
"Udah ready El? Siap buat take kan?" tanya Sam ke Elmer yang sedang duduk diam tanpa melakukan apapun. Seolah-olah tengah memikirkan sesuatu.
"Ya, aku sudah siap."
"Baguslah, cepat sana! Sutradara udah nunggu."
Elmer mengangguk kemudian melakukan adegan sesuai dengan skrip nya meski ada sedikit improvisasi darinya.
Di belakang layar, Sam selalu memerhatikan orang-orang di sekitar Elmer, bahkan untuk orang yang sedang menyebut nama Elmer saja ia bisa langsung berbalik dan pura-pura mendekat. Hanya karena ingin tahu apa yang mereka tentang Elmer.
"Padahal dia aktor yang hebat. Berasal dari keluarga kaya raya. Tapi kenapa sampai sekarang masih single ya? Pastinya banyak cewek yang ngantri. Harusnya tinggal cap cip cup aja bisa dapet."
"Kau kira milih pasangan sama kaya kita lagi ngerjain ujian? Beda lah. Milih pasangan itu butuh banyak pertimbangan. Apalagi dia kaya raya, pasti sangat pemilih kalau urusan pasangan. Gimana kalau pasangannya nggak cinta sama dia tapi cintanya sama uangnya? Mending nggak usah nikah, lagipula cowok nikah di atas 30 an mah nggak papa. Malah banyak artis-artis lain yang udah nginjak kepala 4 tapi belum nikah sampe sekarang."
Sam lalu berjalan kembali ke tempatnya. Rupanya seperti itu kebanyakan orang berpikir tentang Elmer.
Lalu tak sengaja ia mendengar lagi ada staf wanita yang bicara.
"Aku kemarin dengar ada orang yang bilang kalau Elmer itu suka sama cowo. Makanya dia selalu menghindar dari tempat yang banyak kerumunan wanitanya. Makanya selama ini dia juga selalu minta staf yang melayaninya cowok semua."
"Hus! Jangan sebar gosip sembarangan! Mana ada cowok setampan dia sukanya sama cowok juga. Kalau ucapanmu nggak terbukti, kau bisa dituntut lho!"
Sebenarnya gosip tersebut Sam pun sempat mendengarnya sepintas. Tapi ketika mendengar langsung dari pendengarannya sendiri, rasanya ia jadi marah dan ikutan kesal. Mereka tidak tahu apapun tentang Elmer. Mana bisa seenaknya bergosip seperti itu. Ingin sekali Sam mengumpat mulut-mulut jahat itu dengan serbet.
Sam berbalik badan dan berjalan pelan. Ia menghela napasnya untuk mengontrol emosi di dalam dirinya. Ia berjalan menuju ke tempat Elmer sedang melakukan adegan.
"Padahal selama ini kau selalu menunjukkan yang terbaik dengan karya-karyamu. Tapi kenapa selalu ada saja orang yang ingin menjatuhkan mu? Apa mereka tidak merasa bersalah setelah melakukannya?"
Pengambilan adegan Elmer telah selesai. Laki-laki berjalan menghampiri Sam yang tengah berdiri.
"Dari mana aja? Tadi aku tidak melihatmu menungguku sampai selesai syuting."
"Ke toilet sebentar," jawab Sam.
"Oh, mana minumanku. Haus," ucap Elmer ke Sam. Sam pun langsung mengambilkan air minum yang berada tak jauh darinya.
"El, syuting mu kan sudah selesai. Jadwal kerjamu juga ini yang terakhir. Kau mau langsung pulang apa gimana?" tanya Sam.
Elmer langsung menggeleng.
"Aku mau ke butik Ela dulu."
__ADS_1
Sam mendengus. Padahal ia sudah menebak hal tersebut di dalam pikirannya. Elmer kan sudah bucin dengan Ela meski wanita itu belum ada tanda apapun pada Elmer.
*
*
Kali ini, Sam juga ikutan turun dari mobil dan masuk ke dalam butik milik Ela. Jantungnya langsung berdebar saat melihat wanita yang senyumnya begitu menawan. Jantungnya langsung jedag-jedug seperti ada disko di dalamnya.
"Alin, Ela nya ada?" tanya Elmer.
"Ada Kak Elmer. Masuk aja, Kak Ela lagi nggak terlalu sibuk kok."
"Oke, terima kasih."
