Cinta Sang Istri

Cinta Sang Istri
Episode 39 "Tiga Hari Sebelum Pernikahan"


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak makan siang bersama Dian dan membuat perasaan Dian menjadi bahagia karena semenjak hari itu Dian secara tidak langsung sudah menjadi bagian dari keluarga kecilnya Raka.


Di kantor,


"Tok… tok…"


"Iya, masuk!" Sahut Raka dari dalam ruangannya.


"Maaf, Mas! Sudah jam 12!" Ucap Ratna yang berdiri didekat pintu.


"Oh, oke! Tunggu yah!" Seru Raka.


Lalu Ratna menutup kembali pintu ruangan Raka.


Tak berselang lama, Raka pun keluar dari ruangannya dan berjalan menghampiri tiga sahabatnya yang sudah menunggu Raka di depan lift.


"Ting!"


Segera mereka memasuki lift tersebut lalu turun ke lantai satu.


Di lain tempat,


Rani yang sedang duduk didalam sebuah angkutan umum sedang menuju ke suatu tempat.


Setelah mobil angkutan umum yang dinaiki oleh Rani ini berhenti didepan sebuah klinik.


Lalu Rani pun mulai turun dari angkutan umum itu, setelah membayar ongkos perjalanannya. Rani segera berjalan menuju pintu klinik tersebut.


Rani memasuki klinik tersebut lalu mengambil nomor antrian dan duduk di bangku ruangan tunggu untuk menunggu nomor urutnya dipanggil.


Sambil menunggu Rani pun mengeluarkan handphone dari tasnya dan mulai melihat-lihat layar pada ponsel miliknya.


Rani yang melihat ada pesan masuk dari Raka langsung membukanya dan mulai membacanya.


Dalam pesan tersebut Raka menanyakan keberadaan Rani saat ini. Rani hanya menjawab bahwa dirinya sekarang sedang berada di kosannya dan sambil mendengarkan musik.


Lalu tak lama Raka mengirim pesan lagi untuk Rani yang mengajaknya untuk makan malam bersama lagi nanti. Rani pun menjawab 'iya' dalam pesannya.


Tak lama berselang nomor urut Rani pun dipanggil dan Rani segera memasukan handphonenya kembali ke dalam tas lalu berjalan menuju sebuah ruang periksa.


"Siang, Dok!" Sapa Rani pada Dokter setelah memasuki ruang periksa.


"Siang, Mbak! Mari, silahkan duduk, Mbak Rani!" Sahut Dokter itu yang sudah mengenal Rani dan mempersilahkan Rani untuk duduk.


Lalu Rani duduk dikursi yang ditunjukkan oleh Dokter tersebut.


"Bagaimana, Dok! Hasil medical check up, saya sekarang?" Tanya Rani.


"Saya mohon maaf, Mbak Rani! Hasilnya masih sama seperti sebelumnya. Hanya saja untuk penyakit Mbak Rani, saya lihat justru malah menambah levelnya.


Obat yang saya berikan itu, bukan 100% untuk menyembuhkan, Mbak! Tapi, obat itu hanya untuk menekan rasa sakit yang Mbak alami.

__ADS_1


Saya menyarankan untuk penyakit Mbak Rani ini, agar segera dilakukan tindakan operasi, Mbak! Sebelum terlambat!" Jelas Dokter itu kepada Rani.


"Apa selain operasi tidak ada cara lain lagi, Dok?" Tanya Rani kembali.


"Untuk dunia medis saat ini masih belum ada, Mbak! Tapi kalau penyembuhan secara herbal saya juga kurang tahu yah, Mbak! Maaf!" Ucap Dokter.


"Yah sudah, Dok! Kalau begitu, saya permisi dulu yah!" Pamit Rani pada Dokter itu.


Lalu Rani keluar dari ruangan itu dengan raut wajah yang sedih tapi tidak sampai membuatnya sampai menangis ataupun mengeluarkan air matanya walaupun hanya sedikit.


Rani ini termasuk wanita yang tegar dalam menghadapi semua cobaan yang dideritanya seorang diri tanpa satupun dari pihak keluarganya yang mengetahui penyakit Rani ini termasuk sahabat dan juga kekasihnya yaitu Raka.


Setelah keluar dari klinik tersebut, Rani langsung berjalan ke pinggir jalan untuk menyebrang jalan dan menunggu sebuah angkutan umum yang menuju ke arah kosannya.


Kembali pada Raka,


Yang saat ini sedang makan siang bersama dengan ketiga sahabatnya itu.


"Semuanya sudah siap, Ka?" Tanya Ryan pada Raka di sebuah restoran cepat saji.


"Kata Rani sih sudah! Pak Rohim yang menyiapkan semuanya disana!" Jawab Raka sambil memakan kentang goreng.


"Kenapa tidak di sini saja, Mas! Nikahnya?" Tanya Dian pada Raka.


"Panjang ceritanya!" Sahut Ratna.


Raka hanya tersenyum saja.


"Kalau kamu kapan? Lakimu dikenalin sama kita-kita, Dian!" Tanya Ryan pada Dian.


