Cinta Sang Istri

Cinta Sang Istri
Episode 42


__ADS_3

Belum sempat Ryan bertanya atau membalas senyuman dari Rani itu, tiba-tiba Rani terjatuh lemas.


Dan dengan sigapnya Ryan meraih tubuh Rani itu agar tidak sampai terjatuh ke lantai.


Lalu dengan perlahan Ryan mengangkat tubuh Rani untuk dibaringkan ke tempat tidur Rani yang hanya berupa kasur lantai.


Setelah Ryan membaringkan tubuh Rani yang lemas tak berdaya itu ditempat tidurnya. Ryan langsung berdiri kembali sambil mengamati tubuh Rani dengan ekspresi wajah yang sangat bingung.


Tak lama kemudian suara handphonenya Ryan pun berbunyi dan setelah melihatnya ternyata itu panggilan dari Raka.


"Hallo, yan!" Suara Raka dari panggilan tersebut.


"Iya, hallo, Ka!" Ryan yang menerima panggilan itu dari Raka sambil menengadahkan kepalanya karena ia sempat hampir mengeluarkan air matanya.


"Kamu di mana?" Tanya Raka dalam panggilan tersebut.


Lalu Rani pun sedikit tersadar dan mendengarkan Ryan yang menyebutkan nama Raka. Tangan Rani berusaha untuk menarik bagian ujung celana Ryan agar Ryan melihat ke arah dirinya.


Setelah Ryan sadar ada yang menarik-narik celananya, Ryan pun lalu melihat ke arah Rani.


Rani dengan wajah pucat dan tubuh yang lemas itu, berusaha memberikan isyarat dengan jari telunjuknya yang ia letakkan di bibirnya, seolah-olah meminta Ryan agar tidak memberitahukannya pada Raka tentang kondisinya yang sekarang.


Ryan yang bingung pun akhirnya mengikuti kemauannya Rani. Walaupun dirinya sendiri tidak tega melihat Rani seperti itu, tapi karena Ryan sudah mengenal Rani dan seperti ada chemistry diantara mereka. Mau tidak mau Ryan pun memenuhinya dengan berat hati.


"Aku lagi lihat-lihat rumah dulu, yang nanti akan aku beli!" Jawab Ryan pada Raka dalam panggilan tersebut.


"Emangnya gak bisa hari libur apa?" Tanya Raka kembali.


"Udahlah, nanti saja kita bahasnya! Oh iya, Ka! Hari ini mungkin aku agak telat yah!" Ucap Ryan.


"Yah sudah kalau begitu! Hati-hati yah!" Pungkas Raka.


Lalu panggilan diantara mereka pun berakhir.


Ryan segera mengantongi ponselnya kembali lalu kemudian segera duduk disamping Rani.


"Kita ke rumah sakit sekarang, yah!" Ajakan Ryan pada Rani.


Namu Rani hanya menggelengkan kepalanya saja lalu menunjuk pada sesuatu di meja dalam kamarnya.


"To-long am-bilkan tas Ra-ni, Mas!" Pinta Rani agak terbata-bata.


Ryan langsung beranjak dari tempat duduknya kemudian mengambil tas Rani lalu kembali duduk lagi di tempat semula.


Lalu Rani menyuruh Ryan untuk mengambilkan obatnya di dalam tas tersebut, Ryan mulai membuka dan mencari obat di dalam tas tersebut sesuai instruksi dari Rani.


Setelah mendapati apa yang ia cari, Ryan langsung memberikannya pada Rani untuk diminumnya.


Kemudian, setelah Rani meminum obat miliknya yang dibantu oleh Ryan itu langsung memejamkan matanya kembali untuk beristirahat.


Ryan yang hanya melihatnya pun tak tega untuk meninggalkannya. Lalu Ryan memutuskan untuk menemani Rani sampai Rani terbangun.


Setelah Rani yang mulai tertidur Ryan mulai beranjak dari tempat duduknya lalu mengamati seluruh isi kamar Rani tersebut.


