
Acara pun dimulai. Satu per satu model berjalan dengan memperlihatkan pakaian yang dipakainya. Berjalan dengan anggun dan gagah. Hingga Elmer yang jadi model utama pun mulai berjalan disana dengan karisma yang begitu memikat hati para penonton. Padahal Elmer hanya memperlihatkan senyum tipisnya, tapi sudah bisa membuat para wanita yang ada di sana meleleh dibuatnya.
Hingga acara itu ditutup dengan Ela yang ikut berjalan juga diiringi dengan semua model pakaiannya. Lalu suara riuh tepukan tangan pun menjadi irama yang begitu membahagiakan bagi Ela.
Acara selesai, Ela diberikan ucapan selamat oleh dua kakak iparnya karena Ela telah sukses memperlihatkan rancangan pakaiannya yang sangat bagus.
"Kamu memang berbakat sekali Ela. Aku berharap adikku juga bisa sepertimu. Semoga ia bisa belajar banyak darimu," ucap Aura.
"Alin juga sangat berbakat. Karena suksesnya acara ini juga atas berkat bantuan Alin."
"Kakak jadi pengen dibuatkan setelah pakaian untuk Ezra," celetuk Meira.
"Dengan senang hati, aku akan membuatkannya untuk keponakanku tercinta."
"Wah, terima kasih aunty," ucap Meira menirukan suara anak kecil. Membuat Ela jadi geli karenanya.
"Jangan begitu kak, aku geli dengarnya."
Meira dan Aura pun tertawa melihat ekspresi Ela.
"Kapan nih kenalin calon ke keluarga? Pasti sudah banyak laki-laki yang ngantri untuk jadi suamimu," tanya Meira.
Ela menanggapinya dengan malas. Semua orang seperti tidak pernah mengerti bagaimana perasaannya. Terus menanyakan tentang pria padanya. Namun, Ela juga lupa, bagaimana mereka mengerti kalau Ela begitu tertutup tentang isi hatinya.
Ya, boleh dibilang Ela memang cerewet dan banyak bicara pada semua orang. Tapi, soal hati? Ela selalu diam, bahkan keluarga sendiri pun seperti tak ada yang tahu tentang dirinya. Rendra sebagai kembaran Ela pun hanya bisa merasakan kesedihan ketika Ela sedih tanpa tahu alasannya.
"Jangan bahas-bahas itu deh kak. Aku jengah sekali mendengarnya," jawab Ela.
Aura yang tahu kalau Ela memang tidak nyaman membahas hal itu pun, menyenggol Meira dan membisikan kalimat ke Meira untuk berhenti dan jangan bertanya apapun lagi. Meira pun jadi diam dan ia pamit karena ingin menemui suaminya.
Jadilah, disana hanya ada Aura dan Ela. Ela terlihat sedang menghela napasnya perlahan. Aura menepuk pundak Ela dan mengatakan hal ini pada adik iparnya.
__ADS_1
"Memendam semuanya sendirian itu tidak baik. Kalau suatu saat nanti udah siap cerita atau mau cerita. Aku tidak memaksa untukmu bercerita sekarang. Kau bisa ceritakan itu padaku, kalau kau tidak berani cerita ke Mama Naya ataupun keluargamu yang lainnya. Anggap saja aku ini sahabatmu jangan anggap aku kakak iparmu kalau mau cerita."
Mendengar itu, Ela jadi sadar, kalau ada seseorang yang rupanya bisa memahami hatinya meski ia tidak berkata apapun.
"Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Tapi sebelum menemukan solusinya, tentunya kita harus menemukan akarnya lebih dulu baru menyelesaikan semuanya perlahan-lahan," tambah Aura lagi.
Aura yang memang dulunya selalu mendengarkan curhatan kliennya pun, tak sedikit banyak bisa tahu raut-raut wajah yang menyimpan masalah.
"Sekali lagi selamat untuk suksesnya acara malam ini," ucap Aura kemudian pergi dari sana dan meninggalkan Ela sendirian.
Elmer yang memang belum pulang dari tempat itu, berjalan mendekati Ela dengan pakaiannya yang sudah berganti.
"Semua desainnya bagus-bagus," puji Elmer yang sudah ada di samping Ela.
Ela pun menoleh dan melihat orang yang ada di sebelahnya.
"Terima kasih."
Elmer mengangguk.
"Aku sibuk, tak ada waktu untuk datang," tolak Ela mentah-mentah.
"Kau ini, belum juga dipikirkan udah nolak duluan."
Ela diam dan tak menanggapinya.
"Terima kasih kau sudah mau jadi model utama hari ini. Karena mu juga acara berjalan lancar," ucap Ela dengan tulus.
"Tentu saja, kau memang harus berterimakasih padaku. Tapi, aku tidak mau yang gratisan."
Sebuah ide mulai berkeliaran di kepala Elmer untuk memanfaatkan Ela yang berterimakasih padanya.
__ADS_1
"Cih! Kau ini Memnag tidak mau rugi sama sekali."
"Jelas lah, jiwa pebisnis ayahku kan menurun padaku. Hanya saja aku tidak mau masuk ke dunia itu," jawab Elmer.
"Kau menginginkan apa? Mau bayaran sebagai brand ambassador nya ditambah?" tanya Ela.
"Tidak, aku cuma ingin makan malam romantis saja."
Mendengar itu, Ela jadi memandang wajah Elmer malas. Masih saja Elmer berusaha mendekatinya. Padahal ia tak pernah menunjukkan ketertarikan ke Elmer. Semua yang Ela lakukan atas dasar kemanusiaan ketika Elmer terluka.
"Jangan yang itu, aku tidak mau," tolak Ela.
"Kenapa? Kan cuma makan malam?" tanya Elmer.
"Kau kan tadi bilangnya makan malam romantis, jelas aku tidak mau. Kalau cuma makan biasa di tepi jalan atau di restoran asal baru aku mau."
Malah jadi Elmer yang kesal. Karena dirinya tak mungkin bisa makan di jalanan ataupun di restoran tanpa reservasi terlebih dulu atau tanpa menyewa restoran ketika makan malam. Selain karena takut bertemu dengan fans bar-bar nya, Elmer juga takut kalau efek trauma kumat lagi.
"Bagaimana kalau aku ajak kau ke taman saja?" usul Elmer lagi.
"Boleh," jawab Ela yang kali ini langsung setuju.
"Oke bagus, besok malam dandan yang cantik. Aku akan menjemputmu ke rumah."
"Tidak perlu, aku akan langsung datang kesana. Kirimkan saja alamatnya. Kita bertemu di tempat," jawab Ela.
Elmer tak menanggapi ucapan tersebut karena ingin menjemput Ela di rumah. Ia langsung pergi dari sana membuat Ela jadi bingung dengan sikap Elmer itu.
"Kenapa sih dengan laki-laki itu? Datang bikin kaget orang, pergi buat orang bingung. Heran!"
*
__ADS_1
*
TBC