Lalu mereka pun melanjutkan kembali obrolan sampai waktu istirahat siang habis dan kembali ke kantor untuk mengerjakan tugasnya masing-masing.


Sore hari,


Raka yang sedang membereskan berkas-berkasnya karena ingin segera pergi bersama Rani yang tadi siang sudah ia janjikan.


Saat Raka sudah berada di lobby bersama Ratna dan Ryan tiba-tiba Dian menghampiri mereka dari arah pintu lobby.


"Maaf, Mas! Mas, hari ini ada janjikan sama Mbak Rani?" Tanya Dian pada Raka.


"Iya, memangnya kenapa, Dian?" Tanya Raka balik pada Dian.


"Dian boleh ikut lagi gak?" Pinta Dian dengan mata menggoda layaknya seekor kucing yang sedang meminta sesuatu.


Dian memang mengetahui kalau Raka malam ini akan bertemu dengan Rani, begitu juga dengan Ratna dan Ryan.


Karena saat tadi siang Raka memang mengatakannya pada ketiga sahabatnya itu.


"Mau apa memangnya? Kamu mau nangis lagi?" Sahut Ryan dengan khas candanya.


"Ahh, Mas Ryan! Suka begitu deh sama, Dian. Boleh yah, Mas! Please…" Dian memohon pada Raka.

__ADS_1


"Yah, sudah ayo ikut!" Ucap Raka santai.


"Yyeeeehhhhh!!!" Seru Dian dengan senangnya lalu menggandeng tangan Raka.


Ryan yang tampaknya tidak suka dengan hal itu hanya memasang wajah betenya saja.


Lalu mereka pun menaiki mobil masing-masing. Ratna seperti biasanya bersama Ryan untuk pulang ke rumahnya Raka.


Sedangkan Raka bersama Dian dalam satu mobilnya menuju tempat kosannya Rani untuk menjemput Rani.


Di Dalam mobil, Raka teringat sesuatu hal dan akhirnya Raka mengatakannya pada Dian yang saat itu tidak jadi ia sampaikan.


Raka meminta pada Dian agar dapat mengetahui alasan yang sebenarnya dari Rani mengenai keinginan Rani untuk menikah di kampung dan seakan-akan pernikahannya ini harus ditutupi.


Dian yang akhirnya mengetahui alasan kenapa Raka dan Rani ini mengadakan nikahnya di kampung karena itu adalah permintaan dari Rani sendiri.


Walaupun Dian juga sempat tidak percaya dengan cerita dari Raka namun karena Dian yang kini perlahan mulai mengenali sosok Raka. Akhirnya Dian mau untuk membantu Raka.


Karena memang gak mungkin kalau Raka ini menyuruh Ryan ataupun Ratna. Karena mereka berdua sudah tahu dan menyerah dengan keinginan Rani yang kuat.


Oleh sebab itu Raka menyuruh Dian untuk mencari tahu karena Raka ini beranggapan Rani mau bila cerita sama Dian dengan alasan tertentu.


Beberapa jam perjalanan akhirnya mereka sampai di depan kosannya Rani. Lalu seperti biasanya Raka menelpon Rani untuk keluar dari kosannya.


"Kenapa tidak kekamarnya saja, Mas?" Tanya Dian dengan polosnya.


"Tidak! Di telpon saja sudah cukup! Lagi pula itukan kamarnya, kita belum sah jadi kita harus saling menjaga." Tutur Raka.


"Enaknya punya pacar kaya, Mas yah." Gumam Dian.


"Apa Dian?" Tanya Raka.


"Ehm… hahaha, gak apa-apa, Mas! Itu Mbak Rani!" Sahut Dian sambil menunjuk ke arah Rani yang sedang berjalan menuju mobil Raka.


Lalu Dian pun segera keluar dari mobil untuk menyambut Rani.


"Mbak Rani!" Ucap Dian dengan nada senangnya dan langsung memeluk Rani.


Rani sedikit terkejut dengan kehadiran Dian yang bersama dengan Raka itu pun mulai mengeluarkan senyum manisnya untuk Dian.


"Dian! kamu ikut?" Tanya Rani.


"Iya, maaf yah, Mbak! Soalnya Dian kangen banget sama, Mbak! Jadinya Dian yang maksa Mas Raka agar diizinkan ikut! Gak apa-apa 'kan, Mbak?" Tutur Dian.


"Iya, tidak apa-apa! Yuk masuk, kita jalan!" Sahut Rani.


Lalu Dian menyuruh Rani untuk duduk didepan bersama Raka yang sebelumnya Dianlah yang duduk disana.


Rani pun mengikuti keinginan Dian dan memasuki mobil sambil senyum menggoda Raka.


🌻🏵️🌸🌺🌷🥀🌹🌼🌹🥀🌷🌺🌸🏵️🌻

__ADS_1


** Hai readers, ini karya pertama ku. Benar² yang pertama. So please kritik dan saran kalian selalu ku nanti. Jangan lupa 👍 like kalian juga ku nanti.


Terima kasih,😁🙏😁!


__ADS_2