Cinta Sang Aktor

Cinta Sang Aktor
Bab 51 - Menangis


__ADS_3

Esok harinya, Elmer mengunjungi butik Ela lagi. Merusuh lagi di butik Ela bahkan mengganggu konsentrasi kerja Ela disana. Ela susah lelah dan tak ada tenaga untuk menanggapi kelakuan Elmer.


"Sebenarnya apa sih yang kau mau?"


"Jadi kekasihku! Dijamin kamu tidak akan menyesal," ucapnya dengan diakhiri senyuman.


"Aku sudah menjawabnya Elmer, apa kau lupa?"


Sebenarnya tidak lupa, cuma Elmer masih belum menyerah. Lagian dia juga sudah kepalang ngejar-ngejar Ela dan kepalang cinta.


"Kan aku juga sudah bilang aku tidak akan menganggap jawabanmu waktu itu. Lagipula kau tidak memberikan aku alasan kenapa aku ditolak."


Ela menghela napasnya pelan. Kemudian memposisikan dirinya berada tepat di hadapan Elmer. Kemudian ia mendongak dan mengatakan alasannya menolak Elmer dengan jelas.


"Aku tidak suka laki-laki sepertimu yang hidupnya tak ada privasi. Aku tidak suka laki-laki yang tingkat percaya dirinya setinggi langit. Intinya aku tidak menyukaimu. Apa kurang jelas?"


Meski sudah ditolak lagi, Elmer tak akan menyerah sebelum janur kuning melengkung di depan rumah Ela.


"Aku masih belum menyerah. Jawabanmu barusan membuktikan bahwa aku harus mencoba lagi di lain waktu. Kalau begitu, aku pergi dulu. Selamat bekerja."


Akhirnya Elmer pergi juga dari butik miliknya. Kehadiran Elmer selalu saja membuat tekanan darahnya meningkat. Alin yang memang ada urusan dengan Ela pun masuk ke ruangan Ela.


"Kok tumben Kak Elmer cuma sebentar Kak? Tidak seperti kemarin yang hampir 3 jam disini," tanya Alin.


"Sudah jangan bahas dia lagi, bisa-bisa aku langsung hipertensi. Lebih baik kau cek ulang desain pakaian yang akan kita berikan ke klien."


"Hm, baiklah. Aku juga baru mau mengatakan itu kak."


Ela mengambil tumpukkan berkas di mejanya lalu memberikannya ke Alin untuk dicek ulang. Kemudian Alin pun keluar dari sana.


*


*


Elmer pulang ke apartemennya dengan suasana hati yang tak karuan. Rupanya Sam sudah ada disana juga. Laki-laki itu langsung berdiri dan memarahi Elmer yang suka keluyuran tanpa memikirkan siapa dirinya.


"Aku tidak tahu lagi, kenapa sih kau selalu saja keluar sendiri tanpa memikirkan akibatnya? Kau tahu sendiri bagaimana keadaanmu? Siapa dirimu di mata orang? Kalau sampai terjadi hal buruk bagaimana?"

__ADS_1


Sam memarahi Elmer karena dia peduli pada Elmer. Takut tiba-tiba Elmer pingsan di jalan.


"Cerewet! Kau ini seperti perempuan saja! Banyak bicara!"


Sam menghela napasnya, lalu duduk lagi untuk meredakan emosinya. Dia menanyakan lagi dari mana Elmer keluar barusan.


"Aku habis dari butik Ela. Kau tahu sendiri, disana pasti tidak akan ada kejadian buruk."


Sam mengangguk-angguk. Lalu ingin mendapatkan penjelasan lebih tentang alasan kepergian Elmer kesana.


"Aku cuma ingin kesana saja melihat Ela."


"Jadi, karena itu, kau memintaku memundurkan jadwal syuting mu hari ini?"


Elmer mengangguk.


Sam geleng-geleng kepalanya. Sesungguhnya, ia paham akan tabiat Elmer ketika mencintai seseorang. Laki-laki itu bahkan rela melakukan apapun demi wanita yang dicintainya. Tapi, kalau cuma bertepuk sebelah tangan, apa nggak ngenes?


"Lebih baik urusan dengan Ela jangan kau pikirkan dulu. Sekarang siap-siap karena kita harus pergi ke lokasi syuting," ucap Sam sambil mendorong Elmer untuk masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian.


Mau tak mau Elmer pun menurut saja.


*


*


"Aaaa!!!"


Karena saking paniknya, Ela tak mampu untuk menghindar, sampai si pria itu yang mendorong tubuhnya sampai terbentur ke jalanan, sementara si pria tertabrak truk dan tubuhnya terpental jauh.