Ryan pun mulai membuka jas nya dan melonggarkan sedikit dasinya karena suhu kamar Rani yang mulai agak terasa panas.


Lalu Ryan bergegas ke arah jendela untuk membukanya agar ada udara yang masuk kedalam kamar tersebut.


Di Dalam kamar Rani memang hanya ada kipas gantung saja, itupun berukuran kecil dan tidak terlalu bisa membuat suhu di kamar itu menjadi dingin ataupun sejuk.


Setelah Ryan membuka jendela lalu Ryan melihat tas milik Rani yang tadi ia ambil dan teringat sesuatu saat ia mencari obat yang diminta oleh Rani. Ia merasa melihat sebuah amplop di dalam tas tersebut.

__ADS_1


Lalu dengan rasa penasarannya, Ryan membuka kembali tas tersebut dan mengambil sebuah amplop yang ada logo klinik yang tidak terlalu jauh dari tempat itu.


Kemudian Ryan membukanya lalu membaca isi dalam surat tersebut.


Itu adalah surat keterangan hasil medical check up Rani hari kemarin yang lupa Rani simpan dan malah Rani tinggalkan di tas itu.


Betapa Ryan terkejutnya setelah membaca surat itu, lalu ia pun lantas beranjak dari kamarnya Rani untuk pergi ke tempat klinik tersebut.


Setelah Ryan sampai di klinik tersebut, Ryan pun mengikuti prosedur dalam klinik itu untuk menunggu antrian.


Beberapa menit Ryan menunggu akhirnya giliran ia yang dipanggil dalam ruang periksa itu.


Lalu Ryan pun langsung menanyakan keterangan dari hasil medical check up nya Rani yang ia bawa itu.


Setelah dokter menjelaskan panjang lebar dan memberikan solusi terbaiknya. Ryan segera pulang kembali ke kosannya Rani namun ia sempat mampir dahulu ke rumah makan untuk membeli makanan dan juga ke toko elektronik untuk membeli sebuah kipas angin.


Setelah membeli semua yang ia butuhkan, Ryan kembali lagi ke tempat kosannya Rani dan menemani Rani sampai Rani terbangun.


.


.


.


.


.


Jam 12.30 siang,


"Ehhโ€ฆ" Rani yang mengerang dalam tidurnya.


Ryan yang sempat tertidur dalam posisi duduk pun tersadar karena suara dari Rani.


Kemudian tak lama, Rani pun mulai terbangun dari tidurnya dan menatap ke arah Ryan yang sedang tertidur kembali dalam posisi duduknya setelah mengompres Rani kembali.


Rani yang kini mulai pulih dan wajahnya yang kembali normal tidak pucat lagi seperti saat ia merasakan sakit akan penyakitnya itu. Mencoba untuk bangun dari tidurnya dan mulai duduk dikasurnya.


Lalu perlahan ia membuka tas miliknya dan mencari sesuatu yang baru ia ingat itu.


"Cari apa? Ini bukan?" Ucap Ryan yang tiba-tiba mengejutkan Rani sambil memegang sebuah amplop yang memang sedang dicari oleh Rani.


Rani yang terkejut karena rahasianya yang ia coba tutup rapat itu akhirnya diketahui juga oleh Ryan, dan Rani tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan hanya bisa diam menunduk malu.


"Apa tujuan kamu merahasiakan ini semuanya?" Tanya Ryan dengan sedikit emosi.


Namun Rani hanya diam seribu bahasa dan masih pada posisi yang sama dan kepala yang masih menunduk malu.


"Jawab, Ran! Atau saya akan bicarakan ini semuanya pada Raka!" Ucap Ryan kembali.


Setelah mendengar itu, yang ternyata Ryan belum menceritakannya pada Raka membuat Rani mengangkat kepalanya lagi dan melihat ke arah Ryan sambil tersenyum bahagia.


Ryan yang melihat senyum Rani bukannya ikut bahagia tapi malah menjadi marah kepada Rani.


"Kamu maunya apa, Ran!" Ujar Ryan dengan nada suara yang mulai meninggi.


