
Ela telah sampai di lokasi yang diberikan oleh Elmer. Suasananya tampak sepi dan pencahayaannya tak begitu terang. Ya, karena Ela datang ke tempat tersebut ketika hari telah berganti jadi malam.
Seseorang melambaikan tangannya ke Ela. Ela melihat itu, dan berjalan menghampiri orang tersebut.
"Awalnya aku tidak menyangka loh. Aku kira Elmer berkata bohong kalau kau akan datang kesini. Ternyata tidak. Gimana cara dia membujuk mu?" tanya Sam yang begitu penasaran.
Ela tak mau menjawabnya.
"Dah lah, jangan kepo. Sekarang dimana dia?" tanya Ela.
"Ada di dalam resort, masih bermain sama ponakannya."
Ela mengangguk-angguk. Rupanya itulah alasan kenapa Elmer menyuruh datang bersama ponakannya juga, ternyata Elmer kesini memang membawa ponakannya juga. Lalu siapa orang yang satu lagi? Katanya mereka disana berempat.
Ela dan Sam sudah berada di dalam resort. Ia melihat Elmer yang tampak akrab dan ketawa-ketiwi dengan Naomi. Bahkan sampai tak menyadari kehadiran Ela dan Sam disana.
Ela melihat seorang wanita yang menjadi suster dari Naomi. Ah, rupanya berempat dengan dia.
"Eh, sudang datang?" ucap Elmer yang baru menyadari kedatangan Ela.
"Naomi sekarang pergi ke kamar dan tidur. Besok kita main-main lagi. Nurut sama papa, oke?" Naomi mengangguk lalu meraih tangan susternya untuk menemaninya tidur.
Elmer bangun dari posisinya dan mendekat ke Ela. Ia tersenyum sangat lebar.
"Ternyata, sebuah ancaman adalah hal paling mempan untuk menaklukan mu. Kenapa tidak terpikirkan dari dulu ya? Tau gitu, aku datang membawa banyak masa ke rumahmu."
Ela langsung melotot ketika mendengar ucapan itu. Ia memukul lengan Elmer dengan tas yang digunakannya.
"Aww! Sakit Ela. Lembut dikit kek," ucap Elmer sambil mengelus lengannya yang dipukul Ela.
Ela duduk di kursi kayu yang tersedia. Ia melihat ke sekeliling ruangan tersebut. Semua furniture nya dominan terbuat dari kayu.
"Kau datang sendiri?"
"Menurutmu?" Ela menjawabnya dengan ketus.
"Haih! Ela please jangan ketus-ketus dong!"
Ela malah tak memperdulikan itu. Karena ponselnya kini berdering dari mamanya.
__ADS_1
"Lagi dimana? Kok belum pulang?"
"Di luar Ma. Sepertinya aku tidak pulang ke rumah," jawab Ela yang membuat Elmer tahu kalau Ela sedang berbicara dengan mamanya.
"Kenapa? Memangnya masih lama urusannya? Mau tidur di butik aja?"
Ela menghela napasnya. Ia tidak tega jika harus membohongi mamanya. Akhirnya Ela pun menceritakan dia ada dimana dan dengan siapa disana.
"Oh, ya sudah, nikmati aja liburannya. Nanti mama yang urus soal papa. Lagipula kalian tidak hanya berdua disana. Jadi mama pun tidak akan curiga."
"His! Curiga apa sih mama? Orang aku sama dia nggak ada hubungan apa-apa."
"Yah, mungkin sekarang emang tidak, tapi kan nggak tahu nanti."
Ela manyun setelah mendengar ucapan mamanya. Telpon pun selesai. Ela langsung menatap Elmer dengan tajam.
"Apa!" seru Elmer.
"Dimana kamarku?" tanya Ela.
"Ada, tapi nanti aku kasih tahunya. Kau harus? Lapar? Atau mau langsung jalan-jalan?" tawar Elmer.
"Sudahlah, kalian lanjutkan ya obrolannya. Aku mau ke kamar dulu. Butuh istirahat. Kalau mau sesuatu. Tinggal ke dapur aja, ada makanan yang sudah disiapkan oleh pelayan resort, tinggal dipanaskan saja."
Sam pergi meninggalkan keduanya.
"Lapar? Haus? Atau mau jalan-jalan di sekitar pantai?" tawar Elmer lagi ke Ela karena belum mendapatkan jawaban.