Ela terperanjat bangun dari mimpinya itu. Ia menangis sambil menutupi seluruh wajahnya dengan kedua tangannya. Mimpinya barusan adalah kejadian ketika ia SMA dahulu.


Tangisan Ela tak bisa berhenti sampai terdengar dering ponsel Ela yang ada di meja samping ranjang. Rupanya ada sebuah pesan masuk dari Elmer, yaitu mengucapkan selamat tidur untuknya. Ela cuma membacanya lalu meletakkan ponselnya kembali.


Tatapannya tampak kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang dan dipikirkan di dalam pikirannya. Sudah bertahun-tahun berlalu, tapi Ela tak akan pernah bisa melupakan kejadian tersebut. Apalagi, ketika semua orang menyalahkan dirinya.


"Nyatanya, aku masih terjebak dengan masa laluku. Aku belum bisa keluar dari sana dan melepaskan semuanya. Maafkan aku Val."

__ADS_1


Lagi-lagi Ela menangis.


*


*


Di dalam kamar apartemennya, Elmer terus menunggu balasan selamat tidur juga dari Ela. Karena wanita tersebut sudah membaca pesannya tadi. Namun, sudah ditunggu beberapa menit pun, masih tak ada balasan disana.


"Hih! Kenapa belum dibalas juga sih? Emangnya dia sesibuk apa sih kalau malam?"


Elmer bahkan tak bisa tidur karena masih diabaikan pesannya oleh Ela. Ia pun dengan sengaja malah melakukan panggilan suara dengan Ela. Ketika panggilan terhubung, yang ia dengar cuma sebuah tangisan. Tangisan rasa sakit yang teramat dalam. Elmer jadi terdiam juga dan tak berkata apapun. Ia ingin mendengarkan cerita dari alasan Ela menangis yang terdengar sesakit itu.


"Hiks ... Maafkan aku, Val."


'Val? Siapa dia?'


Elmer agak bingung dengan nama yang disebutkan oleh Ela tadi. Ia benar-benar tidak mengenal. Ia malah berpikiran jangan-jangan laki-laki tersebut yang membuatnya diacuhkan selama ini oleh Ela. Namun, ia pun merasa aneh, tidak mungkin Ela mengangkat panggilan darinya kalau sedang bersedih.


'Apa jangan-jangan dia tidak sadar kalau telah menerima panggilan dariku? Ah, Ela, kau kenapa sih? Siapa Val itu? Kenapa buat aku jadi penasaran?'


Pada akhirnya, Elmer pun memilih untuk mematikan panggilan tersebut, sebelum Ela sadar kalau ia mendengarkan tangisan Ela tersebut.


"Mendengar mu menangis, hatiku jadi sakit El. Tapi sebenarnya apa kesalahanmu sampai harus meminta maaf sampai menangis begitu? Aku benar-benar tidak bisa mengabaikan ini begitu saja. Tapi, aku juga tidak mungkin menanyakan hal ini langsung padamu. Aih! Menyebalkan sekali."


Elmer menjatuhkan tubuhnya ke ranjang kalau memeluk gulingnya dan memiringkan tubuhnya. Ia mencoba untuk memejamkan matanya, tapi ternyata tidak bisa. Di dalam pikirannya suara Ela yang menangis tadi terngiang-ngiang terus.


"Sialan! Aku tidak akan bisa tidur kalau begini jadinya! Tapi tidak mungkin juga aku pergi ke rumahnya malam-malam begini! Yang ada aku dikira laki-laki tidak punya sopan santun!"


Elmer bangun dari posisi rebahannya jadi duduk. Ia mengacak-acak rambutnya karena gelisah dengan keadaan Ela saat ini. Ia mencoba melihat ponselnya lagi dan ingin menghubungi Ela lagi. Tapi, ia urungkan karena tak mau mengganggu Ela.


"Sudahlah, lebih baik tidur saja!"


Elmer menjatuhkan tubuhnya lagi ke ranjang. Ia memejamkan matanya lagi. Ia berharap kali ini bisa tidur dengan nyenyak walaupun pikirannya kemana-mana. Tapi lagi-lagi tidak bisa. Elmer membuka matanya lagi lalu menatap langit-langit kamarnya.


Elmer seperti mendengar suara bisikan entah darimana yang mengatakan, "Kalau kau mencintainya, perjuangkan. Berusahalah untuk ada di sisinya dalam keadaan apapun. Meski tidak diterima dengan baik, kalau kau tulus, lama-lama ketulusan itu akan terbayarkan."


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2