"Rani maunya, Mas tidak bilang apa-apa kepada Mas Raka." Jelas Rani dengan santainya dan seakan tidak memperdulikan Ryan yang sedang marah itu.


Lalu Ryan pun terkejut mendengar itu dari Rani yang dengan santainya sambil memperhatikan Rani yang mulai beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah kamar mandi.


"Kamu mau apa, Ran?" Tanya Ryan kembali yang masih bingung dengan sikapnya Rani itu.

__ADS_1


"Mau pipis, mau ikut emangnya?" Jawab Rani sambil meledek ke Ryan.


Ryan yang kembali terkejut pun hanya bisa mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar.


Lalu, setelah Rani keluar dari dalam kamar mandinya, ia kembali duduk di tempat semulanya sambil tersenyum memandang ke arah Ryan.


"Pake senyum-senyum segala lagi!" Ujar Ryan yang masih dengan rasa kesalnya.


"Sabar.. sabar, Mas!" Ucap Rani dengan lembut untuk menenangkan perasaannya Ryan.


"Apanya yang harus sabar! Orang pertanyaanku belum dijawab kok!" Sahut Ryan.


"Iyaโ€ฆ iyaโ€ฆ Rani akan jawab! Tapi yang penting, Mas mau janji dulu yah sama Rani!" Pinta Rani dengan bercandanya.


Ryan hanya geleng-geleng kepalanya saja seolah ia tak percaya akan penyakit serius yang diderita oleh Rani ini.


"Gimana, mau gak?" Tawar Rani.


"Terserah kamulah! Pusing kepala saya melihat kalian berdua!" Ucap Ryan.


Rani hanya tertawa kecil saja menanggapi ucapan dari Ryan tersebut.


Lalu Rani pun mulai bercerita tentang penyakitnya itu yang ia sembunyikan karena ia tidak mau lagi ada yang bersedih ataupun susah karena dirinya.


Cukup Ibunya Rani saja yang terlihat susah karena berjuang untuk dirinya saat dulu. Rani tidak mau lagi melihat orang yang ia sayangi menderita ataupun berjuang untuk dirinya lagi.


Biarkan Rani sendiri yang berjuang untuk dirinya sendiri.


Itu penjelasan singkat Rani kepada Ryan. Walaupun itu tidak diterima oleh Ryan tapi Ryan tidak bisa berbuat banyak karena itu adalah prinsip hidup seseorang dan ia tidak bisa merubah itu ataupun ikut campur dalam masalah itu.


Setelah itu Ryan mengajak Rani untuk makan yang telah ia beli sejak tadi agar Rani ini tidak lagi terlambat untuk minum obatnya.


Karena, Rani bisa menjadi seperti itu tadi pagi karena efek dari semalam karena ia telat minum obatnya.


Dan sekarang Ryan sudah mengetahui semuanya tentang penyakit Rani yang dideritanya dan penyebab kejadian tadi pagi itu.


Saat mereka selesai makan handphone Rani pun berdering dan setelah di lihat itu adalah panggilan dari Raka.


"Halo, Mas!" Rani mengangkat panggilan tersebut.


"Kamu dimana?" Tanya Raka di panggilan tersebut.


"Biasa, Mas! Rani lagi di toko!" Jawab Rani.


"Ini Mas lagi di depan toko kamu!" Ucap Raka.


Mendengar ucapan itu Rani sontak terkejut laluโ€ฆ.


.


.


.


.


.


๐ŸŒป๐Ÿต๏ธ๐ŸŒธ๐ŸŒบ๐ŸŒท๐Ÿฅ€๐ŸŒน๐ŸŒผ๐ŸŒน๐Ÿฅ€๐ŸŒท๐ŸŒบ๐ŸŒธ๐Ÿต๏ธ๐ŸŒป


** Hai readers, ini karya pertama ku. Benarยฒ yang pertama. So please kritik dan saran kalian selalu ku nanti. Jangan lupa ๐Ÿ‘ like kalian juga ku nanti.

__ADS_1


Terima kasih,๐Ÿ˜๐Ÿ™๐Ÿ˜!


__ADS_2