Ela langsung berdiri dan berjalan sendiri sambil melihat-lihat isi resort. Rupanya wanita itu pergi ke dapur untuk mengambil air minum karena perjalanan dari butik kesana sangatlah melelahkan.
Elmer mengikuti Ela dari belakang lalu berdiri di samping Ela yang sedang meneguk minumnya.
Gelas sudah berada di meja, Elmer langsung menarik Ela pergi dari sana karena menunggu jawaban Ela sangatlah lama dan is tidak sabar untuk itu.
Cahaya bulan begitu indah di malam itu. Suara deburan ombak jadi irama yang menenangkan disana. Tangan Elmer masih menggenggam tangan Ela. Mungkin Ela tidak sadari itu karena terlalu menikmati suasana.
"Momennya akan semakin indah jika bersama dengan orang yang kita inginkan," ucap Elmer yang sesuai dengan makna pesan yang ia kirimkan.
Ela menoleh ke Elmer dan menatap tangannya yang masih digenggam. Ia melepaskan genggaman itu dan menatap ke arah laut dengan memposisikan kedua tangannya ke belakang.
__ADS_1
Elmer mengikuti apa yang dilakukan Ela. Keduanya menatap laut yang sama. Suasana malam yang sama. Tapi entah, apakah pikiran mereka sama atau tidak.
"Sejujurnya, aku kesini karena Naomi merasa bosan. Tapi sepertinya, bukan karena Naomi saja. Aku pun lelah dengan kehidupanku dan butuh refreshing," ucapnya dengan senyum tipis.
Ela menatap ke arah Elmer, melihat ekspresi wajah laki-laki itu yang mungkin memang sudah berada di titik lelahnya.
"Aku memang menyukai dunia seni peran. Tapi ada kalanya, aku juga jenuh, bosan dan juga lelah dengan semua rutinitasnya. Apalagi dengan fans ku yang terlalu fanatik. Padahal aku hanya manusia, manusia yang membutuhkan privasi."
Ela masih belum menanggapinya. Ia masih jadi pendengar yang baik.
"Aku ingin sembuh dari penyakitku yang aneh ini. Kata dokter, aku harus melepaskan semuanya. Aku sudah berusaha, tapi memang tidak mudah. Aku selalu teringat kata-kata buruk dan jijik yang diucapkan Bella ketika aku disentuh wanita."
Yang awalnya cuma menatap, kini tubuh Ela juga menghadap ke Elmer. Ia memang tidak tahu seperti apa yang dirasakan oleh Elmer ketika bersentuhan dengan wanita. Tapi entah kenapa, di dalam hatinya, seperti ada keinginan untuk membantu Elmer melepaskan semua rasa sakitnya sampai ia bisa kembali seperti laki-laki normal lainnya.
Ela meraih tangan Elmer, menggenggamnya dengan kedua tangannya.
"Kau sudah melakukan yang terbaik sampai saat ini. Cukup lakukan lagi sampai semuanya terlepaskan dengan sendirinya."
Elmer tersenyum lalu membalas genggaman tangan itu dengan salah satu tangannya .
"Aku jadi ingat, ternyata ada satu wanita yang bisa aku sentuh yaitu kau."
Ela tak menanggapi ucapan Elmer. Ia melepaskan genggaman tangan itu dan duduk di atas pasir dengan menekuk sedikit lututnya. Tangannya meraih pasir putih itu lalu menjatuhkannya seperti air terjun.
"Sebenarnya bukan hanya kau yang sulit melepaskan masa lalu. Aku juga. Aku terjebak begitu dalam disana sampai lupa caranya untuk keluar."
Elmer langsung menaikkan alisnya karena bingung permasalahan apa yang dialami Ela di masa lalu wanita itu. Ia pun jadi duduk di samping Ela dan menatap ke wanita itu.
"Banyak hal yang tidak mudah dilupakan tentang masa lalu. Apalagi kalau lukanya begitu membekas."
Elmer menunggu kelanjutan cerita dari Ela. Karena ini pertama kalinya Ela mau cerita tanpa harus ia paksa-paksa. Tapi, Ela malah bangkit dari posisinya, dan seolah ingin membuat Elmer selalu penasaran tentangnya. Ia tak mau begitu terus, Elmer menarik tangan Ela untuk duduk kembali dan menyelesaikan ceritanya.
"Jangan buat orang mati penasaran. Dosa!"
*
*
TBC
__ADS_1