Cinta Sang Istri

Cinta Sang Istri
Episode 15


__ADS_3

"Bisa, kamu ceritakan pada saya, apa yang terjadi Rat?" tanya Ryan kembali.


"Tidak ada apa-apa, Mas! dan Ratna Pun bingung ada apa dengan Mas Raka" jawab Ratna yang coba menjelaskan kepada Ryan.


"Lalu, kenapa kalian berdua bersikap sama hari ini?" tanya Ryan kembali yang secara tidak sadar membuat Ratna menangis.


"Sumpah, Mas! Ratna, tidak tahu apa-apa, justru Ratna pun bingung, sama Mas Raka, Mas!" jawab Ratna sambil menangis.


Ryan Pun terkejut saat mengetahui Ratna menangis.


"Apa, kamu mencintai Raka, Rat?" tanya Ryan dengan nada yang mulai lembut tidak dingin lagi seperti awal.


Ratna yang menyadari bahwa sikap Ryan telah kembali seperti saat dia bertemu pun mulai memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya.


"kalau itu, Ratna bingung, Mas!" jawab Ratna dengan suara yang sedih.


"kenapa kamu bingung?" tanya Ryan kembali.


"apa cinta itu, bisa disamakan dengan rasa terima kasih atau hanya sekedar balas budi saja, Mas?" Ratna menanyakan balik ke Ryan.


"maksudnya kamu, apa Rat? saya tidak mengerti!" jawab Ryan dengan wajah bingung.


Lalu Ratna Pun menceritakan semuanya kepada Ryan saat pertama kali dia bertemu dengan Raka.


Dian yang saat itu sedang berenang melihat Ratna yang menangis dan duduk berdampingan dengan Ryan. Tanpa adanya Raka, akhirnya mulai memikirkan sesuatu.


"Jangan-jangan, diantara mereka bertiga… Ada hubungan cinta segitiga!"


Itulah yang dipikirkan oleh Dian.


Dan dian pun, walaupun tipe gadis yang asal ceplas-ceplos saja. Tetapi, dia sangat pengertian kepada temannya.


Maka dari itu dia berenang agak mulai menjauh agar mereka berdua tidak merasa terganggu.


Setelah Ratna menceritakan semuanya itu kepada Ryan. Ryan perlahan-lahan mulai agak memahami kondisi yang dialami oleh Ratna.


"memangnya, Mas Raka tidak pernah cerita kepada, Mas?" tanya Ratna.


"Bukannya, Mas sudah cerita sama kamu! Raka Kan, memang orangnya agak tertutup.


Walaupun, Mas sudah kenal lama. Tetapi, Mas juga masih belum paham jalan pikirannya Raka, seperti apa!


Apalagi, untuk hal membantu orang! dia sudah pasti, tidak akan cerita apa-apa!


Karena baginya, bila ingin membantu seseorang, yah... bantu saja, tanpa harus ada alasannya.


Itu prinsip dia yang telah diajarkan oleh mendiang ayahnya sejak masih kecil." jawab Ryan yang menjelaskan kembali kepada Ratna.


"iya, Mas! masalah itu, Ratna sudah paham! tapi bagaimana dengan perasaan Ratna, Mas!" ucap Ratna.


"Apa kira-kira, tidak akan menyakiti hati, Mas Raka? bila Ratna mencoba untuk mencintainya, karena atas dasar rasa terima kasih!" Ratna melanjutkan kembali perkataannya.


Ryan Pun akhirnya terdiam sesaat setelah memahami kalimat itu...


"apa ada seseorang, yang kamu cintai, selain Raka?" tanya Ryan dengan Ragu-ragu.

__ADS_1


Ratna yang sambil menangis itupun mulai menguatkan hatinya dan memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya pada Ryan...


"kamu, Mas! saya mencintai kamu Mas!" jawab Ratna sambil terisak tangis.


Ryan yang mendengar secara langsung itu pun seakan-akan tidak percaya... Bahwa selama ini, ternyata mereka memang saling jatuh cinta saat pandangan pertama.


Tetapi mereka saling sungkan karena perasaan mereka masing-masing terhadap Raka.


Ryan, yang memang sangat menjaga hubungan baik persahabatannya.


Sedangkan Ratna, tidak mau menyakiti perasaan Raka, dikarenakan mempunyai hutang budi yang sangat tidak bernilai.


"maafkan saya, Rat! saya juga cinta sama kamu! saat pertama kali melihat kamu, Rat!


Tetapi, sekali lagi saya mohon maaf! sekaligus saya minta tolong sama kamu, dengan sangat!


Untuk benar-benar belajar mencintai Raka! mulai dari sekarang yah..." ucap Ryan.


Mendengar kalimat itu Ratna semakin menangis… Karena, tidak kuat menahan rasa sakitnya atas apa yang telah terjadi.


Ryan Pun, setelah mengucapkan kalimat itu tidak kuat menahan air matanya. Tapi Ryan berusaha dan terus berusaha untuk menguatkan hatinya...


Dilain sisi, Dian ternyata sudah selesai dengan berenangnya dan kembali ke kamarnya tanpa disadari oleh Ryan dan Ratna yang memang sedang fokus mengobrol...


Dian yang sudah berganti pakaian itu pun mencoba untuk menemui Raka yang berada di dalam kamarnya.


Tanpa mengetuk pintu, Dianpun langsung membuka pintu kamarnya Raka.


Raka yang saat itu memang sedang termenung akhirnya terkejut dengan kedatangan Dian...


