang siapa aku dan latar belakangku. Ini loh ada laki-laki tampan dan mapan yang suka sama anak kita. Dia mau berjuang, tapi kenapa kau tidak setuju? Harusnya setuju. Ingat, usia Ela sudah kepala 3. Dia sudah lebih dari siap untuk menikah. Pokoknya kalau papa tidak setuju, mama yang setuju."


Naya menatap Richard dengan lirikan tajam kemudian pergi dari sana meninggalkan Richard sendirian.


Richard menghela napasnya berat.


*


*


Elmer mendaratkan tubuhnya untuk duduk di sofa. Ia menyandarkan kepalanya diujung sofanya.

__ADS_1


"Apa terjadi sesuatu di rumah Ela? Kelihatannya wajahmu muram sekali. Aku sampai tidak bisa menebaknya."


Terdengar napas berat dari Elmer. Ia berbicara dengan mata yang terpejam.


"Kelihatannya Om Richard tidak suka padaku. Dia terang-terangan menolak aku jadi menantunya. Aku jadi bingung pakai cara apalagi aku harus meluluhkan hati Ela. Mana waktu berlalu semakin cepat. Huh!"


Elmer mendapatkan tepukan tangan Sam di pundaknya.


"Yang sabar ya, ini adalah ujian dari calon mertua untuk calon menantunya. Kau harus tetap yakin dan semangat kalau benar-benar serius dengan Ela. Batu aja kalau tiap hari kena ujan pasti akan melebur. Pasti hati Om Richard juga begitu. Nikmati aja prosesnya."


Elmer tak lagi bicara. Ia merenungi ucapan Sam tersebut. Benar apa yang diucapkan Sam. Ia harus lebih giat dan berjuang lagi untuk mendapatkan Ela.


"Ngomong-ngomong soal jadwal kerjaku. Besok aku ingin libur, kau atur semua jadwalku ya! Aku ingin rebahan seharian."


Sam tersenyum kecut. Lagi-lagi ia direpotkan oleh Elmer. Ia harus melobi pihak perusahaan untuk mengganti ulang jadwal Elmer. Kalau tidak merepotkan, memang bukan Elmer namanya. Entahlah, bagaimana nantinya kalau Ela dan Elmer bersatu. Bisa saja ia akan semakin repot. Huh!


"Tolong ambilkan aku minum, aku haus berjam-jam menyetir!" pinta Elmer ke Sam.


Sam menurut. Tak lama kemudian Sam memberikan segelas air putih ke Elmer. Elmer langsung meneguknya dengan cepat.


"Kau lapar tidak?" tanya Elmer.


"Sedikit," jawab Sam.


"Pesan makan online gih! Aku lapar sekali. Butuh tenaga ekstra untuk bisa meluluhkan hati anak dan bapak itu. Cepat pesan."


Lagi-lagi Sam hanya bisa menurut. Ia pun memesan beberapa menu makanan kesukaan Elmer dan dirinya. Kini mereka tinggal menunggu makanan itu datang.


"Sudah langsung dibayar kan?" tanya Elmer.


Sam mengangguk.


"Bagus, jangan minta ganti ya. Aku lagi nabung buat biaya nikah!"


"Nikah, nikah, calon aja belum ada!"


Elmer langsung merengut bibirnya.


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2