
Niat hati pergi ke perusahaan ayahnya ingin membantu sang ayah, Elmer malah keasikan mengobrol dengan sepupunya hingga lupa pada tujuan awalnya.
Sampai jam makan siang pun tiba. Elmer keluar dari ruangan sepupunya kembali ke ruangan ayahnya.
Pintu ia buka sendiri, karena sepertinya sekretaris ayahnya pun sedang beristirahat. Di dalam ruangan sang ayah, sudah ada gadis kecil yang duduk sambil bersandar ke sofa.
Ketika melihat kehadiran Elmer, gadis kecil itu berteriak senang dan langsung berlari ke arah Elmer dan memeluk kaki Elmer.
"Papa, Naomi senang sekali," ucap gadis kecil itu dengan senyuman manisnya.
Pelukan Naomi pun terlepas, Elmer jadi menyamakan tingginya dengan Naomi. Ia pun tersenyum senang dan membalas ucapan Naomi.
"Papa juga senang bertemu Naomi."
Elmer mengatakan itu sambil mengusap puncak kepala Naomi.
Naomi pun menarik tangan Elmer untuk duduk di sofa. Naomi dengan manjanya duduk di pangkuan Elmer hingga membuat Tuan Sebastian geleng-geleng kepala.
"Papa sibuk sekali kerjanya. Padahal Naomi ingin sekali bertemu papa setiap hari. Bahkan ketika Naomi mengajak kakek untuk berkunjung ke rumah papa pun, ditolaknya."
Naomi lalu menatap wajah kakeknya dengan kesal.
"Maaf ya, pekerjaan papa memang banyak sayang. Tapi kalau mau main ke rumah papa, telepon papa dulu ya. Takutnya papa tidak ada di rumah. Nanti malah Naomi nya sedih," ucapnya sambil mengusap rambut Naomi.
Sikap lembut dan penyayang Elmer hanya ia tunjukkan pada Naomi. Kalau pada Tuan Sebastian, meski Elmer sangat menyayangi ayahnya, tapi ia kadang gengsi mengakuinya.
"Tapi, kenapa papa tinggalnya nggak bareng sama aku, kakek dan mama?" tanya Naomi dengan polosnya.
"Jaraknya jauh sayang," jawab Elmer. Mencoba untuk memberi pengertian pada Naomi.
"Em, begitu."
"Kakek, katanya kakek tadi mau pesan ayam bakar madu sama ice cream stroberi. Terus dimana makanannya? Cacing di perut Naomi sudah manggil-manggil terus minta diisi."
Tuan Sebastian hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah cucunya itu. Memang kalau sudah dijanjikan apapun. Cucunya tidak akan pernah lupa. Bahkan kalau Tuan Sebastian lupa, Naomi akan terus merengek sampai keinginannya terkabulkan.
"Masih di jalan. Sebentar lagi sampai. Cacing di dalam perutnya masih sanggup menunggu kan sayang?"
"Sebenarnya sih tidak, tapi karena ada papa. Jadi, tidak apa-apa deh," ucapnya lagi membuat Tuan Sebastian sedikit kesal.
Kehadiran Elmer selalu membuat dirinya merasa dinomor duakan oleh cucunya sendiri.
Tak lama kemudian, pesanan pun datang. Ketiga orang itu makan dengan lahap. Sesekali mereka tertawa karena tingkah lucu dari Naomi. Kehadiran Naomi seolah-olah jadi pengganti dari dua keluarga mereka yang sudah tiada.
Hingga sudah tiba waktunya Elmer untuk pulang. Naomi masih tidak mengizinkan Elmer untuk beranjak sedikit pun dari sana. Ia masih menggenggam tangan Elmer dengan jemari-jemari tangannya.
"Kakek, tolong bilang ke papa dong. Jangan pulang dulu. Naomi masih kangen gitu," ucapnya pada sang kakek.
"Itu papamu juga dengar."
"Ih, kakek menyebalkan!"
__ADS_1
Tuan Sebastian terkekeh pelan. Sebenarnya ia tahu maksud dari cucunya itu. Naomi ingin dirinya lah yang menahan Elmer.
"Kapan-kapan kita jalan-jalan ke kebun binatang. Papa janji, akan meluangkan waktu untuk Naomi."
Mendengar hal itu, mata Naomi langsung berbinar.
"Benarkah? Janji ya? Pokoknya Naomi akan tagih terus janji papa."
Elmer mengangguk.
"Baiklah, Naomi izinkan papa pulang."
Elmer pun pamit pulang dengan mengecup kening Naomi lalu melambaikan tangannya.
"Dah."
*
*
Di sebuah gedung yang akan dijadikan lokasi syuting drama bergenre thriller, Ela tengah menyiapkan segala macam pakaian yang akan dikenakan nantinya oleh semua pemain drama tersebut. Ia menyiapkannya dari jauh-jauh hari agar tidak keteteran di hari H nya.
Padahal kalau dipikir pakai logika, seorang pemilik brand fashion dan desainer terkenal cukup diam saja di kantornya tanpa harus ikut menyiapkan segala keperluan di lokasi syuting. Namun, itu bukanlah Ela. Wanita itu sangat suka bekerja.