"Iyah, tidak apa-apa! ada apa, memangnya, Dian?" tanya Raka.


"Ehm… Biar suasananya tidak kaku… kebetulan, ini juga sedang liburan, boleh tidak saya manggilnya 'Mas' ke Bapak!


Biar enak saja begitu… maaf yah, Pak! bila tidak sopan" ucap Dian dengan nada menggodanya, sambil berjalan mendekati Raka yang memang sedang duduk di kasur.


"Iya, tidak apa-apa! bila itu memang maumu!" jawab Raka dengan santainya.


"Beneran nih? makasih yah, Pak! Eh… Mas! maksudnya!" ucap Dian dengan pura-pura lupa padahal ingin menggoda Raka saja agar mau tersenyum.


"Iya, Dian! beneran… Saya juga minta maaf, yah... Saya lupa, kalau kita ini sedang liburan!" jawab Raka yang mulai tersenyum.


"Nah… begitu dong, Mas! senyum Mas'kan, bagus! hehehe..." ucap Dian dengan khas bercandanya.


"Dian… Dian… bisa saja kamu!" jawab Raka sambil tersenyum.


"Yah sudah, yuk Mas! kita keluar, jalan-jalan. Dari pada, diam saja dikamar!" ajakkan Dian sambil mengulurkan kedua tangannya kepada Raka.


Lalu Rakapun menyambutnya dengan senang dan akhirnya mereka keluar kamar bersama-sama.


Sambil berjalan bergandengan tangan Dian dan Raka Pun mengobrol...


"Ryan lagi sama Ratna?" tanya Raka singkat.


"iya Mas! tadi sih, lagi berenang..." jawab Dian.

__ADS_1


"ohh... baguslah, bila mereka senang!" ucap Raka.


"iya, Mas!" jawab Dian.


Lalu mereka berjalan bersama menuju minimarket...


Rakapun menyuruh Dian untuk membeli makanan ringan yang cukup lumayan banyak. Tentu saja dengan senang hati Dian menerimanya.


Setelah beberapa saat kemudian di tempat kasir saat Raka dan Dian ingin membayar belanjaannya.


Dian sedikit terkejut dengan beberapa botol minuman keras yang dibeli oleh Raka.


Lalu Dianpun mempunyai ide dan memberikan kode untuk Raka agar membeli juga alat kontrasepsi (******).


Sontak saja Raka terkejut, sekaligus malu dengan Mbak kasir yang sedang melayani mereka berdua sambil senyum-senyum.


Karena, Mbak kasir ini paham dengan kode yang diberikan Dian untuk Raka.


Akhirnya Mbak kasir ini mengambil alat kontrasepsi tersebut dan langsung memasukkannya kedalam kantong belanjaan mereka berdua sambil senyum-senyum.


"Makasih yah Mbak..." ucap Dian dengan senang saat mengetahui bahwa Mbak pelayan yang di minimarket ini paham dengan maksudnya.


"Iya, sama-sama, Kak!" jawab Mbak kasir sambil senyum-senyum.


Raka Pun yang mengetahuinya hanya diam saja dan membayar semuanya.


Setelah diluar minimarket dan berjalan kembali ke penginapan mereka.


"Buat apa sih! kamu beli yang begituan?" tanya Raka kepada Dian.


"Yah, buat jaga-jaga saja, Mas! Lagian, Mas juga buat apa coba, beli minuman sebanyak itu? hayooo..." jawab Dian sambil berbalik bertanya menggoda kepada Raka.


"Pikiranmu macam-macam saja sih!" ucap Raka sambil menepuk dahinya Dian.


"Aduh… sakit, Mas!" jawab Dian dengan nada yang sangat menggoda.


"Lagian, kamu sih! Emangnya, kamu sudah biasa yah, seperti ini?" tanya Raka.


"Yah, tidak juga sih, Mas! hanya nonton di tv saja begitu!hehehe..." dengan polosnya Dian menjawab.


"Mmmmhhhh.... maaf Dian, saya mau bertanya tentang pribadi, boleh gak?" tanya Raka.


"Tenang saja, Mas! saya masih perawan kok! masih segel! beneran deh!" jawab Dian seolah tanpa mempunyai beban.


Mendengar jawaban itu, Raka yang tadinya sedikit agak marah atas kelakuan Dian jadi sedikit agak terhibur dengan sikap Dian yang memang ceplas-ceplos itu.


"Kenapa kamu langsung menjawab itu,'kan belum saya tanya!" ucap Raka yang dicampur sedikit dengan tawa karena tidak kuat menahannya.


"Tapi, Mas juga pasti ke arah sanakan pertanyaannya! soalnya, pakai kalimat maaf dulu sih... sebelum bertanya! Dah gitu, masalah pribadi lagi, katanya tadi! Iya,'kan... Iya... hayo, ngaku?" jawab Dian sambil menggoda.


Raka Pun hanya bisa mengangguk saja sambil tertawa.


Lalu kemudian mulai mengambil belanjaan yang dibawa sejak tadi oleh Dian sendirian.


Karena memang itu belanjaan yang lumayan banyak.

__ADS_1


Awalnya Raka tidak mau membantu membawakan belanjaan itu karena sedikit kesal dengan perilaku Dian tapi setelah mendengar jawaban-jawaban dari Dian yang terkesan polos… asal... dan ceplas-ceplosnya itu… membuat Raka sedikit terhibur dan akhirnya mulai mengerti sedikit demi sedikit sikapnya Dian ini.


__ADS_2