Alin mengangguk. Sebenarnya ia penasaran dengan hubungan Ela dan Elmer tapi ia tak mau terlalu kepo. Elmer berjalan masuk ke dalam ruangan Ela. Sementara Sam masing berdiri mematung disana.
"Kak! Hei!" ucap Alin sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Sam.
"Ah, eh, hehe." Sam malah cengengesan membuat Alin jadi merasa ada yang aneh dengan orang yang datang bersama dengan Elmer.
"Ih, aneh!" ucap Alin yang menaikan sedikit alisnya lalu fokus kerja lagi.
Sam malah mengikuti kemana Alin melangkah. Sepertinya ia tertarik dengan pekerja Ela itu. Maklum lah sudah lama menjomblo. Sekalinya lihat yang menarik perhatian langsung kaya magnet yang berbeda kutubnya maunya menempel.
"Em, cuma mau kenalan. Aku Sam manager nya Elmer," ucap Sam mengulurkan tangannya.
"Alin, asisten designer nya Kak Ela," ucap Alin sambil membalas uluran tangan itu.
"Sudah lama kerja sama Ela?" tanya Sam yang masih ingin mencaritahu tentang Alin. Lagipula kalau cuma duduk menunggu Elmer keluar, ia juga bosan.
"Dari aku lulus kuliah sih. Kenapa tanya Kak?" tanya Alin yang merasa heran.
"Emang nggak boleh tanya gitu? Siapa tahu kan aku bisa tanya-tanya yang lebih dalam lagi daripada itu?"
"Kakak suka aku?" ucap Alin yang langsung membuat Sam mendelik dan bungkam. Rupanya Alin orangnya peka.
"Emang keliatan banget ya?" Sam malah memperjelas hal itu. Jujur ia memang tertarik ke Alin pada pandangan pertama.
"Sangat! Tapi maaf, aku nggak bisa suka sama orang asing."
Jleb!
__ADS_1
Rasanya dada Sam seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum.
"Kan udah kenalan tadi. Berarti bukan orang asing lagi. Lagipula, kita kan baru pertama kali ketemu. Mana bisa kau bicara begitu."
"Benar. Aku juga tidak percaya orang yang pertama kali bertemu bisa langsung suka."
Sam mendengus sebal. Ya benar juga sih, Alin pasti akan berpikir yang aneh-aneh terhadapnya. Cinta ada pandangan pertama itu memang ada. Tapi tak semua orang bisa percaya.
*
*
Ela masih sibuk dengan iPad nya. Elmer pun tak mau mengganggunya. Laki-laki itu hanya duduk diam dalam jarak sekitar 4 meter dari Ela. Ia memperhatikan betapa seriusnya Ela dalam melakukan sesuatu. Benar-benar menambah rasa cintanya terhadap wanita itu.
"Jangan terus melihatku seperti itu!" tegur Ela yang menyadari kehadiran Elmer disana.
Elmer hanya terkekeh pelan saja karena Ela menegurnya tanpa melihat ke arahnya.
"Apa pemandangan di iPad mu lebih menarik daripada aku?"
Ela langsung menatap ke arah Elmer.
"Bisa tidak, kalau datang itu kabari aku dulu?"
"Nggak bisa! Kau pasti akan melarang aku untuk datang."
Ela menghela napasnya sejenak.
"Apa lagi sih yang kau mau sebenarnya Elmer? Nggak capek kah terus menggangguku?"
"Kau sudah tahu apa yang aku mau Ela."
"Tapi aku sudah jawab tidak mau. Kenapa harus memaksa sih?"
"Aku tidak memaksa, hanya ingin kau memikirkan ulang saja. Tidak ada hal yang perlu kau takutkan. Masa lalumu itu bukan salahmu. Aku hanya ingin mengingatkan supaya kau cepat-cepat membuka hatimu lebar-lebar."
Ela tampak terdiam. Sejujurnya, kini ia sudah tidak terlalu memikirkan masa lalunya lagi sejak bercerita dengan Elmer. Ela pun sudah sadar kalau memang itu bukan salahnya. Hanya saja keadaan dulu, seolah-olah memaksa kalau itu adalah salahnya.
"Kalau kau masih ragu, apa perlu aku tunjukkan supaya kau percaya aku benar-benar menyukaimu?"
*
__ADS_1
*
TBC