"Kenapa harus repot-repot menyiapkan semuanya? Padahal kau tinggal meminta karyawanmu saja yang melakukan itu."
Ela menggeleng.
"Karyawanku sudah aku tugaskan untuk hal lain. Jadi, untuk hal sekecil ini mah, aku juga bisa melakukannya sendiri Sutradara Hong."
Dari banyaknya desainer yang ia kenal, cuma Ela yang begitu. Padahal Sutradara Hong sudah sangat bersyukur brand fashion dari Ela sudah menjadi sponsor di drama yang akan ia harap beberapa hari ke depan.
"Kau memang paling aneh."
Ela terkekeh pelan lalu melanjutkan pekerjaannya lagi. Sutradara Hong pun pergi dari sana untuk menyiapkan yang lainnya lagi.
Selesai menyiapkan semuanya, Ela pun pergi dari sana dan memasuki mobilnya.
Ela mengendarai mobilnya dengan santai. Bahkan ia memutar musik dan bernyanyi di dalam mobilnya. Sampai ia tidak sadar jika mobilnya kehabisan bahan bakar. Apalagi posisinya, mobil Ela berada di tengah jalan.
"Astaga! Ceroboh sekali kau Ela!"
Ela menepuk keningnya sendiri.
Mobil pun berhenti dan menimbulkan sedikit kemacetan disana. Ela keluar dari mobilnya dan terus mengatakan permintaan maaf pada pengemudi lainnya. Untungnya saja, ada orang baik yang mau membantu mendorong mobilnya ke pinggir jalan.
Alhasil, kini Ela berdiri di pinggiran jalan sambil meminta bantuan ke kembarannya. Rendra mengatakan untuk menaiki kendaraan umum saja, mobilnya ditinggal disana nanti akan ada orang suruhan Rendra yang mengurusnya.
Namun, Ela tak akan pergi sebelum orang suruhan Rendra datang.
Ela sudah seperti orang bingung, karena terus berjalan mondar-mandir di pinggiran. Sesekali ia melihat jam dari layar ponselnya.
__ADS_1
"10 menit sudah berlalu. Tapi, kenapa orang suruhan Rendra belum datang juga?"
Tiba-tiba, ada sebuah mobil yang berhenti di depan mobilnya. Ela terheran-heran dibuatnya. Ia merasa tidak percaya, jika orang suruhan Rendra memakai mobil yang bisa dibilang harganya sangat fantastis.
Dan ternyata, itu memang bukan suruhan Rendra melainkan Elmer yang sengaja berhenti disana ketika melihat Ela yang berjalan mondar-mandir.
"Jiah, hahhaa. Kenapa mobilmu? Mogok?" ledeknya.
"Sok tahu," jawab Ela dengan ketusnya.
"Tapi sepertinya bukan mogok ya?" tanya Elmer lagi.
Ela tak berniat untuk membalas ucapan Elmer itu. Ia berdiri sambil terus melihat ke ponselnya.
"Mumpung aku lagi baik, mau ikut menumpang di mobilku tidak?" tawar Elmer.
"Tidak, terima kasih," tolak Ela dengan lantangnya.
"Dasar wanita menyebalkan! Sudah diberi tawaran bantuan malah menolak."
Mata Ela langsung mendelik saat dikatakan wanita menyebalkan.
"Heh! Kau! Laki-laki kepedean! Daripada menjelek-jelekkan aku, lebih baik pergi saja sana!" usir Ela.
"Cih, menyesal aku turun."
Elmer pun pergi dari hadapan Ela dan memasuki mobilnya. Jika ia tidak melihat segerombolan wanita yang berlari ke arahnya, mungkin saja ia akan tetap berada disana menemani Ela. Karena ia sangat penasaran pada wanita itu. Bahkan sampai sekarang ia tidak tahu siapa wanita itu.
Mobil Elmer sudah melesat jauh. Segerombolan wanita pun mend*sah kecewa karena gagal untuk bertemu dengan idola mereka. Mereka malah memandangi Ela yang tadi dihampiri oleh Elmer.
"Kau siapa?" tanya salah satu dari mereka.
"Aku?" tanya Ela sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya."
"Aku tidak wajib menjawab kan?" tanya Ela.
"Kau, kenapa kau bisa dihampiri oleh Elmer? Kau bukan pacarnya kan? Karena setahu kami. Elmer itu masih melajang dan ingin fokus pada kariernya."
"Pacarnya? Cih! Terpikir saja tidak pernah. Kenal pun juga tidak," jawab Ela.
Mata dari setiap wanita yang ada disana jadi memicing mencoba memercayai ucapan Ela.
"Baiklah, kami percaya. Awas saja kalau nanti kau pacaran dengan aktor kesayangan kami!" ancam salah satu dari mereka.
Ela hanya menanggapinya dengan malas.
Segerombolan wanita itu pun pergi dan orang suruhan Rendra pun datang. Dengan begitu, Ela bisa dengan tenang menaiki kendaraan umum.
*
__ADS_1
*
TBC